Berlatih Menulis Itu Harusnya Sejak Dini

magetan indartiOleh: Indarti

MEPNews.id – Imam Ghazali pernah menyatakan, “Jika engkau bukan anak seorang Raja, dan bukan anak seorang Ulama, maka jadilah penulis.” Ungkapan di atas menyiratkan betapa menjadi penulis adalah posisi yang demikian istimewa.  Namun, untuk jadi penulis, dibutuhkan usaha; berlatih dan berlatih. Bahkan, berlatih sejak usia dini.

Setiap anak diberi kecerdasan linguistik dengan tingkatan berbeda. Melatih anak untuk bisa menulis (mengarang) bisa dimulai ketika kita perkenalkan suku kata, kata dan akhirnya kalimat sederhana. Kemampuan menulis dengan baik sejak usia dini akan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan anak mengekspresikan gagasan dan imajinasi.

Ketika mulai mengajarkan anak untuk bisa menulis, mereka harus memperkaya kosa kata dan varian kata.  Pembelajaran dan pengenalan kata serta kalimat sederhana harus dikembangkan. Jika selama ini yang diajarkan hanya kalimat-kalimat seperti: Ini Bapak Budi, Ini Ibu Budi, Budi Suka Susu, dan lain-lainnya, maka guru harus lebih kreatif menambahnya. Kalimat-kalimat sederhana yang bila dirangkaikan menjadi puisi atau cerita pendek.

Nurgiyantoro (2001: 296) menyatakan, menulis merupakan kemampuan yang lebih sulit dikuasai dibandingkan tiga kemampuan lain yaitu menyimak, berbicara, dan membaca. Sebenarnya, sulit atau mudahnya kegiatan sangat bergantung pada bagaimana seseorang mendapatkan bimbingan, stimulan dan dorongan dari orang lain yang lebih kompeten.

Menulis, seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih. Ketekunan, kesabaran dan latihan  menulis yang terus-menerus akan menjadikan seseorang trampil.

Guru bahasa Indonesia adalah ujung tombak pembelajaran menulis di kelas. Agar pembelajaran menulis bahasa Indonesia meningkat, guru juga harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan tujuan menulis.

Guru bahasa Indonesia harusnya sering memberikan tugas mengarang atau menulis untuk mengasah ketrampilan siswa. Momen untuk mengasah ketrampilan siswa menulis antara lain; setelah liburan, wisata sekolah, hari besar agama maupun hari besar nasional. Siswa diminta membuat laporan aktifitas.

SD Islamiyah Magetan terus mendorong siswa mau menulis. Maka, 10 menit sebelum pelajaran dimulai tiap hari, para siswa diharuskan menulis minimal tiga kalimat di buku khusus. Isinya antara lain menceriterakan biografi mereka sendiri. Maka, dalam satu tahun berjalan, masing-masing siswa bisa menghasilkan ‘karya tulis.’

Menurut Satria Dharma, Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan jantung kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah. Juga, menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan abad 21.

Pernyataan T. S. Eliot (1888-1965), penyair kelahiran Amerika Serikat yang hijrah ke Inggris, “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca” kiranya perlu digarisbawahi.

Dengan dasar itu, pengembangan perpustakaan di SD Islamiyah harus dibarengi ketrampilan menulis oleh siswanya. Ketika siswa sudah membaca buku dan diminta menceritakan kembali isi buku yang baru dibacanya, ia bisa mengungkapkan lagi secara lisan maupun tertulis.

Nah, ini lah Program MEMBACA UNTUK MENULIS.

 

Penulis adalah guru SD Islamiyah, Magetan

Facebook Comments

POST A COMMENT.