Penari Merak Barong Itu Guruku

MEPNews.id – Irama kendang yang semakin kencang membuat Barong ikutan menggila. Dia memutar-mutarkan tubuhnya hingga kepalanya. Sesekali keluar suara menggeram seperti suara harimau dari pesinden laki-laki yang mengiringi tarian Dadak Merak Barongan asli Ponorogo ini. Sementara, penonton yang menyaksikan tak bergeming dari tempat duduknya.

Entah berapa lama aku menyaksikan tarian tersebut, hingga suara lirih laki-laki di belakang menyadarkanku. Laki-laki itu kulihat letih. Dari sekujur tubuhnya keluar keringat tanda ia baru saja melakukan pekerjaan sangat berat.

Ya! Laki-laki itu yang baru saja melakoni Tari Barong. Ia kelelahan karena harus mengangkat Merak Barongan seberat 50-60 kg di kepalanya sambil menari mengikuti irama musik. Hebatnya, Merak Barongan berbentuk kepala harimau dengan bulu merak seperti kipas itu harus digigit untuk bisa lekat di kepalanya. Bisa dibayangkan betapa keras kerja gigi, geraham, dan mulutnya menahan beban begitu berat, dan dalam kondisi selalu bergerak atau kena hembusan angin.

Kuikuti langkahnya menuju sepeda motor yang diparkir di ujung selatan lapangan Desa Randugede di lereng gunung Lawu sisi tenggara. Laki-laki itu menghidupkan motornya, dengan aku ada di belakang mengikuti. Diarahkannya sepeda motor itu melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan menanjak.

Hanya perlu waktu 15 menit untuk sampai di rumahnya. Rumah yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang belum diplester di bagian luar. Di depan rumah ada dua pohon mangga yang sedang berbuah. Di samping rumah terdapat pekarangan 2 x 10 meter yang ditanami singkong gunung.

“Masuklah!” terdengar suara ringan itu memerintahkan aku untuk masuk.

Tanpa disuruh, aku langsung duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati. Tak berapa lama seorang perempuan setengah baya membawa nampan berisi dua gelas teh dan menyilahkan aku minum. Aku anggukkan kepala samar.

Teh tidak kuminum, karena menunggu. Sekitar 15 menit kuhabiskan untuk memuaskan mata memandangi sekeliling rumah, sampai laki-laki itu keluar dan duduk di hadapanku. Bau harum sabun tercium dari aroma tubuhnya setelah mandi.

“Minumlah!”

Tapi, aku tunggu sampai laki-laki di hadapanku meneguk tehnya.

Laki-laki di hadapanku itu adalah guruku, Pak Nur Arif Rahman. Kuperhatikan raut wajahnya. Masih sangat muda. Kulitnya putih bersih. Jika tersenyum, seluruh urat di wajahnya ikut bergerak. Baru dua tahun ia mengabdi sebagai guru di sekolahku.

Yang membuat aku tertarik pada pribadinya adalah dia pendiam, sabar, dan tak pernah menampakkan kemarahan di kelas saat mengajar bagaimanapun keadaannya. Aku sempat berpikir ini apa orang apa nggak punya emosi ya?

Teh yang masih panas di pegangan tanganku aku minum sedikit. Bau khas teh desa yang airnya direbus menggunakan kayu tercium di hidungku. Sangit!

Kemudian, kudengar suara Pak Nur tak terlalu keras menanyakan keadaanku. Kujawab seadanya. Tak berapa lama, kudengar lagi suaranya menceritakan kehidupannya.

Beliau anak tunggal dari suami-istri petani gunung, bukan dari keluarga mampu. Walau anak tunggal, ia tidak manja. Perjalanan hidupnya dilakoni dengan keras. Mulai jadi kuli proyek pembuatan aspal jalan, mencuci piring di restoran, jadi kasir, hingga jadi manajer restoran. Di waktu senggang, ia mengantar kakeknya keliling desa jadi tukang pasang gigi. Desa-desa di Magetan, Madiun, dan Ngawi sudah dijelajahinya. Sebagian besar uang hasil kerjanya digunakan untuk biaya kuliah di sebuah institut keguruan. Itu karena ia ingin menjadi guru.

Pak Nur Arif tidak suka berpangku tangan. Kegiatan pemuda di desanya, termasuk Karang Taruna, dicobanya untuk dikembangkan. Ia dan para pemuda mengembangkan lokasi wisata panjat tebing, out bound, dan pengembangan tanaman kebun termasuk ketela. Ketela di desa ini rasanya pulen karena struktur tanahnya yang mendukung serta sudah diteliti Badan Litbang Kota.

Yang tak kalah menarik, Pak Nur juga menguasai kesenian Merak Barong Reog Ponorogo. Untuk kuat mengangkat Merakan, ia tidak memakai sotren (kekuatan ghaib yang diisikan ke dalam tubuh). Betul-betul mengandalkan kekuatan fisiknya sendiri. Lalu, berapa yang didapatkan dari kerja keras menari Merak Barong? Untuk sekali bermain, ia mendapat bagian Rp. 50.000,00. Jika ada yang memberi saweran, pendapatan dari nari Barongan bisa bertambah. (Iin Indarti)

Facebook Comments

POST A COMMENT.