Linguistic Convergence dan Karakter Anggota GWA

Oleh : Dr. Djuwari, M.hum
Media sosial (medsos) ada bermacam-macam. Pada awalnya, pernah ada friendster. Kemudian, ada tweeter, facebook, instagram, dan juga WhatsApp (WA). Hampir semua medsos tersebut bisa menampung banyak teman atau anggota. Namun, WA terbatas jumlahnya. Sekitar 250 an anggota dalam Grup WA (GWA).
Dalam teori sosiolinguistik (Hantgan, A. (2017), ada istilah linguistic divergence (LD) dan linguistic convergence (LC). Kedua istilah ini penting untuk dipahami jika kita ingin lebih terampil berkomunikasi dalam komunitas GWA. Ini karena sering ada gesekan-gesekan atau sedikit miskomunikasi terjadi. LD adalah alat linguistik (linguistic tool) dengan cara mempertahankan posisi atau derajad seseorang dalam komunikasi. Ini bisa dilihat dari pilihan kata (bahasa tulis) dan nada (jika lisan).
Pilihan kata (diksi) seseorang merupakan alat linguistik yang bisa dipakai menjaga jarak. Dia memposisikan diri lebih tinggi bak penguasa atau pimpinan. Inilah yang dinamakan menjaga jarak dengan aksen (jika lisan) atau pilihan kata (accents or diction). Misalnya, bahasa seorang karyawan yang lebih bawah posisinya dengan “ciri bahasanya”, berkomunikasi dengan atasan, raja, maka pilihan kata berbeda.
Seorang anggota menggunakan kosa kata sesuai dengan pilihan kata yang dia sering gunakan. Adapun Si Raja, menggunaan pilihan kata sesuai dengan bahasa kerajaan (royal family). LD juga bisa antara seorang pimpinan di dalam perusahaan atau kantor birokrasi pemerintahan. Ketika berkomunikasi dengan bawahannya, dia senantiasa menggunakan pilihan kata sesuai dengan posisinya, misalnya pilihan kata bernada perintah resmi. Termasuk nada atau juga aksen. Jika ada kebetulan terjadi, ini sebaiknya dikomunkasikan jaringan seacra pribadi (Japri).
Contoh-contoh komunikasi dalam LD tersebut akan menghasilkan hubungan dengan jarak psikologis. Formal dan cenderung menggambarkan adanya atasan atau orang lebih tinggi dan orang lebih rendah. Hubungan itu selayaknya dipakai dalam komunikasi resmi di perkantoran perusahaan atau birokrasi.
Berbeda dengan Linguistic Convergence (LC). Dalam komunikasi, individu saling menyesuaikan salah satu. Misalnya, orang yang berposisi pangkat tinggi berbicara dengan orang yang lebih rendah, dia mengikuti bahasa denga pilihan kata-kata informal. Bahasa sehari-hari dalam pergaluan orang-orang biasa. LC juga bisa dicontohkan antara orang tua kepada anak kecilnya. Komunikasi ini akan menhasilkan hubungan lebih akrab dan lebih dinamis.
Namun, dalam tataran komunitas, kelompok, atau grup dengan anggota yang bermacam-macam, LC di samping menunjang komunikasi lebih lancar dan dinamis, LC bisa berubah menjadi petaka jika dilakukan secara berlebihan (overdone). LC apa pun masih merupakan alat linguistik (linguistic tool) yang bermanfaat untuk memperlancar komunikasi dalam setiap komunitas yang beragam.
Persoalannya adalah, karakter individu dalam komunitas atau grup bisa saja masih melekat dalam dirinya sebuah posisi atau jabatan yang dimiliki dalm sebuah peruhasaan atau birokrasi. Dalam medsos, utamanya GWA, maka orang-orang jenis ini cenderung serba salah.
Tanpa disadari, individu yang tidak bisa LC maka dia senantiasa memilih kata mendudukkan dirinya lebih tinggi. Sementara lawan komunikasinya masih tetap menggunakan pilihan kata yang sama dalam posisi rendah. Di sinilah, liku-liku menjadi anggota grup medsos, khususnya GWA.
Perlu diingat, bahwa GWA itu bukan organisasi atau komunitas resmi yang dibentuk dengan aturan-aturan formal. Sering GWA itu dibuat tanpa ada visi misi yang formal bak organisasi atau kantor birokrasi. Jika individu terjebak dalam komunikasi LD, dan banyak anggota yang senantiasa tidak bisa LC, maka gesekan-gesekan terjadi.
Yang paling menderita adalah individu atau anggota GWA yang belum memahami sifat komunitas atau grup medsos secara hakiki. Komunitas medsos itu tidak ada kesepakatan atau rules-based. Jika ada yang ber-LD-ria, maka dia akan menjadi anggota yang senantiasa sebagai trouble maker.
Untuk itu, ada beberapa jalan terbaik dalam menyiasati komunitas medsos GWA. Pertama, berusahalah untuk bisa melakukan LC dan memersepsikan bahwa itu sebagai komunitas tanpa struktur organisasi resmi. Dengan melalukan LC dan memiliki perspsi GWA seperti itu, maka setiap anggota tidak menjadikan medsos GWA medsos yang serba salah.
Kedua, jika membuat GWA akan lebih afdol jika maksud dan tujuannya sudah dijelaskan sebelumnya. Banyak GWA yang bernuansa religius. Banyak juga GWA khusus dosen bidang ilmu atau disiplin tertentu. Banyak juga GWA dengan anggota para pakar penulis, jurnalis, dan juga penerbit jurnal ilmiah. Ketiga, mengenal nama grup itu saja sudah bisa menggambarkan cirinya kemudian “sepakat.”
Dalam mengawali pembukaan GWA, para admin (jika lebih dari satu orang) selalu menyampaikan tujuan-tujuan dibuatnya GWA. Dan, jika ada anggota baru masuk, maka anggota baru itu harus berusaha ingin tahu GWA dan tujuannya. GWA akan lebih awet dan menentramkan, jika setiap anggota sudah bisa LC. Jika setiap anggota saling melakukan LD bukan LC, maka gesekan-gesekan akan terjadi.
Namun, yang lebih penting adalah memersepsikan GWA sebagai medsos bukan organisasi formal. LC sangat tepat. Misalnya, dengan pilihan kata (diksi) yang tidak sesuai dengan heterogenitas anggota GWA. Komunitas GWA itu bagus, jika setiap anggota memahami heterogenitas anggota dan berusaha melakukan LC, bukan senantiasa LD.
Bisa disadari, bahwa menjadi anggota komunitas GWA itu gampang-gampang susah. Gampang jika kita tahu heterogenitas dan mampun melakukan LC. Akan mejadi susah jika kita senantiasa jaga jarak dengan melakukan LD. ***

Facebook Comments

POST A COMMENT.