Sarjana Pendidikan Universitas Negeri Memilih Menjadi Sales Marketing Daripada Menjadi Guru

Mepnews.id – Hidup itu memang pilihan dan jalan yang dipilih mungkin memang lebih baik dan menyenangkan pribadi yang bersangkutan dan orang-orang terdekatnya. Pilihan pilihan Hidup itupun pasti tak jauh dari mind set yang sudah terbangun dalam diri masing-masing. Saya memiliki cerita dari apa yang saya dengar sendiri tentang pilihan profesi seorang anak yang ditututkan ibunya secara tak sengaja kepada saya .

Siang itu ( 31 Oktober 2017), saya ngobrol ringan dengan para pasien fisioterapi. Ruang tunggu pelayanan publik manapun pasti memunculkan interaksi sosial, termasuk ruang tunggu pelayanan fisioterapi di rumah sakit Kristen Mojowarno Jombang ini. Salah satu dari mereka seorang ibu usia 60an lebih bertanya kepada saya.

“Mucal dateng pundi? ” Hemhmm… penampilan saya menampakkan wajah pendidik rupanya. Padahal ini tidak sedang berbusana formal dan saya tidak sempat mengenalkan diri sebagai “guru” kepada ibu ini . Tanpa banyak pikir saya jawab pertanyaannya tersebut, singkat sesuai pertanyaaannya. Lalu ia bercerita kalau dalam bahasa Indonesia begini .

“Anak saya juga dulu ingin jadi guru, tapi ndak keturutan. Lulusan UNESA…”
Ahai! Rasanya saya bakal dapat calon guru baru ini, saat ini lembaga yang saya kelola membutuhkan guru, kalau putrinya mau mengajar di PAUD saya, kekosongan guru PAUD segera teratasi. Saya bersiap menawari ibu ini untuk mengajar di PAUD yang saya kelola, namun sebelumnya saya perlu mengetahui penyebab tidak terpenuhinya cita-cita anaknya tersebut.

“Kenging nopo, mboten keturutan?” tanya saya memacing informasi selanjutnya.

“Lha guru sukwan, gaji Rp 400.000-Rp 500.000, tigang tahun dados guru, lajeng pindah dados sales…”

Upss…!!.langsung ciut nyali saya; berharap mengajak putri ibu tersebut jadi guru PAUD. Tapi saya tidak selesai bertanya sampai di situ.

“Kerjanya di kantor ya, Bu?” Tiba- tiba saja saya ingin tahu apakah pekerjaan yang dipilih anaknya ini selain pertimbangan gaji mungkin ada pertimbangan kenyamanan di tempat kerjanya , dan jawabanya di luar dugaan saya.

” Tidak di kantor. Tapi jalan-jalan, sebagai sales marketing…” Jawabnya dan kemudian melanjutkan cerita pekerjaan anaknya yang lain, juga bukan guru. Saya mengira saja, mungkin gajinya juga besar atau lebih besar dari guru. Saya maklumi orang tua pasti memiliki kebanggaan tersendiri atas capaian anak-anaknya untuk diceritakan kepada orang lain.

Saya jadi teringat pesan dan harapan almarhumah ibu saya, agar saya menjadi guru.

“Kalau kamu jadi guru, paginya mengamalkan ilmu di sekolah, pulang mengajar kamu bisa buka toko di rumah”. Saya pahami dari pesan ibu saya ini, bahwa guru tidak dianggap sebagai aktivitas ekonomi karena saya disuruh ibu saya membuka toko pada siang harinya.

Semoga rezeki para pendidik Indonesia barokah, ada aktivitas lain selain menjadi guru agar tidak menggagu niat baik menjadi guru sebagaimana pesan Mbah Kyai Maimoen Zubair yang diviralkan sepanjang waktu.

“Nak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah”.
Untuk mengingatkan saya sendiri, saya cuplik pesan berikut ini.
“Mencari rezeki jangan mencari banyaknya, tapi carilah barokahnya ( Ali Bin Abi Thalib).

( Astatik Bestari)

Facebook Comments

POST A COMMENT.