Hari Guru: Riwayatmu Dulu sampai Kini

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

Hari guru tepat pada 25 November 2017. Hari Guru sontak diperingati di mana-mana. Paling banyak postingan di media sosial. Facebook, tweeter, instagram, dan WhatApp (WA). Bertaburan ucapan selamat hari guru. Guru itu sangat tinggi dalam arti tingkatan profesi. Sudah banyak pernyataan, bahwa Guru sebagai profesi sebelum profesi lainnya.
Secara proses, memang betul. Presiden dulu juga diajar guru. Para menteri dulu juga diajar guru. Para pejabat tinggi negara dulu juga diajar guru. Bahkan, para dokter, arsitek, pengacara, hakim, dan para profesi lain, mereka semua juga karena guru. Tanpa guru, mereka tidak mungkin ada. Logika ini sudah sering diungkapkan oleh siapa saja.
Kini guru beda dengan guru zaman dahulu. Riwayatnu dulu beda dengan era digital saat ini. Dulu, sekolah akrab dengan asbak dan gerip. Murid-murid menggunakan asbak dan gerip untuk menulis ide-ide guru. Jelas, saat itu, semua ide yang tertulis tidak bisa disimpan di dalam catatan. Setiap hari, asbak bersih dan rapi kemudian dipakai lagi. Ini secara terus menerus hingga meghasilkan anak didik sebagai hasil proses pendidikan oleh guru.
Guru saat itu berjuang sangat keras dan hebat. Dengan asbak dan gerip pun, anak didiknya sekarang sudah jadi pejabat tinggi. Jelasnya, para pensiunan pejabat tinggi dan profesi hebat lainnya juga akibat guru-guru dengan asbak dan gerip itu.
Perjuangan guru saat itu benar-benar hebat. Setelah asbak dan gerip, dilanjut dengan kertas buram. Dengan kertas buram itu, buku sudah dimulai. Anak-anak didik sudah mulai bisa menyimpan catatan-catatan ide-ide guru di bawa pulang. Dengan kertas buram itu, semua ide guru bisa tersimpan dan abadi di dalam catatan.
Waktu berganti terus. Waktu berjalan kencang. Model guru pun berganti dalam penampilan. Ada mesin ketik manual. Saat itu, mesin ketik sudah mulai dipakai oleh guru dan beberapa siswa. Tugas-tugas guru dan siswa pun masih bisa menggunakan mesin ketik. Lebih berganti sarana dari kertas buram menuju mesin ketik khususnya guru dan siswa yang berada.
Dari mesin ketik, kemudian muncul spidol dan papan putih (white board). Guru-guru sudah mulai menggunakan sarana itu. Mulailah, papa tulis bertuliskan warna warni. Spidol pun menari-nari memberi rangsangan suasana belajar di ruang kelas. Sedikit demi sedikit, spidol ini sudah berganti dan selingan dengan powerpoint.
Tidak sedikit guru-guru di negeri sudah mulai dengan menggunakan power point. Laptop dan komputer sudah mulai menjamur di sekolah-sekolah. Bahkan ada pula pernah anggaran khusus beli laptop untuk guru-guru. Namun, tidak jarang pula guru-guru ada yang masih belum terampil memanfaatkan teknologi komputer dan laptop dalam power pointnya.
Cepat derasnya arus informasi sampai saat ini. Teknologi berjalan lebih cepat dari kondisi semua guru seluruh negeri. Abad teknologi informasi cepat dalam penetrasi. Pendidikan secara dinamis berubah jadi teknologi informasi (IT). Dengan TI ini, banyak tantangan bagi guru di negeri ini.
Cepat dan sangat gesit perkembangan TI ini. Namun, pada 1970-an, Alvin Toffler sudah meramalkan. Bahwa, tiga abad cepat melesat. Pertama, abad agraris. Saat itu asbak dan gerip serta kertas buram masuk di dalam abad ini di negeri kita. Meski, di negeri lain sudah lebih maju.
Kemudian, diikuti abad industri. Percepatan industri, sebenarnya, di negeri maju dimulai zaman renaissance di Inggris. Namun, bangsa kita baru sadar dampaknya akhir 1980-an dan 1990-an. Di negeri sendiri, di sekolah-sekolah zaman itu (1980-an dan 1990-an) masih awam dengan teknologi komputer. Padahal, di negeri maju, multimedia sudah mulai diaplikasikan.
Nah, sekarang zaman informasi abad 21 ini diawali pada 2000-an. Sekarang, 17 tahun setelah itu, kita masuk dalam dunia digital. Mutlimedia dan sarana pembelajaran dunia maju sudah bergelimang dengan kecekatan pemanfaat teknologi informasi ini.
Pergerakan itu masih menjadi beban bagi perkembangan guru seluruh negri. Pergerakan ilmu dan teknologi lebih cepat daripada kondisi pendidikan di lapangan. Di sinilah, sebuah tantangan besar yang membutuhkan pemimpin-peminpin negeri yang besar pula.
Untuk tidak terseret oleh kemajuan ilmu dan teknologi, maka perlu gebrakan nyata di negeri ini. Pertama, semua anggaran negera diprioritaskan untuk pendidikan dan perkembangan ilmu serta teknologi. Artinya, semua pemimpin mulai dari pusat ke daerah perlu memiliki persepsi sama. Semua anggaran negara lebih diutamakan untuk pendidikan.
Sudah menjadi kenyataan. Banyak fakta, bukti, dan pengalaman empiris, bahwa negara maju itu karena perkembangan ilmu dan teknologi. Kemudian, fakta ini disejajarkan pula dengan mutu sumber daya manusianya (SDM) secara seimbang. Tanpa pemimpin yang bervisi pendidikan, maka negeri ini senantiasa tertinggal. Perlu diingat, profesi guru itu sumber dari segala profesi lain. Selamat hari guru, riwayatmu dulu sampai kini. Semoga sejahtera dan maju selalu.***
Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER),  Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Facebook Comments

POST A COMMENT.