Sel Telur Betina Pilih Sel Sperma Terbaik Jantan

MEPNews.id – Tentu, kita dilahirkan bukan tanpa tujuan. Bahkan, sangat mungkin kita dilahirkan dari bahan terpilih agar hasilnya terbaik. Sejak era pembuahan, sudah terjadi seleksi untuk menghasilkan makhluk terbaik yang bisa diwujudkan. Teori genetika acak ala Gregor Mendel tampaknya tidak terlalu berlaku di dunia nyata.

Proses pembuahan pada mamalia, termasuk manusia, terjadi saat sel telur bertemu dengan sel sperma. Menjelang pembuahan, pihak jantan mengeluarkan jutaan sel sperma dan pihak betina mengeluarkan satu atau sejumlah kecil sel telur. Dari puluhan juta sel sperma, hanya satu yang berhasil membuahi satu sel telur. Lainnya tersisih begitu saja.

Dalam banyak literatur, sel telur digambarkan sebagai pihak yang pasif dan sel sperma sebagai pihak yang bergerak aktif. Namun, studi para peneliti di Seattle, Amerika Serikat, menunjukkan tidak begitu. Sel telur bisa memilih sperma dengan gen terbaik untuk memastikan keturunan sesehat mungkin. Sementara, sel sperma tampaknya tidak memiliki kemampuan mendeteksi gen yang baik atau buruk.

Penelitian di Pacific Northwest Research Institute yang dipublikasikan di Quanta Magazine dan dikutip Daily Mail edisi 20 November 2017 itu menungkap bahwa sel telur juga pemain aktif dalam reproduksi. Maka, proses pembuahan tidak terjadi secara acak dan asal-asalan, tapi lewat seleksi sangat ketat.

Professor Joe Nadeau, yang memimpin penelitian tersebut, melakukan eksperimen dengan tikus. Ia memelihara tikus betina yang membawa satu gen normal dan satu gen mutan yang meningkatkan kemungkinan terkena kanker testis. Ia juga memelihara tikus jantan yang memiliki gen normal. Kemudian, ia mengawinkan sepasang tikus itu.

Anak-anak tikus dalam eksperimen pertama dianalisis dengan mengikuti hukum Mendel. Jika berdasarkan hukum Mendel, bakal terjadi penyebaran secara acak dari bentuk yang bermutasi di antara anak-anak tikus tersebut. Artinya, 25% anak berpeluang tumbuh sehat, 50% tampak sehat namun membawa sifat kanker testis, dan sisanya (25%) kena kanker testis.

Pada eksperimen kedua, Nadeau membalikkan kondisi pembuahan. Tikus jantannya memiliki satu gen mutan yang bisa menyebabkan kanker testis, dan betinanya membawa gen normal. Hasilanya, hanya 27% keturunan memiliki varian mutan membawa sel kanker. Padahal, menurut hukum Mendel, harusnya 75%.

“Periset tidak menemukan bukti bahwa embrio tikus yang bermutasi segera mati sesaat setelah pembuahan. Sejatinya mereka tidak pernah dibuahi sehingga tidak pernah jadi janin,” begitu dikabarkan Daily Mail.

Belum ditemukan bukti bagaimana mekanisme telur dan sperma melakukan seleksi ini. Namun, Nadeau menduga dua kemungkinan: “Tingkat metabolisme vitamin B, misalnya asam folat yang merupakan molekul penanda sangat penting, berbeda di antara di sel sperma dan di sel telur. Molekul ini berperan penting dalam pembuahan.”

Hipotesis lain mengisyaratkan, sperma sudah berada dalam saluran reproduksi betina bahkan sebelum sel telur terbentuk sepenuhnya. “Anatomi reproduksi betina lebih samar dan sulit dipelajari. Namun, semakin besar pengetahuan kita tentang peran pihak betina dalam pembuahan,” kata Mollie Manier, ahli biologi evolusioner di George Washington University.

“Kita telah lama dibutakan oleh prasangka kita sendiri. Ternyata ada cara berbeda untuk memahami bagaimana terjadinya pembuahan. Implikasinya tentu juga sangat berbeda tentang proses pembuahan,” kata Dr Nadeau.

Awal bulan ini, ada penelitian dengan menggunakan populasi landak laut di lepas pantai Pasifik di Kanada. Makalah yang dipublikasikan di jurnal American Naturalist menemukan, sel telur bisa memilih pasangan dari banyaknya sel sperma yang bertaburan.

Dalam percobaan, Dr Levitan menginduksi landak laut jantan untuk bertelur dan kemudian mengumpulkan air laut penuh telur itu dalam alat suntik. Kemudian, tes dilakukan pada sel-sel telur untuk mengetahui berapa banyak sperma berbeda yang ada.

Dr Levitan mengatakan, “Kami menduga sel telur tunggal pada umumnya menemukan sel sperma dari satu pejantan. Ternyata, kami menemukan sel telur sering secara simultan menemui sel sperma dari lebih dari satu pejantan dalam interval sangat singkat antara waktu kontak sperma dan waktu pembuahan.”

Dia menambahkan, “Ini bukti pertama bahwa sel-sel sperma dari berbagai pejantan bersaing untuk satu sel telur yang sama. Ini juga mengindikasikan kesempatan bagi sel telur untuk menentukan pilihan.”

Juga, penelitian lain dari University of East Anglia pada 2013 menunjukkan, sel-sel telur betina sangat mungkin bisa memilih sel sperma. Itu karena betina melapisi sel telur mereka dengan cairan ovarium yang mengandung bahan kimia tertentu untuk menarik hanya sperma tertentu yang punya gen tepat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.