Belajar Itu Butuh Perjuangan

agus hariono

Oleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Pernah saya ditminta teman, “Eh, tolong dong saya diajari menulis. Saya ingin sekali bisa menulis. Tolong ya.”

Saya jawab dengan pertanyaan, “Kamu siap dengan segala risiko dan tantangan ketika proses belajarmu sedang berlangsung?”

“Iya, saya siap. Saya sudah yakin bahwa saya pasti bisa.”

Keyakinan itu lah yang membuat hati saya luluh, kemudian mengiyakan permintaannya.

Proses latihan pun berjalan. Sehari, masih nampak aura semangatnya. Seminggu, mulai nampak ia diserang virus malas. Sebulan, nyaris tidak ada kabarnya.

Maka, saya coba mengetahui kabarnya. “Hallo, bagaimana latihannya? Kok mampet tidak lagi setor?”

“Begini, Kawan. Saya sedang sibuk urusan ini, sedang repot urusan itu.”

Dan, tebakan saya benar, pasti alasan sibuk menjadi nomor wahid untuk tidak menulis.

Saya mengamati kejadian semacam ini sering terjadi, khususnya di kalangan para pembelajar. Bahwa, memunculkan keinginan itu sangat mudah, tapi kemauan untuk memperjuangkannya yang sulit. Iya, semua kita paham. Apa sih di dunia ini yang tidak mengandung risiko dan tantangan? Semua hal pasti terdapat risiko dan tantangan. Hanya saja, intensitasnya yang kadang berbeda.

Di antara kita sebenarnya sudah banyak yang tahu tentang kejadian tersebut. Tapi, kebanyakan kita tidak sadar. Iya, semua diharapkan mengalir begitu saja. Tanpa ada rasa kritis sedikit pun bahwa air mengalir itu selalu ke tempat yang lebih rendah. Tidak ada air mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Kalau pun ada, pasti ada energi tambahan yang mendorong air tersebut.

Kesadaran dan pikiran kritis bagi seorang pembelajar sangat penting. Kasadaran terhadap risiko dan tantangan dalam belajar. Apa implikasi bahwa kita telah sadar terhadap risiko dan tantangan dalam belajar? Tentu yang paling menonjol adalah pantang menyerah. Berusaha menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Tidak mengeluh, terlebih hingga menebar virus negatif kepada teman yang lain.

Risiko dan tantangan dalam belajar itu akan sirna manakala kita tetap berada di barisan depan untuk tetap berkomitmen bahkan kita tidak akan mundur sejengkal pun ke belakang. Segera tepis pikiran negatif, hindarkan diri dari rasa malas, dan terus berjuang mengerjakan tugas semampu yang bisa dilaksanakan.

Belajar memang butuh perjuangan. Perjalanan orang yang tengah belajar itu tidak pendek dan datar, melainkan panjang, berliku, penuh aral dan rintangan. Dibutuhkan mental baja untuk menjadi seorang pembelajar yang tangguh, yang kuat terhadap gempuran keputusasaan, yang tegar terhadap gerusan rasa malas, yang kokoh terhadap terpaan pikiran-pikiran negatif di benak.

Oleh karena itu, semua ada dalam kendali kita. Mau jadi apa kita ya tergantung pada kemauan kita. Kita yang akan datang tidak akan terlepas dari proses yang terjadi sekarang ini. Mental kita di masa depan tergantung pada latihan kita masa sekarang. Jika hari ini kita telah bersusah-payah melawan deburan rasa malas, esok kita akan menikmati semilirnya angin kemenangan. Tidak ada waktu lagi kapan kita akan mulai selain ‘sekarang.’ Tidak ada orang lain lagi yang dipaksa untuk melakukan selain ‘kita’ sendiri. Dan tidak ada awalan yang besar sebelum diawali dari yang ‘kecil’.

Semangat tanpa batas.

Facebook Comments

POST A COMMENT.