Selamat Hari Pahlawan, Abah Mertua

Oleh Astatik Bestari

Mepnews.id- Tidak begitu siang, sekitar jam sepuluhan saya membaca status facebook sahabat saya Akhmad Zainuddin yang menuliskan kisah kakeknya Mbah Mahfudz Bin Kasijan seperti ini statusnya

Makan Telur 7 butir

Almarhum Kakek saya tahun 45 bergabung dengan Laskar Hizbullah.
Sebelum berangkat ke Surabaya pasukan Hizbullah sektor selatan latihan dan gemblengan di Pondoknya Mbah Syamsun Catakgayam Mojowarno

Riyadhohnya makan 7 butir telur ayam tanpa dikupas kulitnya.
Yang habis boleh berangkat dan di garda depan pasukan ikut bertempur.
Yang tidak habis tapi punya kemauan berangkat posisinya bagian perbekalan.
Dan kakek saya berhasil menghabiskan 7 telur itu…

apa alasan ikut perang ?
Nderek dawuhe Mbah Hasyim
(Resolusi jihad)

Selamat Hari Pahlawan

Mbah Syamsun yang disebut dalam status tersebut saya yakin adalah abah mertua saya. Saya memiliki keyakinan demikian karena pemilik status facebook ini pernah bertanya perihal Mbah Syamsun mertua saya ini terkait sejarah beliau.

Membahas Mbah Syamsun tentang kedalaman ilmunya di hari Pahlawan ini mengingatkan saya kepada almarhum KH. Iskandar, pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Krian Sidoarjo Jawa Timur . Beliau sempat bercerita kepada saya dan suami saya saat kami silaturrahim usai pernikahan kami, istilah Jawanya ‘tinjo’ kepada beliau. Beliau pernah mendapat cerita dari Kyai Idris Lirboyo bahwa Mbah Syamsun semasa mudanya pernah ziarah ke makam di Gunung Kawi. Di tempat tersebut beliau melihat banyak orang yang berebut pohon ndaru. Konon kabarnya daun ndaru ini dianggap bisa membuat orang menjadi kaya. Mengetahui hal ini, Mbah Syamsun marah dan pohon ndaru tersebut dipegang dan digerakkan hingga semua daunnya jatuh. Beliau menyuruh orang -orang yang menunggu jatuhnya daun ndaru agar mengambil daun daun tersebut.Mereka terdiam, mungkin heran dan takut dengan keajaiban yang mereka lihat.

Selain memiliki ilmu kanuragan, Mbah Syamsun luas juga ilmu pengetahuan agamanya. Baru baru ini sahabat saya Yusuf Suharto dari Aswaja center menuliskan “Hukum hormat bendera merah putih” yang dimuat dalam NU Online pada 5 Mei 2017 . Di sana menyebutkan para kyai NU yang terlibat dlam Muqarrarâtus Syûrâ min ‘Ulamâ Jombang” (Keputusan Musyawarah Ulama Jombang) antara lain ada nama Mbah Saymsun. Yusuf Suharto menjelaskan singkat dalam postingan facebooknya tentang hormat bendera ini, yang dimaksud KH Syansun dalam jajaran kyai tersebut adalah Mbah Syamsun dari Catakgayam Mojowarno.

Sedikit yang saya ketahui tentang kiprahnya di era perjuangan dan organisasi NU serta di tengah masyarakat ini menanamkan pengertian kepada saya bahwa kebaikan dan kehebatan itu bukan untuk dikagumi tapi untuk digunakan dalam memperjuangkan kebenaran. Nampak sekali suami saya juga tidak banyak bertutur tentang beliau sebagaimana cerita banyak orang, seolah mengajarkan kepada saya bahwa kehebatannya tidak untuk dibanggakan.

Selamat hari Pahlawan, abah mertua ***

Facebook Comments

POST A COMMENT.