Memimpikan Pendidikan yang Humanis

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

Ada ide para kawan alumni dari Universitas Negeri Malang (UM). Pada susatu hari, rekan-rekan ini mengajak berkumpul untuk menggagas sebuah rancangan dalm bentuk buku terkait pendidikan yang humanis. Secara konseptual, memang kata humanis itu sangat abstrak. Namun, jika dikaji secara definitif dari kata itu, setidaknya ada konsep yang bisa dirancang.
Kata humanis, di dalam Kamus Miriam Webster, dijelaskan sebagai sebuah doktrin, sikap, atau cara hidup yang berpusat pada kepentingan atau nilai nilai hakiki manusia. Humanis, juga diuraikan sebagai sebuah filosofi hidup yang biasanya menolak kekuatan mutlak yang tak bisa dibandingkan dengan akal.
Lebih jauh dari itu, kamus Miriam Webster menjelaskan juga kata humanis sebagai nilai-nilai yang menekankan martabat dan harga diri individu sehingga dengan kemampuannya, individu tersebut bisa mencapai realisasi diri melalui akal sehat.
Adapun pendidikan— dalam tataran sebuah sistem di suatu negara— merupakan sebuah rencana strategis mendidik bangsa. Tentunya, mendidik bangsa untuk mencapai cita-cita luhur agar bisa cerdas rohani jasmani. Ini sudah dituangkan dalam pembukaan Undang Undang Dasar (UUD), bahwa bangsa kita waktu ingin merdeka, sudah menuliskan janji di dalam pembukaan UUD tersebut untuk ikut mencerdaskan bangsa. Merdeka sekaligus mendidik bangsanya yang sudah merdeka agar bangsanya cerdas jasmani dan rohani.
Namun, kecerdasan itu harus bertumpu pada nilai-nilai kualitas sebagai manusia. Nilai-nilai sebagai kualitas manusia berarti nilai-nilai yang terkait dengan nilai-nilai humanis. Sistem pendidikan nasional memerlukan rancangan (grand design) berupa arah program pendidikan secara holistik nasional.
Sistem tersebut berbentuk sebuah doktrin, sikap, atau cara hidup yang berpusat pada kepentingan atau nilai nilai hakiki manusia. Dalam konsep sistem pendidikan nasional, berarti juga tergambarkan sebuah filosofi hidup bangsa yang menolak kekuatan mutlak yang tak bisa dipikirkan dengan akal.
Dalam naungan sistem pendidikan nasional, semua individu warga negara memiliki nilai-nilai yang menekankan martabat dan harga diri mereka tanpa kecuali. Dengan memiliki nilai-nilai tersebut, setiap warga negara mampu hidup untuk mencapai realisasi diri melalui akal sehat. Intinya, sistem pendidikan itu senantias menjunjung tinggi harga diri setiap individu untuk mencapai tujuan hidup yang terbaik untuk dirinya. Ini berlaku untuk semua warga negara di mana pun berada.
Jika konsep sistem pendidikan nasional mengarah pada pendidikan yang humanis, maka ini harus tampak ke bawah dalam tataran kebijakan sampai pada operasional di lapangan. Nilai-nilai humanis sudah tampak dalam realita. Dengan kurikulum dan silabus serta pola pengembangan materinya juga searah dengan konsep sistem pendidikan yang humanis.
Kesetaraan dan kesamaan dalam memperoleh kesempatan pendidikan juga merupakan terjemahan konsep sistem pendidikan humanis. Tampak pula semua kebijakan pendidikan yang humanis. Semua terjemahan konsep itu menurun ke bawah dalam bentuk tataterbit prosedur yang searah. Sistem pendidikan untuk mencerdaskan bangsa itu tidak sekadar cerdas akal, melainkan juga cerdas emosinya, cerdas sosialnya, dan cerdas religiusnya. Kecerdasan semua itu akan mengarah sebuah nilai-nilai dengan soft skill yang berkualitas.
Itu sebabnya, jika sistem pendidikan nasional belum bisa menerjehamkan konsep-konsep nilai tersebut, sistem itu memerlukan redefinisi. Proses ini akan menjadi tonggak perubahan sistem yang benar-benar terencana dengan grand design membentuk sebuah bangsa yang ideal. Sebuah bangsa yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa (the founding fathers).
Semua konsep bisa diterjemahkan ke dalam kebijakan dan operasional di lapangan. Di sekolah-sekolah rancangan kurikulumnya dan silabus materi setiap mata pelajaran atau kuliahnya, mengarah dan menuju satu konsep. Konsep inilah yang akan mengarahkan setiap pemimpin yang berkuasa di setiap estafet kepemimpinannya. Konsep utuh itu dalam bentuk grand design menciptakan bangsa dan berkelanjutan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Mampukah seluruh penguasa meredefinisi sistem dan konsep pendidikan nasional menuju pendidikan yang humanis? Atau sudahkan arah itu terkonsep secara holistik? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan berupa solusi yang terbaik dalam merancang sistem pendidikan nasional— pendidikan yang humanis.
Penulis: Pengamat Pendidikan dan Sosial,
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Facebook Comments

POST A COMMENT.