Bangga, Melihat Bergairahnya Anak Muda Menggeluti Animasi

adriono

Catatan: Adriono

ANIMASI KITA

Kali ini kukunjungi Bali tidak sebagai pelancong. Yang kudatangi bukan pantai atau pura, melainkan tempat pelatihan anak-anak muda yang begitu bergairah menggeluti dunia animasi. Di Balai Diklat Industri Denpasar (BDI), Jl.WR. Supratman 302, saya menyaksikan geliat animator Indonesia yang percaya diri turun berkompetisi.

Lihatlah, ratusan anak muda dari berbagai daerah dikirim ke sini untuk belajar secara konkret dengan sarana prasarana yang amat memadai. Mereka tidak sekadar dikenalkan bisnis animasi tetapi dilatih skill spesifik. Maka ada angkatan yang khusus belajar motion grafic, ada yang belajar 3D Rigging, bikin story board, script, colouring, special effec, hingga mencipta karakter animasi.

“Kami di sini mencoba menyembatani kesenjangan kebutuhan industri dengan lulusan sekolah. Permintaan industri animasi sangat tinggi tapi SDM terampil kita sangat terbatas,” kata Drs. Paryono, MM, Kepala BDI, kepada saya dan Mas Thonthowi Djauhari.

Rupanya balai milik Kementerian Perindustrian ini telah banyak berubah. Dulu BDI pekerjaannya hanya sebatas memberi pelatihan para aparatur pegawai negeri untuk peningkatan karier.

 

Sekarang mereka membuka diri bagi masyarakat luas, utamanya para pencari kerja. “Kami menerapkan konsep three in one. Anak-anak ini dilatih, disertifikasi, kemudian ditempatkan ke perusahaan animasi,” katanya. Enak sekali.

Sungguh beruntung remaja yang sempat belajar secara gratis di sini. Tetapi peserta diklat memang harus memiliki kemampuan dasar-dasar komputer seperti corel draw atau photo shop. Satu lagi, diharapkan mereka mampu menggambar secara manual.

“Nah, ini masalahnya. Sekarang tidak gampang cari anak yang bisa nggambar .” Kenapa begitu? Paryono menilai ada yang keliru dengan sistem pendidikan formal kita. Sejak kecil anak-anak hanya dibiasakan mewarnai, bukan dilatih menggambar.

Di mana-mana digelar lomba mewarnai, amat jarang dilakukan lomba menggambar. Mata pelajaran menggambar juga kurang dihargai. Zaman dulu, cara pegang pensil dan menggambar benar-benar diajari oleh guru.

Nah lo, secanggih apapun teknologi olah gambar grafis, ternyata tetap menuntut kemampuan dasar: menggambar manual plus daya kreatif individu.

adrionomatabaru.blogspot.com

Facebook Comments

POST A COMMENT.