Enaknya Jalan-jalan di Mal atau di Taman?

MEPNews.id – Menghabiskan waktu bersama keluarga dapat membantu memperkuat ikatan. Namun, jalan-jalan ke mana? Menurut penelitian baru oleh tim University of Illinois di Amerika Serikat, secara khusus menghabiskan waktu di luar ruang –bahkan hanya berjalan kaki santai 20 menit– bersama-sama dapat membantu keluarga mendapatkan manfaat lebih banyak.

Ringkasan yang dirilis di EurekAlert edisi 18 November 2017 mengungkapkan, penelitian ini didasarkan pada teori restorasi perhatian. Teori ini menggambarkan, interaksi dengan lingkungan alam dapat mengurangi kelelahan mental dan mengembalikan fungsi perhatian. Memang banyak penelitian yang mendukung teori ini. Namun, kebanyakan, jika tidak semua, penelitian hanya melihat manfaat menghabiskan waktu di alam bebas terhadap perhatian individu. Yang diteliti tim University of Illinois adalah pengaruhnya terhadap hubungan keluarga.

Dina Izenstark dan profesor Aaron Ebata, peneliti ilmu keluarga di University of Illinois di Urbana, ingin membuktikan teori ini berlaku untuk individu dan mungkin berlaku untuk keluarga. Teori ini membantu memfasilitasi interaksi keluarga dan kohesi keluarga secara lebih positif. Maka, para peneliti tahun lalu mengembangkan pendekatan teoretis baru untuk mempelajari manfaat aktivitas alam berbasis keluarga.

“Banyak penelitian terdahulu menunjukkan, perhatian individu lebih mudah dipulihkan di alam terbuka. Namun kami ingin tahu apa maknanya jika terhadap hubungan keluarga? Dalam model teoretis, kami membuat kasus ketika perhatian individu sudah dipulihkan maka mereka menjadi kurang mudah tersinggung, memiliki lebih banyak kontrol diri, dan dapat menangkap isyarat sosial lebih mudah. Karena semua dinamika tersebut, kami yakin mereka harusnya menjadi lebih akrab dengan anggota keluarga lainnya,” Izenstark menjelaskan di kampus Urbana.

Dalam studi baru ini, Izenstark dan Ebata menguji teori mereka dengan cara meneliti sekumpulan ibu dan anak perempuan (usia 10-12 tahun) yang diminta berjalan-jalan di alam luar ruang dan berjalan-jalan di mal perbelanjaan. Mereka kemudian menguji perhatian ibu dan perhatian anak perempuan lalu mengamati interaksi keluarga setelah masing-masing berjalan-jalan.

Hasilnya, jelas; jalan-jalan di alam meningkatkan interaksi lebih positif, membantu ibu dan anak perempuan bergaul lebih baik. Ini juga mengembalikan perhatian; dengan efek signifikan khususnya bagi ibu dalam penelitian.

“Kami tahu bahwa ibu dan anak perempuan sama-sama mengalami kelelahan mental atau kelemahan perhatian. Biasanya itu terjadi setelah seharian berkonsentrasi di tempat kerja atau di sekolah,” kata Izenstark. “Coba fikirkan lingkungan kita sehari-hari. Bukan hanya di tempat kerja, bahkan telepon seluler pun bisa mengganggu perhatian. Dengan semua rangsangan dari lingkungan sehari-hari, perhatian kita terkena dampak lebih buruk daripada yang kita sadari.”

Izenstark, yang sekarang menjadi asisten profesor di San José State University, menambahkan, untuk meringankan beberapa kelelahan mental itu maka orang perlu mengembalikan perhatian secara terarah. “Di alam terbuka, orang dapat bersantai dan memulihkan perhatian yang diperlukan untuk membantu berkonsentrasi lebih baik. Ini juga bisa membantu ingatan.”

