4 hal Unik di Kuala Terengganu, Malaysia

MEPNews.id – Jalan-jalan ke Malaysia menjadi tujuan umum orang Indonesia karena adanya prinsip; dekat, tinggal lompat pulau, terjangkau, dan jelas itu sudah ada di luar negeri. Yang sering jadi tujuan wisata di negeri jiran ini antara lain; Menara Kembar Petronas dan Central Market di Kuala Lumpur, Lego Land di Johor Bahru, Batu Cave di Gombak Selangor, dan sebagainya. Tapi, untuk ke Negeri Terengganu Darul Iman, mungkin masih terdengar asing.

Padahal, negara bagian ini berada hanya kurang lebih 440 kilometre dengan tujuh jam perjalanan darat atau 50 menit dengan pesawat terbang dari ibukota Kuala Lumpur ke arah timur laut. Kawasan yang menghadap Laut Cina Selatan ini menawarkan berbagai spot wisata menarik, antara lain Bukit Keluang, Masjid Kristal, Muzium Terengganu, Pulau Radang, Pulau Buru, hingga Istana Maziah.

Namun, kota Kuala Terengganu agak berbeda dengan kawasan jalan-jalan misalnya di Kuala Lumpur. Nah, berikut ini beberapa tips untuk bekal sebelum pergi ke kota Kuala Terengganu atau ke Negeri Terengganu.

  1. Terengganu ini berbeda dengan negeri (provinsi) umumnya di Malaysia. Bersama negeri-negeri Kedah, Kelantan, dan Johor yang dominan Islam, Terengganu menerapkan libur umum pada Jumat dan Sabtu. Aktifitas kembali normal pada Minggu. Maka, tentu harus ada penyesuaian bagi yang akan ke gereja. Selain urusan ibadah agama, perbedaan hari libur juga berpengaruh pada urusan lain. Misalnya, ada perbedaan harga tiket pesawat di antara ketiga hari tersebut. Juga, akan susah cari makan di luar pada Jumat maupun Sabtu karena jarang ada kedai yang buka.
  2. Sebelum berangkat, lihat lagi daftar pakaian yang akan dibawa. Di Kuala Terengganu, kaum laki-laki tidak boleh sembarangan menggunakan celana pendek. Di Indonesia, lelaki bisa jalan ke Mall atau ke warung dengan percaya diri mengenakan celana pendek. Di Kuala Terengganu, mengenakan celana pendek berarti memperlihatkan aurat. “Lebih baik kau pakai sarung. Itu lebih aman dibanding kau pakai celana untuk ke mana-mana,” celetuk Muchtar Mirtadha, mahasiswa asal Aceh di sana.
  3. Jangan memakai prinsip sok kenal sok dekat, terutama laki-laki yang mau bersalaman dengan perempuan. Negeri yang kental dengan identitas Islam itu tidak membiarkan bersentuhan orang-orang yang tidak muhrim. Selain itu, ruang kelas di kampus atau sekolah juga ada pemisahan meski tidak ada batas khusus. Seperti praktik sholat di masjid, di dalam kelas pun kaum lelaki diutamakan duduk di depan dan kaum perempuan diutamakan duduk di belakang. Tidak ada yang namanya duduk berdekatan atau berdampingan.
  4. Terakhir, dan ini cukup penting, agak susah mencari transportasi umum. Tentu saja ada Sultan Mahmud Airport untuk transportasi udara. Namun, hanya ada tiga jalur bus lokal dengan waktu layanan terbatas untuk berkeliling kota. Transportasi yang lebih gampang didapatkan justru layanan Grab Car. Namun, ongkosnya relatif mahal untuk dijadikan alat transportasi berkeliling berbagai tempat. Yang enak adalah punya kenalan di sana agar mudah membantu urusan transportasi dan akomodasi. Tapi, jika belum channel, lebih baik menyewa kendaraan sendiri dengan banderol 5 RMY per jam di persewaan semacam Kereta Sewa, Green Matrix Car Rental, Alam Travel and Tours. Namun, jasa persewaan itu pun umumnya untuk mobil (disebut ‘kereta’ oleh orang Malaysia). Persewaan sepeda motor atau sepeda angin ada, namun jarang ditemui.

(Stefanus Ari Wicaksono)

Facebook Comments

POST A COMMENT.