Risiko Kesalahan Gaya Kepemimpinan

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

Artikel ini adalah salah satu intisari pikiran saya. Gagasan ini saya peroleh dari situs Leadership Lreak. Saya sudah lama berlangganan situs Leadership Freak. Secara tidak sengaja, situs ini masuk ke dalam akun Linkedin saya. Ini sudah bertahuntahun, dan lupa sejak kapan saya klik situs ini. Pokoknya, saya klik begitu saja. Akhirnya, saya berlangganan. Setiap minggu, sedikitnya ada tiga sampai lima topik tentang leadership. Berikut adalah satu di antara pikiran saya dari diskusi di situs tersebut.
Menjadi pemimpin (leaders) itu tidak mudah. Menjadi pengikut (followers) juga tidak mudah. Baik pemimpn dan pengikut itu ada syarat dan kriterianya. Jika di satu sisi pemimpin tidak paham yang dipimpin pasti ada risiko. Begitu juga, di sisi lain. Jika pengikut tidak paham pemimpinnya, risiko juga lebih dahsyat. Kedua belah pihak—pemimpin dan pengikut—sama-sama paham (reciprocal understanding).
Makna dari reciprocal itu sama-sama paham. Tidak hanya si pengikut paham pemimpinnya. Namun, si pemimpin juga wajib paham pengikutnya. Jika tidak reciprocal, maka situasi organisasi semakin buruk dan penuh kepalsuan. Senyum pun palsu. Tertawa pun palsu. Bahkan pujian pun tidak dari dalam hati yang paling dalam. Dengan kata lain, organisasi terbawa ke fungsi-fungsi formalitas—bukan esensi nilai-nilai organisasi yang sebenarnya.
Bayangkan saja, misalnya dalam organisasi yang anggotanya sudah siap transformasi. Namun, di pihak pemimpinnya, masih menggunakan kepemimpinan autokratik (autocraticl leadership). Yang jadi pengikut, bisa stres. Yang dipimpin bisa terbelenggu. Sebaliknya, yang memimpin tetap bersikeras gaya autokratik. Apa yang diucapkan dan pikirkan harus dilakukan. Apa yang dipikirkan benar, yang lain diabaikan. Di sini, akan terjadi ketidakseimbangan kondisi psikologis di antara pengikut-pengikutnya.
Kondisi organisasi yang mebutuhkan transformasi memiliki ciri-ciri tersendiri. Semua aktivitas dan kebijakan bersifat perubahan (policy for changes). Organisasi melangkah demi visi. Yang dilihat jauh ke depan. Lebih luas dan kmprehensif. Dengan kata lain, yang dilihat bukan detail. Yang dipikir bukan rinci-rinci. Yang digarap bersifat transformasi dan bergerak horizontal ke depan.
Dengan organisasi berciri transformasional, maka ada risiko jika pemimpinnya bergaya autokratik. Pemimpinnya, melihat detail: hal-hal rinci. Pemimpinya melangkah dan betindak Sesuai pikiran dan kehendaknya. Lebih buruk lagi, apa yang dipikir menjadi sesuatu yang terbaik. Paling buruk di antara yang paling buruk adalah pemimpin membuat yang terbaik yang pernah dikerjakan sebelumnya. Lalu, dianggap selalu baik selamanya. Di sinilah, jika tidak terpikirkan dengan jeli, akan terjadi rendahnya nilai-nilai organisasi yang sudah tranformasional.
Lebih berbahaya lagi, jika model autokratik sudah bebal dan tidak bisa menerima masukan sama sekali dari kalangan pengikut yang berpikir transformasional. Intinya, kondisi organisasi tidak ada keterlibatan (reciprocal engagement) dalam hal pembuatan kebjakan (policy).
Jika di dalam organisasi apa saja dan di mana saja ada situasi seperti itu, maka perlu tindakan cepat. Tindakan ini, harus ada orang yang berani mengambil risiko. Risiko itu bisa banyak dan besar pula. Namun, cara-cara asertif akan lebih baik, meski memakan waktu lama alias tidak efisien. Risiko terjelek, bahwa orang ini bisa banyak yang dislike. Namun, secara esensial, tindakannya sangat berharga. Jika ada perubahan, dia harus bangga. Di sinilah, seni leadership yang sangat menarik.
Leader itu tidak harus duduk di kursi jabatan leader. Leader itu bisa dalam bayang-bayang. Amati situasi, ajaklah berbeda membalik situasi. Tanamkan ide-ide meski dianggap “nleneh”. Risiko itu akan berbuah baik dan berguna bagi semua orang dalam satu organisasi.***

Facebook Comments

POST A COMMENT.