Menjadi Penonton atau Pemain

IMG-20171110-WA0003

Oleh: M. Yazid Mar’i

Tulisan ‘Multatuli’ alias Edward Douwes Dekker mengecam tindakan tanam paksa dan pajak tanah masa penjajahan Belanda di India Tumur. Buku ‘Lautan Jilbab’ mencoba mendobrak pemerintahan Orde Baru yang melarang penggunaan jilbab/kerudung bagi perempuan di sekolah-sekolah negeri.
Semua itu adalah realitas betapa dasyatnya tulisan untuk mampu memainkan peran dalam meluruskan ketidak-benaran, ketidak-adilan, serta merubah dan mewarnai sejarah.
Hari ini, 10 Nopember, diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan. Makna yang tersimpan dalam peringatan itu sesungguhnya adalah bagaimana setiap individu, kelompok, dalam negeri ini mampu meneladani semangat dan perilaku para pahlawannya, sekaligus tentu juga sebuah komitmen untuk senantiasa meneruskan perjuangan para pahlawannya.
Meneladani semangat pahlawan sesungguhnya adalah merefleksi dan sekaligus merekonstruksi semangat patriotisme, semangat nasionalisme, semangat humanisme, yang hari ini dirasakan mulai tergeser bahkan terkikis, serta dikalahkan oleh primordialisme yang mengarah pada pembenaran diri dan menyalahkan, bahkan mengkambinghitamkan, pihak lain atau kelompok lain.
Padahal, jauh hari Nabi Agung Muhammad SAW telah mengajarkan bahwa seorang muslim satu dengan lainnya adalah saudara. Seorang mukmin satu dengan lainnya adalah laksana bangunan yang saling melengkapi, bahkan menutupi kekurangan saudara mukmin lainnya. Bahkan, perintah untuk mendamaikan jika terjadi perselisihan antara saudara mukmin adalah kewajiban esensial, sebagaimana yang telah dilakukan para pahlawan pendahulu kita, yang pada kenyataanya telah mampu mencapai tujuan bersama yang bernama “kemerdekaan”.
Mengapa kemerdekaan? Karena para pahlawan kita sadar, hanya dengan kemerdekaan lah bangsa ini dapat menata negeri dengan baik menuju kesejahteraan, keadilan, kedamaian, dan kebahagiaan.
Kedua, semangat humanisme; memanusiakan manusia, artinya memandang manusia sebagai mahluk yang merdeka dan memerdekakan. Ini karena realitas yang dihadapi di masa penjajahan, antara lain kebodohan, penyiksaan, dan perampasan hak-hak kemanusiaan.
Para pahlawan bangsa pun dengan lapang dada mengakui kemerdekaan setiap pribadi untuk mengapresiasikan dirinya dalam segala lapangan kehidupan, melalui penerimaan segala bentuk perbedaan dan kemajemukan. Perbedaan dan kemajemukan adalah kekayaan bangsa yang tidak harus dimatikan atau dibunuh melainkan harus berkembang menjadi ornamen yang indah dan menghiasi, sehingga memberikan manfaat bagi semua warga negara.
Tentu, sebagai generasi yang hidup sesudahnya, meneladani dengan memahami dan mengikuti prilaku para pahlawan bangsa adalah keharusan mutlak. Ini keharusan bagi seluruh warga, bangsa, sekaligus sebagai penerus sejarah pahlawan, atau menyambung kembali tali kemerdekaan yang bernama “persatuan,” yang belakangan ini sedikit pudar karena egoisme dan kepentingan sesaat yang bersifat pribadi dan golongan.
Semangat Hari Pahlawan ini lah yang juga menjadi kekuatan setiap individu bangsa, khususnya yang telah menguatkan diri menjadi bagian dari MEPNews. Ini menjadikan usia MEPNews yang telah satu tahun mampu memberikan dorongan dan motivasi untuk mewarnai dan melukis peradaban Indonesia melalui keteladanan para pahlawan bangsa.
Melihat betapa dasyatnya kekuatan tulisan bagi perubahan perilaku serta perubahan peradaban bangsa, tentunya tulisan-tulisan yang mencerdaskan, yang memotivasi, serta sekaligus mampu membentuk karakter mulia, karakter yang diwariskan para pahlawan bangsa, hendaknya menjadi cita-cita dan barometer suatu tulisan. Prinsip MEPNews tetap sebagai media online yang senantiasa memberikan energi positif bagi setiap individu di negeri Indonesia yang kita cintai.
Maka, menulis adalah salah satu dari sekian bagian untuk menjadi pemain, dan bukan sekedar penonton, untuk lahirnya perubahan dalam menuju masyarakat bangsa yang berperadaban “beradab”
MEPNews, di satu tahun usiamu, telah menghidupkan peradaban untuk 100 tahun ke depan atau lebih.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.