Pahlawan Berjasa Sertifikasi Guru

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

Hari pahlawan tepat 10 November 2017, hari ini. Dulu, guru memeroleh sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Lagunya dikenal sebagai lagu Oemar Bakrie. Guru digambarkan sebagai sosok yang bekerja setiap pagi. Transportasinya adalah sepeda pancal atau sepeda Kebo, dengan ciri khas tas di boncengannya. Kisah itu masih terkesan sampai cukup lama. Namun, setelah ada Undang Undang (UU) Guru dan Dosen no 14, tahun 2005, di dalamnya ada pasal-pasal yang mensejahterakan guru.
Sebenarnya, jauh sebelumnya, saya sudah tahu konsep UU no 14 tersebut. Pada pasca reformasi, tepatnya waktu itu 1998, ada partai baru bernama Partai Mencerdaskan Bangsa (PMB). Di Jawa Timur, PMB dipandegani almarhum sesepuh PGRI, Bapak Masini, yang disegani para guru. Waktu itu, saya sebagai Kepala Biro (Kabiro) pemenangan pemilu. Adapun di pusat, PMB dipandegani oleh Bapak Balkan Kaplale.
Setiap hari, saya blusukan bersama Profesor Gempor Santoso, cendekiawan yang tidak banyak bicara tetapi banyak tindakan dan karya untuk orang-orang di sekitarnya. Pada saat itu, saya blusukan bersama kawan setia ini. Bahkan, kami sering pulang larut pagi.
Mengapa saya waktu itu tertarik masuk PMB? Tidak lain acdalah, salah satu pendirinya juga konseptor UU Guru tersebut. Saat itu, semua anggota PMB sudah baca konsep itu. Itulah yang membuat semua anggota PMB bersemangat, termasuk saya. Dari situ, bisa diketahui, bahwa mobilisasi guru itu lebih mudah dan massive.
Bayangkan saja, dalam waktu dekat, hampir semua tingkat kecamatan sudah terbentuk DPC. Itu sebabnya, pada saat pelantikan di hotel Elmi, Surabaya, pesertanya membludak. Berjubel-jubel, sampai di luar ruangan. Tidak muatnya ruangan pelantikan itu, menggambarkan semangat Oemar Bakrie dengan konsep UU Guru dan Dosen waktu itu.
Suasana itu mengisyaratkan bahwa ternyata guru-guru dan keluarganya serta sanak familinya bisa menggelembung seperti kekuatan besar yang menakjubkan, meskipun dalam dengan pendapat, PMB tidak mendapat izin lewat KPU pusat. Akhirnya, semua anggota banyak yang berkoalisi. Saat itu saya pilih menghindar dan merenungi. Intinya adalah, memang insan guru sewilayah negeri bisa merupakan kekuatan besar. Namun, jika mereka diseret ke dalam nuansa politik, maka idealisme guru sebagai pendidik akan sirna.

Sekarang UU Guru dan Dosen sudah berlaku. Bagi dosen diberikan serdos (sertifikasi dosen), bagi guru mereka memeroleh sertifikasi guru (sergu). Intinya, konsep tersebut sudah terbaca oleh para anggota di PMB, partai guru. Namun, setelah gagal diverifikasi di tingkat pusat itu, banyak tawaran berkoalisi. Saat itu, saya memilih mundur, karena saya sudah jenuh dan tahu bagaimana sepak terjang manusia-manusia berpolitik. Idealisme sering kandas. Namun, saya bangga dengan konsep UU Guru itu sekarang menjadi kenyataan.
Pahlawan tanpa tanda jasa, sekarang seperti profesi-profesi lain. Dengan adanya sertifikasi, berarti pula pendapatan guru dan dosen yang sudah sedikit ada tambahan. Itulah yang mungkin membedakan Oemar Bakrie zaman dahulu dengan Oemar Bakrie zaman sekarang. Namun, di sisi lain, tidak menutup mata, bahwa masih ada berita-berita guru honorer dengan gaji minim.
Pemerintah, dalam hal ini, bisa cepat mengambil tindakan. Pertama, sudah selayaknya profesi guru itu memang sama dengan profesi dokter dan profesi lainnya. Ini karena semua profesi itu tidak mungkin ada jika tidak ada profesi guru. Guru-gurulah yang pernah mengajar dan mendidik profesi-profesi lain.
Kedua, mengenai UU Guru dan Dosen, pemerintah lebih baik memilih guru sebagai profesi. Dengan kata lain, jangan menyeret guru seluruh negeri masuk ke dalam politik. Memang politik itu hak setiap warga negara. Namun, jika para guru diseret masuk ke ranah politik, maka idealisme guru bisa sirna. Itulah sebabnya, dengan nuansa para guru dalam otonomi daerah, maka para kepala daerah memiliki otonomi dalam posisi guru dan fungsinya.
Pemerintah pusat harus bisa mengawal agar para guru tidak dijadikan penggemuk suara sehingga mereka bisa terseret ke dalam ranah politik. Biarlah para guru menjadi profesinya dengan idealisme mencerdaskan bangsa. Cara mencerdaskan bangsa itu dijalankan secara profesional melalui gedung-gedung sekolah tanpa ada campur tangan para politikus yang cenderung masuk ranah politik. Selamat hari pahlawan, guru dan dosen sebagai pahlawan bersertifikasi. Ini menandakan profesionalisme dengan idealsime sebagai pendidik di negeri.***

IMG-20171110-WA0003

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.