Yes, I Can Do It

magetan siswantoOleh: Sutanto

Guru di SDN Sukowinangun 3, Magetan

MEPNews.id – Ternyata, membangkitkan motivasi untuk menulis itu tidak gampang. Dalam pelatihan ‘Gerakan Literasi Sekolah’ yang diikuti guru-guru Kabupaten Magetan, panita meminta peserta untuk membuat naskah tulisan dan mengirimkannya sebagai syarat untuk pengambilan sertifikat. Namun, dari 205 guru yang ikut pelatihan, baru sembilan yang mengirimkan naskahnya.

levelKalau melihat ilustrasi berikut ini, entah berada di tangga mana teman-teman guru berada. Panitia berharap para guru minimal berada di level ‘I want to do it’. Ketika memutuskan ikut pelatihan menulis, mereka pasti sadar bahwa dari hasilnya adalah bisa ‘menulis’. Namun, kenyataan menunjukkan di level itu saja masih berat.

Maka, saya mencoba berpikir dan menyelami, kiranya apa yang menjadi penyebab teman-teman tidak termotivasi untuk menulis.

Pertama, sepertinya orang harus mempunyai bakat untuk menulis. Benarkah? Jika demikian, bagaimana teman-teman ketika kuliah S1 diharuskan membuat makalah, tugas akhir atau skripsi? Setiap orang sebenarnya sejak lahir punya potensi apa saja. Potensi ini sikapnya pasif. Jika diaktifkan, maka potensi bisa menjadi bakat. Artinya, semua orang berpotensi dan bisa mempunyai bakat. Potensi ada di tiap gen semua manusia. Untuk itu, harus ada minat yang dijalankan dengan upaya latihan dan praktek. “Dalam menulis, bakat memang penting, tetapi ketekunan dengan latihan terus-menerus adalah yang utama,” kata Jessamyn West.

Kedua, menulis harus menghasilkan sesuatu yang baik, yang luar biasa, yang bisa masuk koran dan lain-lain. Benarkah? Untuk memulai menulis, jangan dulu memikirkan apakah hasilnya nanti bagus atau baik, diminati orang atau tidak. Tulis saja apa yang ada di pikiran. Pikirkan tema yang mau ditulis.Tema itu bisa didapat dari mana saja. Yang paling mudah adalah pengalaman hidup sehari-hari.

Dalam pelatihan GLS, seorang peserta bertanya bagaimana guru melatih anak-anak untuk bisa menulis? Pelatihnya menjawab, silakan anak-anak diminta menuliskan kegiatan apa saja yang sudah dilakukan ketika bangun pagi hingga sampai di sekolah dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan nanti sepulang sekolah. Best answer!

Selesaikan dulu tulisan, baru kemudian diedit. Sering kita menyampaikan ke anak-anak agar jangan keseringan menghapus (untuk mengedit) apa yang mereka tulis. Jadinya, tulisan tidak pernah selesai. Malahan yang terjadi kertasnya sobek karena sering digosok dengan keras. Demikian dengan kita yang mencoba menulis. Jangan keseringan dipikir, diedit, dihapus. Nanti tulisan tidak akan selesai. Selain itu, tak perlu kecewa dengan hasil tulisan kita ketika orang tak berminat membacanya.

Ketiga, untuk menulis harus mempunyai perbendaharaan kata yang keren-keren, istilah-istilah asing. Apa benar? Ya tidak harus seperti itu. Gunakan bahan apa saja yang ada, yang mudah dipahami. Kata-kata sederhana yang dikuasai bisa dirangkai dan diolah menjadi kalimat-kalimat bersahaja dan mudah dimengerti. Itu yang penting. Memang, supaya menghasilkan tulisan yang tidak membosankan, pemilihan diksi harus menjadi pertimbangan. Namun, yang lebih prinsip adalah tulisan itu mudah dimengerti.

Semoga tulisan ini bisa menyemangati dan memotivasi teman-teman untuk segera banyak menulis. Agar lebih termotivasi, yuk kita baca caption di bawah ini;

Kegiatan menulis itu (apa pun level dan bentuk tulisannya), merupakan kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang  cerdas! Orang-orang  CERDAS bukan hanya yang memiliki IQ tinggi dengan seabrek gelar akademik, tapi lebih kepada orang yang mampu MENULIS dengan sistematis atas apa yang dipikirkannya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.