Kurang Tidur Perburuk Kondisi Sakit Ginjal

MEPNews.id – Wahai para penderita penyakit ginjal kronis, jangan kurangi tidur. Kondisi sakit ginjal sangat rentan terhadap efek buruk kurang tidur. Begitu diungkapkan makalah baru yang diterbitkan dalam Journal of the American Society of Nephrology dan diringkas BrightSurf.com edisi 14 September 2017.

Penyakit ginjal kronis ditandai dengan hilangnya fungsi secara bertahap dari waktu ke waktu, dan akhirnya gagal ginjal. Dalam kondisi ini, pasien harus menjalani dialisis atau transplantasi ginjal. Penyakit ginjal kronis bisa disebabkan diabetes, tekanan darah tinggi dan gangguan lainnya. Deteksi dini dan pengobatan dapat mencegah penyakit ginjal kronis semakin memburuk.

Tidur yang buruk ternyata terkait dengan fungsi jantung lebih buruk, tingkat peradangan lebih tinggi, resistensi insulin, dan regulasi hormon yang buruk terhadap nafsu makan. Penelitian sebelumnya menunjukkan, tidur yang buruk sering terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis. Namun masih sedikit penelitian yang mengamati efek tidur terhadap perkembangan penyakit ini.

Maka, studi penelitian yang dipimpin Dr Ana Ricardo, profesor kedokteran di University of Illinois di Chicago College of Medicine, dan Kristen Knutson, profesor neurologi dan kedokteran pencegahan di Northwestern University, menguji hubungan antara durasi dan kualitas tidur pada perkembangan. penyakit ginjal kronis di antara 431 pasien.

Responden penelitian berusia rata-rata 60 tahun. Dari total responden, ada 48% wanita dan separuhnya juga menderita diabetes. Responden diminta memakai akselerometer di pergelangan tangan selama lima sampai tujuh hari. Perangkat itu mengukur gerak dan memberi informasi tentang durasi tidur serta periode terjaga. Pasien juga menyimpan jurnal tidur agar mereka mencatat jam tidur. Lalu, para responden ini ditindaklanjuti selama lima tahun.

“Kami mengamati tidur yang sangat terganggu di antara pasien dengan penyakit ginjal kronis,” kata Ricardo.

Rata-rata waktu tidur responden 6,5 jam per malam. Rata-rata, peserta menghabiskan 21 persen waktu tidur pada periode terjaga. Tidur terganggu, yang dikenal sebagai ‘tidur terfragmentasi’, ini dikaitkan dengan risiko peningkatan gagal ginjal.

Dalam tindak lanjut peneitian lima tahun, 70 partisipan mengalami gagal ginjal, dan 48 partisipan meninggal. Meningkatnya tidur terfragmentasi dan memendeknya durasi tidur masing-masing dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal dari waktu ke waktu. “Setiap berkurangnya durasi tidur meningkatkan risiko kerusakan fungsi ginjal dari waktu ke waktu,” kata Ricardo.

Selain itu, kantuk siang hari yang dilaporkan pasien dikaitkan dengan 11 persen peningkatan risiko kematian akibat apa pun.

Penderita penyakit ginjal kronis sering secara bersamaan juga mengalami hipertensi, obesitas dan diabetes. Ricardo menduga, banyak yang mengalami ngorok yang mungkin menjadi penyebab utama buruknya tidur sebagaimana dilaporkan oleh banyak pasien ginjal kronis. “Kami berharap bisa mengukur efek ngorok di antara pasien penyakit ginjal kronis dalam studi berikut,” kata Ricardo.

Timnya memang belum mengkaji kasus mendengkur di antara peserta dalam studi saat ini. Namun Ricardo mengatakan banyak pasien penyakit ginjal kronis cenderung mengalami ngorok karena memiliki faktor risiko serupa, antara lain obesitas, hipertensi dan diabetes.

“Jika kami menemukan bahwa ngorok adalah pendorong utama tidur yang buruk di antara pasien ginjal kronis, maka dimungkinkan perawatan dapat membantu memperbaiki hasil secara keseluruhan,” katanya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.