SASARAN SULIT TERJEMAH VERSUS ERA DIGITAL

Oleh: M. Rusli Abdillah

Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur aduk menggelayut di hati, ketika saya pertama kali sampai di penginapan, di bilangan kaki gunung Ceremai Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Rabu sore, 6 September 2017. Bahagia, karena kali ini saya berkesempatan lagi menatap dari dekat panorama pegunungan yang mampu mengusik diri untuk bernostalgia. Betapa tidak! Ketika menuntut ilmu di Yogyakarta seperempat abad silam, saya menjadi anggota aktif pecinta alam kampus “Madhawirna” – Mahasiswa Kridha Wirabuwana. Yang di sela waktu tidak ada jadwal kuliah dan libur mengajar sebagai guru honorer SMA swasta, saya selalu mencari kesempatan tadabbur alam dengan mendaki gunung. Namun, ketika memutuskan untuk kembali “mengabdi” di tanah kelahiran Kalimantan, hobby “mendaki gunung” otomatis terhenti. Ada juga haru. Karena saya dapat berbagi cerita dengan teman sejawat Pegiat Literasi Terpilih yang berasal dari berbagai penjuru tanah air. Dan…yang lebih membuat hati ini haru biru adalah karena saya mendapat peluang langka, bakal “bersalaman” dengan Mendikbud, dalam acara puncak Peringatan Hari Aksara Internasional ke-52 tahun 2017. Selain itu, tentu saja saya sangat happy menikmati fasilitas serba gratis! Mulai dari penginapan, akomodasi, konsumsi, serta dari dan ke tempat acara selalu diantar jemput oleh panitia dengan tidak perlu menguras isi kantong pribadi.

IMG-20170914-WA0009
Tapi, saya sempat sedih! Tatkala pandangan mata tertumbuk pada spanduk ucapan selamat datang yang terpampang tulisan “Membangun Budaya Literasi Di Era Digital”. Kenapa sedih? Karena membayangkan, ketika nanti saya selaku Tutor Kunjung kembali ke “habitat asal” tanah kelahiran yang kondisinya masih amat jauh dari yang namanya dunia digital. Khususnya di ‘lokasi aktivitas’ yang selama ini saya berkiprah. Yakni lokasi yang tergolong sasaran sulit terjemah (the un-reach location), yang selain mengalami hambatan geografis, belum tersedia jaringan listrik PLN dan kesulitan transportasi, serta minimnya sarana komunikasi. Di sisi lain, produk lokal seperti hasil-hasil: hutan, pertanian, ikan tangkapan tradisional, sulit dipasarkan. Sebaliknya, bahan keperluan pokok sejenis garam, gula, minyak goreng, atau bahan bakar (gas/minyak) sulit didapat, yan tentu saja mengakibatkan terjadinya biaya hidup tinggi.
Ambil contoh lokus aktivitas team-work kami berkiprah di Dusun Beringin Kabupaten Bengkayang, Kalbar. Di sana belum terbuka akses transportasi darat. Dari ibu kota kecamatan Ledo ke lokasi tersebut harus melalui transportasi sungai (long boat) dengan waktu tempuh 5-7 jam perjalanan. Untuk penerangan, PLN tenaga solar beroperasi malam hari, terjadwal mulai pkl.17.00 s.d. 05.00 wib, belum ada sinyal. Contoh lain ‘Aksi Tutor Kunjung’ di Dusun Kuala Sengah Kabupaten Landak. Dusun tersebut termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngabang. Akan tetapi, karena akses jalan darat belum siap, maka dari dan ke ibu kota kecamatan tersebut harus menggunakan transportasi sungai dengan waktu tempuh 6 (enam) jam sekali jalan, mengalami hambatan penerangan PLN dan sinyal. Artinya, penerangan memang dapat diupayakan secara mandiri dengan bantuan gen-set, misalnya. Dan untuk menikmati “sambungan HP” umpamanya, dapat pula disiasati dengan “berburu sinyal” memanjat pohon atau mendaki bukit di desa tetangga. Jadi, ciut rasanya hati ini jika harus ber-digital-ria di lokasi sasaran yang “buta sinyal!” Lebih terenyuh lagi, jika menyaksikan masyarakat kita yang bernasib kurang beruntung dalam mencicipi layanan pendidikan di border line – kawasan berbatasan dengan negara tetangga! Kadang berkelebat aneka pertanyaan menyeruak dalam pikiran: Benarkah mereka itu saudara kita sebangsa? Benarkah mereka itu bahagian dari kita? Benarkah ada pembela nasib mereka? Ya, kaitannya dengan “era digital” berpikir boleh-boleh saja mendunia, akan tetapi dalam berbuat tetap diawali dengan langkah-langkah kecil sesuai konteks lokal. Meminjam istilah bahasa tetangga think globally, act locally! Semoga, sekecil apapun kontribusi yang telah dilakukan, dapat bermakna buat pemberdayaan dan pencerahan sesama.
(Penulis adalah Praktisi pada Jalur Pendidikan Nonformal, Pelaku Wirausaha, Mahasiswa Pascasarjana
FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak).

Facebook Comments

POST A COMMENT.