Profesi adalah Ladang untuk Perbaiki Diri

magetan yusiOleh: Yusi Wahyuning Tyas Budi Astuti

Guru kelas 3 SDIT Al Uswah, Magetan

MEPNews.id – Profesi sebagai pekerja dewasa ini sering dianggap sebagai pintu gerbang kemakmuran finansial. Selain itu, pekerja yang mendapatkan gaji rutin tiap bulan bisa diartikan sebagai ‘zona aman’ bagi penghidupan pembiayaan keluarga. Salah satu profesi yang saat ini banyak difavoritkan para lulusan adalah guru.

Guru, dalam akronim bahasa Jawa, dari kata ‘digugu lan ditiru’. Dalam Bahasa Indonesia, itu bisa diartikan sebagai orang yang bisa dipercaya dan patut dicontoh. Guru adalah orangtua kedua bagi muridnya, yang bisa sangat mereka percaya bahkan mungkin melebihi orangtuanya.

Dewasa ini banyak sekali anak muda yang bercerita kelak mereka ingin jadi guru. Saat ditanya alasannya, ternyata menurut mereka profesi itu sangat menjanjikan cerahnya masa depan. Ironis memang. Begitu kental dan lekatnya nilai materialistis dalam setiap sendi kehidupan masyarakat muda dewasa ini.

Walau demikian, masih ada beberapa orang yang tampak lugu dan naif mengatakan, “Aku ingin menjadi guru, karena bisa menjadi amal jariyahku dan penolongku di hari akhir.”

Ya, orang-orang yang tampak lugu dan naif dengan konsep sederhana ini lah yang ingin mengubah dunia. Kenapa bisa begitu? Karena niatan ‘lillahi ta’ala’ yang menggerakan mereka. Karena kecintaan pada Rob lah yang menggerakkan setiap langkah, pola pikir, tindakan, dan perkataan mereka.

Seringkali ada komentar usil, “Mana mungkin? Mau digaji sedikit?”

Percayalah kawan. Saat hatimu bergerak dan tubuhmu bekerja karena kecintaan pada Rob-mu, Allah-mu, Pencipta-mu, maka kau akan memberikan energi secara maksimal atas apa yang kau kerjakan. Energi yang akan menggerakkan lebih banyak pintu rejeki dari banyak arah, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Seperti janjiNya: “Maka Aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12).

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Kerjamu adalah ibadahmu. Allah sebagai Tuhan pencipta sekalian alam adalah sebaik-baiknya hakim dan penilai.

Seorang sahabat saya bertutur, “Jika kerjamu senilai dengan 5 juta rupiah, dan tempatmu mengajar hanya mampu menggajimu dengan sepersepuluh nilainya, maka jangan pernah takut. Allah lah yang nanti akan menggenapinya. Maka, bergeraklah. Tetap terus bergerak. Biarkan gerak kerjamu yang akan menarik hak rizki milikmu yang ada di langit dan di bumi agar lebih dekat.”

Keyakinan itu lah yang terus harus kita tanamkan pada diri kita semua. Nilai hasil kerja kita bukanlah semata-mata besarnya nominal yang tercetak di depan mata. Ada banyak rumus matematikaNya yang jauh dari jangkauan nilai dan akal manusia. Nilai yang mungkin mustahil bagi kita namun sangat mungkin bagiNya. Cukuplah kita bekerja dengan lillahi ta’ala, dengan landasan takwa dan cinta kita padaNya. Maka Allah akan melibatkan diriNya dalam setiap urusan kita.

Bergerak…..bergerak….bergerak. Perbaiki diri…. pantaskan diri. Berdoa…..berdoa….berdoa.

Maka, Dia akan terlibat dalam setiap urusanmu. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.