Agar Hoax Tidak Berkembang

Catatan : Agus M.Irkham

Pembicaraan tentang hoax selama ini lebih kepada bagaimana mengatasinya atau bersifat kuratif. Ada satu hal yang menurut saya paling mendasar, yaitu aspek pencegahannya atau preventif. Dan untuk sampai ke situ, kita perlu menilik terlebih dahulu mengapa hoax bisa marak dan berkembang, orang juga cenderung (tidak) sengaja menyebarkannya.

Pertama, orang terlalu peduli dengan apa-apa yang terjadi di luar dirinya. Pikirannya lebih disibukkan memikirkan persoalan-persoalan yang justru bukan menjadi kewajiban dan tanggungjawabnya untuk membereskan persoalan tersebut.

Kedua, tidak bahagia. Saya tidak akan membahas arti bahagia. Bisa panjang ceritanya. Saya memakai batasan yang make sense saja. Orang yang hidupnya bahagia (biasanya) susah dihasut.

Ketiga, sejak awal sudah memiliki rasa suka tidak suka yang bersifat mutlak (absolutely). Bisa politis, bisa komunal bahkan personal. Hal ini mempengaruhi pilihan konsumsi informasi. Dan pilihan tersebut hanya sebagai kanal saja, representasi atas rasa suka dan tidak sukanya tersebut.

Mungkin ini ada semacam penyederhanaan atau simplifikasi. Tapi sebagai sebuah ikhitiar bisa dicoba. Jika ingin mengerem laju penyebaran hoax bahkan menghilangkannya, maka yang perlu kita lakukan adalah, fokuslah pada fungsi dan peran hidup Anda. Seorang ketua RT tentu oleh Tuhan tdk akan diminta pertanggungjawabannya atas tugas2 seorang Presiden.

Bahagiakanlah hidup Anda, sehingga punya dada yang lapang dan pikiran yang jernih untuk mencerna segala sesuatu.

Terakhir, cobalah untuk mengambang. Kebenaran dan kesalahan itu ditempatkan dalam satu pendulum (timbangan) relativisme. Sehingga saat menerimanya atau sebaliknya, itu kita peroleh setelah ada konfirmasi dan informasi yang lengkap dan seimbang. Sehingga otoritas dan tanggung jawab atas suatu pendapat itu tetap berpusat pada Anda.

Facebook Comments

POST A COMMENT.