Kader Ansor Arab Saudi, Sindir dengan Gerakan Sunyi

WhatsApp-Image-2017-11-08-at-12.55.27-PM-34yykzxsgv5y4r55rutcsq

Sebuah tulisan menarik oleh seorang kader NU. Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi. MEPNews.id kemudian mengontak dan meminta izin dimuat. Agar menjadi renungan kita bersama.

Oleh: Hariri Thohir

Penulis tersenyum kecil menulis judul di atas. Bagaimana tidak, sunyi kok diutarakan. Sunyi kok diumbar-umbar, dipublikasi, dilucuti, di- you can see kan auratnya ke masyarakat umum.

Apalagi penulis adalah anggota aktif Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi. Maka potensi tulisan ini di-asumsikan (dan bisa jadi sangat nyata) sebagai karangan belaka sangatlah besar. Kecuali bagi mereka yang turut terlibat dan yang ikut merasakan getaran, nuansa juga dampaknya dari bermacam-macam laku underground yang digulirkan selama ini.

Meminjam pernyataan Prof. Quraish Shihab, ghaib adalah yang tersembunyi, tidak tampak dan tidak diketahui. Penekanannya ada pada kata tidak tampak. Kemudian, tidak diketahui.

Ini memberi isyarat bahwa yang tidak tertangkap indra penglihatan maupun yang kita tidak tahu sama sekali tentangnya bukan berarti tidak ada. Bisa pula ada dan sangat tampak, namun akal kita nihil pengetahuan tentangnya. Layaknya kita terhadap jumlah detak jantung diri sendiri.

Dari beberapa tingkatan, ‘Ilmul yaqin, ‘Ainul yaqin, Haqqul Yaqin, hingga Kamalul Yaqin, kesunyian bagi GP Ansor Arab Saudi adalah wilayah yang sudah dirasuk dan berupaya dipertahankan.

Yaitu, ruang atau wilayah yang kenikmatannya tidak berasal dari katanya dan katanya. Qola wa qola. Bukan berangkat semata dari penglihatan. Namun dari penghayatan laku hidup, melalui peresapan terhadap tindakan empiris, pendalaman dari sebuah tindakan yang merujuk kepada Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Wilayah Kamalul Yaqin.

GP Ansor Arab Saudi adalah makhluk ghaib bagi sebagian besar kalangan. Gerak-geriknya hanya mampu ditangkap oleh mereka yang bersedia berjuang melepas lekat-lekat keduniawian.

Ini bukan perkara penulis membeber dan mentang-mentang karena pilihan hidup GP Ansor Arab Saudi adalah sebagai himpunan manusia yang topo ing rame. GP Ansor Arab Saudi sedang belajar malu kepada para ‘alim ‘ulama. Terutama kepada Rois Akbar NU Hadratusy Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari yang enggan kepulangan beliau diperingati; dihauli.

Februari 2017, begitu melekatnya pesan Sekjen PP GP Ansor, sahabat Adung Abdul Rochman, di Jeddah kepada kami. Bahwa Nahdlatul ‘Ulama adalah milik para ‘Ulama. Gerakan Pemuda Ansor hanya berkedudukan sebagai pengawal bagi Nahdlatul ‘Ulama.

Maka, dari setiap rasa tertatih-tatih akibat jerih payah, apa yang perlu GP Ansor Arab Saudi banggakan? Teori mana yang menyebut kebenaran dan kebaikan berasal dari manusia? Apa yang menjadikan GP Ansor Arab Saudi wajib gembar-gembor di media massa? Nama besar? Untuk memberhalakan diri sendiri, di medianya sendiri pula?

Motif GP Ansor Arab Saudi adalah mencari sahabat,  menjalin tali Ukhuwah Insaniyah, mencintai dan berjuang bersama demi kehidupan TKI yang lebih baik dengan skalanya masing-masing.

Semua manusia adalah salikin. Semua sedang menuju Tuhan dengan cara dan jalannya masing-masing. Dan betapa mulianya Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang memilih menjalani hidup sebagai rakyat jelata ketimbang menjadi seorang raja.

Maka biarkan ketidakbergunaan GP Ansor Arab Saudi di mata kami dan siapapun ini terus berlangsung. Cukup gerakan-gerakan menanam benih untuk masa depan yang tak pernah terjangkau oleh lainnya konsisten dilakoni.

 

Dari mempertahankan kelangsungan Masjid Indonesia Jeddah, pengadaan fasilitas pendidikan untuk anak TKI yang pantas, advokasi kasus-kasus TKI yang terbengkalai, pendekatan kultural agar CTKI dan TKI memahami kehidupan Arab Saudi, menanam kepada tunas-tunas bangsa tentang indahnya belajar menjadi pribadi yang andep asor dan bernilai, menabur nebarkan kenikmatan menjalin Ukhuwah ‘Ubudiyah,  meneteskan setitik-setitik air pada batu, macam-macam.

Inna Allaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim. Gusti Allah Sang Maha Pengubah, manusia hanya bisa berjuang. Gerakan tahlil, aktivitas yang rutin seminggu sekali bagi GP Ansor adalah gerakan melibatkan Tuhan di segala urusan. Langkah kecil untuk meng-amini do’a-do’a ayah ibu atau sanak keluarga lainnya dari tiap TKI yang merindukan keluarganya di Tanah Air sana. Gerakan sepele, amat remeh temeh dan tidak berarti.

Namun, mustahil GP Ansor Arab Saudi adalah sekuler. Sangat tidak mungkin seluruh keberhasilan adalah buah dari perjuangan GP Ansor Saudi. Karena sesungguhnya itu  adalah hadiah, dari Ar-Rahman yang berkenan kepada yang diperkenankan.

GP Ansor Arab Saudi cuma jembatan. Ia bukanlah Tuhan. ***

 

Hariri Thohir

Sekretaris Pimpinan Cabang Khusus

GP Ansor Arab Saudi

 

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.