Barter Buku, Berbagi Ilmu

Oleh MUCH. KHOIRI

ORANG mengenal istilah ‘barter’ sebagai pertukaran barang dengan barang atau jasa dengan jasa. Bukan dengan nilai mata uang, bukan pula dengan perhiasan yang bernilai uang. Barter itu saling tukar barang atau jasa, atas dasar suka sama suka, rela sama rela. Meski andaikata dinilai dengan uang tidaklah sepadan, barter bisa berlangsung, ya berkat suka-sama-suka atau rela-sama-rela ini.

Pada suatu senja barter buku berlangsung di antara kompasianer Ben Burhanuddin Nur dan saya. Seusai diskusi literasi dan bedah buku Pancasila Rumah Kita Bersama (2014) dan buku saya Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014) di ruang diskusi Kompasiana (segedung dengan penerbit-penerbit Kompas/Gramedia di Jln. Palmerah Barat, Jakarta), tiba-tiba sahabat Ben B. Nur datang menawarkan barter bukunya untuk mendapatkan buku saya Jejak Budaya itu.

Saya tidak tahu mengapa ide untuk barter itu muncul. Apakah itu karena statemen saya yang menegaskan bahwa buku tidak untuk dibagi-bagikan gratis, ataukah karena dalam sebuah artikel saya “Hargailah Penulis dengan Membeli Karyanya” saya menyebutkan hal itu? Atau, mungkin mas Ben juga memaklumi bahwa buku memang harus dihargai—terlebih untuk buku yang diterbitkan secara swadana.

Yang jelas, dengan antusias Mas Ben tiba-tiba menyerahkan dua buah bukunya The Golden Rules of Success (Courage Institute, Juli 2008) dan Spirit (Courage Institute, Agustus 2008). Sementara, setelah saya membuat catatan dan tandatangan saya pada kover dalam buku saya Jejak Budaya Meretas Peradaban, saya memberikan buku itu kepada Mas Ben. Terjadilah, saat ini, proses barter antara Mas Ben dan saya.

Dari segi jumlah, barangkali buku Mas Ben yang diserahkan kepada saya tidak sama dengan yang saya serahkan. Namun, dasar barter, jumlah tidak harus sama persis, karena ada unsur lain yang penting: rela-sama-rela. Mas Ben dua bukunya, sedangkan saya satu buku saya, itu sah-sah saja selagi kita sama-sama rela, dan tidak dipaksanakan satu sama lain.

Ya, barter pun berjalan lancar. Dua buku Mas ben berpindah tangan, demikian pula buku Jejak Budaya berpindah ke padanya. Dalam waktu sepersekian detik buku-buku itu sudah menjadi milik kami masing-masing, dan akan kami nikmati segera—paling tidak, setiba di rumah bagi Mas Ben dan setiba di hotel Royal Kuningan (Jakarta) bagi saya. Sebagai penulis, Mas Ben saya yakini pastilah juga seorang pembaca yang hebat.

Saya tidak mengisahkan bagaimana Mas Ben memperlakukan buku saya. Apakah ia langsung membacanya setiba di rumah? Apakah ia akan membaca satu atau dua artikel, lalu tidur dulu secukupnya—sementara kegiatan membaca digelar nanti malam saja? Yang jelas, itu bukan urusan saya secara persis. Namun, saya menduga, ia termasuk pecinta buku, yang mencintai buku seakan anak sendiri.

Saya hanya menyinggung dua buku yang telah ditulis oleh Mas Ben ini. Setelah saya baca cepat, saya menemukan bahwa buku-buku Mas Ben termasuk buku motivasi, yang hakikatnya membakar semangat dan motivasi pembaca untuk hidup lebih berkualitas. Dalam buku The Golden Rules of Success (2008) Mas Ben mengajak menemukan makna sukses kehidupan setiap hari, yang akan membawa orang menuju kesuksesan sejati.

Sementara, dalam buku Spirit! (2008) terkandung kekuatan untuk membakar semangat, bagi Anda yang mengimpikan hari esok lebih baik dari hari ini. Buku berkover tebal ini renyah diikuti, dan memberikan pencerahan dengan caranya sendiri. Bukankah ada banyak cara untuk membuat pembaca memaknai semangat dalam hidup? Ya, itulah spirit!

Begitulah, mendapatkan buku dengan sistem barter ini, memungkinkan untuk belajar sama nyamannya jika membeli sendiri. Di sana kami sama-sama menerima dan mengembangkan menjadi gugusan gagasan yang layak dikembangkan. Dengan adanya buku itu, saya harus membaca dan kemudian menulis dengan bahan dasar yang diambil dari hasil bacaan—yang jelas ada impresi dan inspirasi yang bisa berkembang.

Akan saya lanjutkan membaca buku-buku itu, sama halnya Mas Ben juga akan melakukan hal yang sama. Namun, sekarang, biarlan saya mengapresiasi Mas Ben akan keterusterangannya untuk berbarter buku. Saya kira gagasan Mas Ben untuk berbarter, itu suatu usulan yang berani. Maksudnya, di tengah kebiasaan orang-orang minta hadiah buku, Mas Ben ingin memiliki buku saya dengan tidak gratis, melainkan menukarnya dengan dua buah bukunya.

Yang jelas, sepertinya Mas Ben berada dalam posisi yang lebih kurang sama dengan saya saat ini. Kami sama-sama ingin menghargai sesama penulis—dengan “membeli” karyanya. Namun, karena kami sama-sama ingin berbagi, karena kami tidak sedang bertransaksi dengan uang, maka terjadilah transaksi barter buku antara Mas Ben dan saya. Kami saling berbarter buku, kami juga saling berbagi ilmu, agar buku kami saling memberi makna.[]

Facebook Comments

POST A COMMENT.