Khusus untuk menguji kekompakan ibu dan anak perempuan, dan apakah perhatian mereka bisa dipulihkan, para peneliti meminta 27 pasang responden ibu/putri bertemu di laboratorium penelitian yang mirip rumah di kampus Urbana sebelum diminta berjalan-jalan.

Di laboratorium, para responden selama 10 menit dilibatkan dalam kegiatan yang melelahkan perhatian. Mereka antara lain diminta mengerjakan soal-soal matematika, sementara rekaman musik keras diputar di latar belakang. Dalam kondisi ini, para periset memberi responden tes ‘pra-perhatian’. Setelah mengerjakan soal, para responden kemudian dibawa berjalan-jalan ke arboretum alam selama 20 menit. Pada hari lain, responden kembali dibawa ke laboratorium untuk mengerjakan soal matematika kemudian dibawa berjalan-jalan ke mal perbelanjaan dalam ruangan selama 20 menit. Setelah kembali dari jalan-jalan, ibu dan putrinya diwawancarai secara terpisah. Mereka diberi tes ‘pasca-perhatian’, dan disurvei tentang lokasi mana yang paling mereka sukai, paling membosankan, atau paling menarik. Tahap ketiga, ibu dan anak ini kemudian direkam saat main game yang mengharuskan mereka bekerja sama.

Dalam penelitian ini, perhatian para ibu umumnya bisa dipulihkan secara signifikan setelah jalan-jalan di alam terbuka. Yang menarik, bagi anak perempuan, perhatian bisa dipulihkan setelah berjalan-jalan di taman maupun berjalan-jalan di mal. Menurut Izenstark, kondisi para putri ini mungkin hasil dari menghabiskan waktu luang bersama ibu mereka.

“Itu yang unik. Bagi anak perempuan, berjalan-jalan dengan ibu bisa memperbaiki kembali perhatian mereka. Tapi, bagi para ibu, keadaan alam luar ruang bisa memberi banyak manfaat. Maka, sangat menarik saat kami menemukan ada perbedaan di antara anggota keluarga. Tetapi, ketika kami mengamati laporan subyektif mereka tentang apa yang mereka rasakan terhadap dua keadaan jalan-jalan itu, tidak ada lagi yang kami pertanyakan. Ya, karena para ibu maupun putri mereka sama-sama mengatakan bahwa jalan-jalan di alam terbuka lebih menyenangkan, santai, dan menarik.”

Aspek terakhir dari temuan ini adalah mengenai peningkatan kohesi atau kebersamaan atau keterikatan antara ibu dan putrinya. Setelah menganalisis interaksi rekaman video selama main game, para peneliti menemukan perbedaan efek jalan-jalan di alam terbuka dengan jalan-jalan di mal dalam ruang. Setelah berjalan-jalan di alam terbuka, ibu dan putrinya menunjukkan kohesi yang lebih besar, rasa persatuan lebih kuat, kedekatan lebih erat, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri lebih besar. Itu jika dibandingkan dengan saat mereka jalan-jalan di mal dalam ruang.

Meski penelitian ini hanya berfokus pada ibu dan anak perempuan, Izenstark mengatakan tujuan keseluruhannya adalah untuk menguji berbagai cara di mana alam bisa mempengaruhi hubungan keluarga secara umum.

“Yang pertama dan terutama, saya berharap temuan ini mendorong keluarga untuk selalu menemukan cara agar bisa keluar untuk sekadar berjalan-jalan bersama. Jangan merasa terintimidasi untuk berpikir, ‘Oh, saya harus jalan-jalan selama satu jam atau melakukan perjalanan liburan besar?’ Hanya 20 menit berjalan kaki di sekitar lingkungan luar ruang sebelum atau sesudah makan malam atau saat waktu luang, bisa digunakan untuk menyambung kembali perhatian dan membina hubungan baik dengan anggota keluarga. Bukan hanya bisa menguntungkan keluarga saat jalan-jalan, bahkan juga setelahnya.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.