Menurut Psikologi, 5 Faktor Ini Bisa Ramalkan Perpisahan

MEPNews.id – Rejeki, jodoh, dan mati, itu sudah ditakdirkan. Namun, semua itu bersifat misteri hingga kita betul-betul sudah menjalaninya.

Seperti halnya perjodohan, sesuatu yang terkait perpisahan dan perceraian adalah subjek misterius yang rumit untuk dipelajari secara ilmiah. Ada pasangan yang baik-baik saja, dan tampak berjodoh, tapi di tengah jalan justru berpisah. Ada pasangan yang boleh dikata selalu ribut tapi bisa hidup bersama sampai ajal.

brokenMaka, wajar jika muncul pertanyaan tentang apa hal-hal yang bisa memprediksi bakal terjadinya perceraian? Drake Baer, menulis untuk Thrive Global di CNN edisi 6 November 2017, menunjukkan penelitian kompleks yang dilakukan Profesor Justin Lehmiller dari Ball State Universiti di Indiana (Amerika Serikat).

Banyak literatur tentang perceraian, namun tak banyak tema yang dimuat dalam penelitian berulang. Maka, Profesor Lehmiller berinisiatif mengulas prediksi perceraian ini dalam blognya Sex & Psychology. Berikut ini lima hal yang menurut psikologi bisa menjadi alat prediksi datangnya perceraian;

  1. Kematangan itu penting.

Pasangan yang menikah dalam usia matang cenderung memiliki hubungan lebih lama. Semakin dini usia pasangan, semakin besar pula risiko perpisahan. Itu juga berlaku jika keduanya sudah bersama saat fikirannya masih terlalu mentah.

  1. Demografi juga berpengaruh.

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention, pendidikan dan agama sama-sama menjadi prediktor kuat apakah hubungan bakal langgeng atau bubar. Wanita dengan gelar sarjana memiliki kesempatan 78 % untuk menjalani pernikahan yang berlangsung 20 tahun, dibandingkan dengan 41 % wanita yang berpendidikan sekolah menengah. Untuk pria, angka itu masing-masing 65 % dan 47 %. Menganut agama yang sama, serta tingkat religiusitas juga berpengaruh. Yang non-religi cenderung mudah pisah.

  1. Kepribadian tentu berpengaruh.

Ada satu sifat kepribadian yang membuat hubungan tidak awet. Neurotisme –atau, ketidakstabilan emosional– adalah kepribadian yang menunjukkan seberapa peka seseorang terhadap ancaman yang dirasakan, dan seberapa besar kemungkinan merenungkannya. Orang dengan kepribadian seperti ini gampang terlibat dalam gangguan kecemasan dan depresi. Menurut catatan Lehmiller, faktor ini berulang kali muncul untuk memprediksi bakal terjadinya perceraian.

  1. Perselingkuhan.

Tentu saja faktor ini tidak terlalu mengejutkan. Ketika seseorang mengkhianati pasangannya, atau keduanya saling selingkuh, maka besar peluang terjadinya perpisahan. Suatu studi longitudinal 17 tahun terhadap 1.500 orang membuktikan, perselingkuhan menurunkan tingkat kebahagiaan perkawinan, meningkatkan perasaan ‘keangkuhan perceraian’, atau memberi peluang besar untuk berpisah. Maka, tak heran jika pasangan itu akhirnya benar-benar berpisah.

  1. Penghinaan dan sejenisnya.

Berdasarkan penelitian Lehmiller, ini menjadi prediktor kuat. Itu bisa ditunjukkan di laboratorium dan di kantor Lehmiller. Hal-hal yang memberi sinyal seseorang ‘merasa jijik’ pada pasangan akan sangat berbahaya bagi kelanjutan hubungan. Jika ia sudah mulai melontarkan humor yang tidak bersahabat, sudah menyebut-nyebut sisi lemah pasangan, hingga mengeluarkan kata-kata kasar, maka jalan menuju perpisahan mulai terbuka.

 

Penting untuk dicatat bahwa semua ini bisa berkorelasi, bahkan dalam kasus perselingkuhan. Tidak ada studi tertentu yang bisa mengatakan dengan pasti apa penyebab perceraian. Karena itu, perlu penelitian yang mencari hubungan lebih dekat ke perceraian.

John Gottman selama 40 tahun terakhir menjadi pelopor riset tentang perceraian. Ia juga menulis buku The Seven Principles for Making Marriage Work serta sekelompok judul lainnya mengenai topik ini. Namun, ia juga belum bisa memastikan apa yang membuat hubungan berpasangan bisa langgeng atau tidak.

Meski demikian, harapan untuk membina hubungan yang langgeng juga ada. Jika menginginkan hubungan bertahan lama, maka berbaik-baik dengan pasangan adalah cara yang paling jitu. Ya, sesederhana itu. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.