Ketika Orang Tua Terlalu Protektif…

estiOleh: Esti Diah Purwitasari, guru di Surabaya Grammar School

MEPNews.id – Saat anak menjalang masa remaja, dia akan menghadapi kesuksesan dan kegagalan. Sudah saatnya ia menghadapi kenyataan hidup. Agar masa depan hidupnya lebih matang dan terstruktur dengan baik, ia perlu untuk mengalami kesuksesan dan kegagalan. Kesuksesan bisa dijadikan pijakan mental untuk meraih kesuksesan berikutnya. Kegagalan juga bisa dijadikan alat untuk memahami kekeliruan serta menyadari ada kekuatan Mahabesar di atas sana.

Dalam sejumlah kasus, ada orang tua yang tidak ingin anaknya mengalami kegagalan atau permasalahan hidup. Ada orang tua yang selalu melindungi anaknya dari rasa sakit, dari kegagalan, dari kesedihan, dari penolakan, dari pengalaman buruk. Ini tipe orang tua yang overprotective alias terlalu melindungi. Wajar, jika orang tua melindungi anak. Namun, jadi tidak wajar jika perlindungan itu berlebihan. Anak bisa kehilangan kesempatan mengalami kegagalan akibat sikap orang tua.

Bagaimana ciri-ciri orangtua yang overprotektif? Newhealthadvisor.com memberi tanda-tanda sebagai berikut;

  • Memecahkan semua masalah anak
  • Terus-menerus menghubungi anak saat jauh
  • Bekerja keras untuk memastikan anak berhasil
  • Memberi terlalu banyak perhatian pada anak jika ada sesuatu yang tidak beres
  • Mengontrol pertemanan
  • Terus bertanya pada anak, temannya, bahkan gurunya untuk mengetahui apakah anaknya baik-baik saja
  • Sering bertanya tentang perkembangan kehidupan anak
  • Tidak memberi anak pekerjaan mengurus rumah
  • Menghalangi anak untuk mengambil risiko
  • Tidak mendidik anak tentang dunia nyata apa adanya
  • Dan sejenisnya

Perilaku demikian bisa berbahaya bagi anak di masa mendatang. Kelak, besar kemungkinan anak akan menderita akibat ‘perlindungan’ orang tua. Dalam kebanyakan kasus, efeknya bisa sangat negatif.

Orang tua yang terlalu protektif akan menjadikan anak-anak sebagai ‘tahanan’ di rumah sendiri. Anak-anak tidak dapat mengalami dunia seperti apa adanya. Akibatnya, anak tidak mampu membuat keputusan independen tanpa menunggu jawaban dari orang tua.

Jika ada orang tua yang berpikir bahwa memproteksi anak akan memberi mereka kehidupan yang bebas-stres, maka itu salah. Dalam kebanyakan kasus, anak-anak yang orang tuanya terlalu protektif justru cenderung menderita kegelisahan dan depresi. Itu karena orang tua mengendalikan seluruh urusan mereka.

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga mendapatkan kepercayaan diri setelah bekerja keras untuk mencapai tujuan. Namun, orang tua yang terlalu protektif akan menghalangi kesempatan anak untuk mendapatkan keterampilan apa pun. Ini membuat mereka merasa seolah-olah tidak mampu melakukan sendiri dengan benar. Anak akan kehilangan kepercayaan diri di masa depan.

Salah satu tanggung jawab orang tua adalah mempersiapkan anak menjadi orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab di masa depan. Namun, jika terlalu protektif, orang tua justru menghambat anak menuju kematangan.

Facebook Comments

POST A COMMENT.