Mbah Dar, Pengayuh Becak yang Bisa Kibarkan Merah-Putih di Berbagai Penjuru Dunia

MEPNews.id – Tanpa gembar-gembor pencitraan, justru lewat jalur sunyi di tengah tekanan ekonomi, Sudarmiyanto membawa nama baik negeri. Pengayuh becak berusia 81 tahun ini membawa nama Indonesia saat berlaga lari di event internasional. Terakhir, pria kelahiran Boyolali yang tinggal di Salatiga ini membentangkan bendera Merah-Putih di podium Sudamericano Master de Atletismo 2017 di Santiago, Chile. Ia meraih medali perunggu dalam lomba lari 10.000 meter.

dar bendera

Gambar dari Instagram@bayuaviyanto

Medali dari Sudamericano Master de Atletismo 2017 itu diraih pada 8 November 2017 atau dua hari menjelang peringatan Hari Pahlawan. Lomba master atletik Amerika Selatan itu sendiri diikuti para atlet veteran dari 21 negara. Antara lain; Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Peru, Australia, Kanada, Kosta Rika, Italia, Meksiko, dan Panama. Selain Mbah Dar, atlet dari Persatuan Atlet Master Indonesia (PAMI) yang berangkat ke Santiago adalah Hartini Joko, Suwandi, Ockben Saor Sinaga dan Julia Jacob.

Jika tidak sedang ikut lomba, Mbah Dar biasa mangkal di jalan Pemotongan dan Jalan Jenderal Sudirman di antara sejumlah tukang becak lain di Salatiga. Yang beda dengan tukang becak lainnya, Mbah Dari bergaya beda. Selalu mengenakan topi, kacamata lebar warna-warni, dan handuk di leher yang melengkapi kaos olahraga, celana hingga kaos kaki dan sepatu berwarna mencolok. Rambutnya tipis, kumisnya lebat, dan hampir semuanya beruban. Namun otot-otot tungkai, lengan, dan sebagian tubuhnya masih tampak menonjol.

dar becak

Gambar diambil dari Instagram@yoelnindyowaskito70

Setiap hari, saat hendak atau usai mengais rejeki di bawah terik matahari, Mbah Dar punya kebiasaan sederhana namun sehat. Kakek 5 putra dengan 10 cucu ini berlari antara rumahnya di Dusun Ngemplak Tugel, Desa Krandon Lor, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, dengan tempat penitipan becaknya di Jalan Kemuning di Kota Salatiga. Jarak sekitar 11 kilometer, namun selalu ditempuh lewat rute berbeda agar Mbah Dar tidak bosan.

Saat berlari dari rumah, Mbah Dar menutup tubuh dengan jaket. Sampai di tempat kerja, jaket dilepasnya dan siap mengayuh becak. Lokasi geografis Salatiga yang relatif sejuk membuat berlari jadi lebih nyaman. “Dengan berlari setiap hari, badan saya selalu sehat,” kata Mbah Dar pada wartawan.

Di rumahnya yang sederhana, tersimpan sedikitnya Sembilan piala dan 171 medali dari berbagai lomba lari. Sebagai atlet master, Mbah Dar mengikuti berbagai ajang mulai nomor lari jarak pendek, menengah 5.000 meter, 10.000 meter, hingga marathon. Saat masih muda hingga memasuki kelas veteran, ia sudah berlari di sejumlah negara. Selain di Chile, sebelumnya ia pernah berlomba di Malaysia, Singapura, dan Australia. Dalam lomba 25 Oktober hingga 6 November 2016 di Australia, ia turun di nomor lari 200 meter, 400 meter dan 800 meter, dan meraih juara serta mendapatkan bonus. “Untuk 400 meter, dapat juara 3,” ujar suami dari Mbah Pujiati ini.

dar rumah

gambar dari Instagram@_rachmanpratama

Sudarmiyanto lahir di Boyolali. Pertama kali menginjakkan kaki di Salatiga tahun 1960 dan bekerja sebagai buruh serabutan. Hobi lari dilakukan tiap hari di antara kerja sebagai tenaga kasar. Pada 1968, ia mulai mengikuti berbagai lomba di Jawa. Untuk lari jarak menengah dan marathon, ia sering naik podium juara. Saat dikirim ke Malaysia untuk marathon, ia juara dua. Saat dikirim ke Singapura untuk lari jarak menengah, ia meraih juara 1.

Meski sudah beprestasi tingkat internasional, Sudarmiyanto muda tidak pernah mendapat pekerjaan layak. Maka, pada tahun 1970, Darmiyanto memilih jadi tukang becak hingga usia senja. Meski secara ekonomis kehidupannya berat, Mbah Dar tetap bersyukur karena merasa selalu berkecukupan. Ia hanya berdoa semoga Allah tetap memberinya kesehatan dan kebugaran saat usia sudah tak lagi muda.

Mbah Dari ingin tetap berolahraga lari hingga akhir hayatnya. Menurutnya, aktivitas berlari ini membuat badannya tetap sehat. “Kalau bisa meraih juara, itu bonusnya. Lumayan,” kata ia.

Kisah perjalanan panjang Mbah Dar ini dibukukan oleh Anthony YM Tumimomor dosen Desain Komunikasi Visual, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Buku setebal 80 halaman berjudul ‘Darmiyanto–Sang Pengayuh Becak Segudang Prestasi’ ini digali sebagai sumber inspirasi pembangkit motivasi.

Anthony Tumimomor mengenal Mbah Dar lebih dari sepuluh tahun, dan melengkapinya dengan dua tahun riset, untuk membuat buku ini. Ia memaparkan potret hidup atlet yang berjasa bagi negara namun kurang mendapat perhatian dari pihak berwenang. “Saya ingin Pak Dar dikenal masyarakat khususnya Salatiga, bahwa kota ini memiliki pelari hebat dengan prestasi mengagumkan,” tuturnya dikutip detik.com.

Facebook Comments

POST A COMMENT.