Paud Non Formal Pentingkah?

Oleh : Endang Puji Astuti

Di hari guru nasional tahun ini rasanya hal yang membanggakan karena anggota Himpaudi Bojonegoro akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan upacara di alun-alun kota Bojonegoro dengan mengerahkan lebih dari 250  pendidik paud non formal.  Meski dalam PP Nomor 19 tahun 2017 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, ternyata pendidik paud non formal belum termasuk guru bahkan lembaga Kelompok Bermain dan Pos Paudpun tak termasuk didalamnya. Untuk Paud hanya pendidik TK yang diakui sebagai guru. Akan tetapi pendidik paud non formal siap untuk berpartisipasi dengan menghadiri undangan dari PGRI.  Dengan undangan dari PGRI tersebut kami merasa sudah mendapat pengakuan bahwa sebenarnya pendidik paud non formal juga layak disebut guru dan layak juga mendapatkan kesejahteraan seperti paud formal. Semoga pengambil kebijakan dari pusatpun mengakui hal tersebut.
Kalau diperhatikan dengan seksama sebenarnya secara mutu, guru paud non formal siap berkompetisi dengan guru paud formal.
Metode mengajar sama dan perangkat pembelajaran sama. yang membedakan hanya lama kegiatan belajar dan usia murid.  Usia murid non formal lebih rentan.  Salah sedikit penanganan akan berakibat fatal untuk masa selanjutnya.  Untuk itu kedepannya hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh para pengambil kebijakan.  Kalau memang paud dianggap penting kualitas guru harus selalu ditingkatkan.  Akan tetapi kalau ingin mendapat guru yang berkualitas tanpa diimbangi dengan kesejahteraan yang layak.  Maka seperti saat ini, tidak semuanya guru paud itu berkualitas. Meski pemerintah sudah sering melaksanakan pelatihan, diklat, workshop dsb yang tanpa diimbangi peningkatan kesejahteraan akan sia-sia. Karena harus diakui sampai saat ini sebenarnya yang benar-benar relawan paud masih bisa dihitung dengan jari.  Lainnya karena tak ada kerjaan, belum dapat kerjaan dsb.  Pada kenyataannya para guru paud khususnya non formal. setiap ada lowongan pekerjaan yang penghasilan lebih menjanjikan mereka selalu ikut daftar.  Itu artinya mereka masih belum mantap untuk menjadi guru paud.
Kalau hal ini pemerintah masih saja  kurang perhatian terhadap nasib guru paud. Maka untuk mencetak guru yang lebih berkualitas akan jauh dari harapan.
Dan pemerintah hanya buang-buang dana saja, karena meskipun mereka sering dikirim pelatihan akan tetapi bila ada pekerjaan yang pendapatannya lebih tinggi dengan senang hati mereka akan meninggalkan paud untuk menuju pekerjaan baru yang pendapatannya lebih menjanjikan. Akhirnya guru paud akan selalu tambal sulam, datang dan pergi.
Dalam HUT Guru Nasional ini harapan kedepan pemerintah jangan hanya menuntut mutu paud tapi kewajiban utk memberikan kesejahteraan harus segera direalisasikan.  Tidak seperti saat ini dan sebelum-sebelumnya, insentif dari tahun ke tahun bukannya meningkat akan tetapi nominal cenderung turun dan yang mendapatkannyapun lebih sedikit. Dalam BOP Paudpun cuma untuk anak didik dan lembaga. Kalau sudah begitu benarkah Paud itu dianggap penting?

Penulis Guru PAUD Bojonegoro

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.