Pilgub Jatim: Waktunya Bicara Solusi Problem Pendidikan

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum

Pilihan Gubernur (Pilgub), dengan sulitnya mencari pasangan wakilnya, sangat menggelitik pikiran. Padahal, memilih pemimpin itu akan lebih tepat jika calonnya paham masalah Jatim. Selama ini yang terpikirkan lebih fokus pada perolehan suara (vote getter). Itu sebabnya, kriterianya jadi melenceng dari pendekatan solusi. Padahal, Jatim memerlukan pemimpin yang banyak ide terkait solusi masalah warganya.

Hasil survey bicara tentang suara terbanyak. Analisis wacananya fokus malah pada perayu suara. Sebaliknya, bukan ke arah visi dan misinya. Arahan tidak terkait program dan strategi penyelesaian masalah. Teori perolehan suara jadi pusat perhatian. Maka, tak heran jika kebingungan mencari pasangan yang hanya terpusat pada tenarnya nama di kalangan milenien. Yang terpikirkan hanya popularitas. Gagasan terkait masalah dan solusi cenderung kandas.

Menganalisis kekuatan para kandidat calon gubernur (cagub) dan calon wakil gunernur (cawagub) Jawa Timur memang bikin pikiran pusing. Berapa pun calonnya dan siapa pun calon pemimpin Jatim itu, lebih baik jika difokuskan pada masalah dan potensi Jatim. Apa mereka terpilih karena popularitas? Ataukah, mereka terpilih karena daya tarik suara melenien? Entah apa saja yang melatarbelakangi terpilihnya Cagub dan Cawagub Jatim, yang paling penting adalah mereka harus bisa memaksimalkan potensi Jatim.

Berbicara tentang Jatim memang amat unik. Setahun silam, ada diskusi para pegiat media online di Surabaya. Ada juga kalangan politikus yang diundang saat itu. Salah satu ungkapan yang terlontar tentang Jatim adalah setara Malaysia. Saat itu, memang kajiannya sebatas wilayah secara geografis. Wilayah dan geografis Jatim dikatakan mirip Malaysia. Itu sebabnya, jika Malaysia bisa dipimpin dan dikelola menjadi negeri yang makmur, mengapa Jatim tidak?

Jatim bisa menjadi provinsi hebat. Ada sungai Brantas. Ada aliran sungai Bengawan Solo. Jika ini digarap mirip sungai-sungai irigasi di Thailand, Jatim bisa jadi wilayah agraris andalan. Ada juga bandara domestik dan internasional. Ada pula berbagai industri. Jika dikelola mirip Singapura, Jatim bisa bebas program pengririman TKI ke luar negeri.

Rakyat dan kondisi sosial masyarakat Jatim selama ini bisa dikatakan lebih tenang. Dengan kata lain, wilayah Jatim bisa sebagai provinsi yang kondusif. Rakyatnya lebih mudah ditata dan dipimpin dibanding misalnya dengan Jakarta selama ini. Tingkat kerumitannya lebih sederhana dibanding dengan povinsi-provinsi lain.

Itu sebabnya, rakyat berhak titip pesan pada Cagub dan Cawagub Jatim nantinya. Ayo, program kerjanya lebih diutamakan. Visi misinya juga harus jelas. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan harus menjadi paparan yang disampaikan ke seluruh rakyat Jatim. Tentunya, semua itu berlandaskan hasil kajian wilayah Jatim. Rakyat diajari memilih berdasar visi, misi dan program yang jelas.

Pertama, pendidikan. Program pendidikan harus dinomorsatukan karena kunci utama sumber daya manusia (SDM) ada pada kualitasnya dan bukan pada kuantitasnya. Mari kita menengok ke Malaysia. Dulu, orang Malaysia belajar ke negeri kita. Sekarang berbalik arah. Itu menandakan Malaysia bisa mengejar mutu SDM lebih cepat. Dengan kata lain, kita kecolongan sehingga kita menjadi negeri tertinggal. Jatim bisa dan pernah diproyeksikan seperti Malaysia.

Kedua, logistic management merupakan kunci utama dalam pergerakan mobilitas jasa dan barang komoditi. Artinya, pembangunan alat transportasi sebagai sarana efisiensi mobilitas jasa dan komoditi di Jatim sangat vital. Jatim pernah mengalami korban lumpur Lapindo. Pernah juga dikaji berapa kerugian secara ekonomis akibat tersendatnya mobilitas jasa dan komoditi. Ternyata lemahnya bidang logistik berakibat pada rendahnya efisiensi.

Ketiga, program kesehatan masyarakat. Kesehatan merupakan kunci utama menjaga kualitas SDM di mana saja. Itu sebabnya, program ini harus jelas sehingga semua warga Jatim memiliki ketenangan bekerja dengan jaminan kesehatan yang bermutu dan baik. Rumah sakit dan peralatan serta teknologi medis memerlukan kebijakan tersendiri. Ini merupakan program kerja pemimpin Jatim untuk rakyat.

Keempat, irigasi dan sentra bisnis. Dalam hal ini, Jatim bisa dijadikan dua jenis aktivitas ekonomi. Pertama, aktivitas industri dan kedua aktivitas agraris. Sungai Brantas dan Bengawan Solo itu berada dan menyentuh Jatim. Jika dua sungai ini dikelola maka bisa jadi irigasi yang besar dan sekaligus menjadi bisnis mirip the floating markets di Thailand.

Program-program tersebut bisa memberikan solusi bagi Jatim. Jika semua program di atas terealisir, pengirman TKI bisa terkikis. Lambat laun, rakyat Jatim bisa menikmati wilayahnya sendiri dengan pemimpin yang tahu masalah dengan jelas.

Mulailah dengan bicara solusi.

 

Penulis adalah:

  • Pengamat Pendidikan dan Sosial;
  • President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER);
  • Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Facebook Comments

POST A COMMENT.