Bagaimana Jika HIV Bersembunyi di Otak?

MEPNews.id – Kemajuan dunia pengobatan memang luar biasa selama beberapa dekade terakhir. Namun, semakin hebat pengobatan, semakin banyak penyakit yang muncul. Semakin detail penemuan, semakin bertambah jumlah misteri. Ini semua menjadi tantangan tanpa akhir bagi ilmu pengetahuan.

Pengobatan bisa secara dramatis memperpanjang umur pasien HIV (virus penurun kekebalan). Namun, masalah berkelanjutan bagi pengobatan HIV adalah kemampuan virus untuk tetap dormant (tidak aktif, tapi tidak mati) dalam sejumlah kecil sel di seluruh tubuh, termasuk di beberapa area otak.

Nah, kabar baiknya, seperti ditulis Viatcheslav Wlassoff, PhD di BrainBlogger.com edisi 10 Juli 2017, para periset di Universitas Montreal di Kanada bisa menemukan dan menghancurkan partikel viral tersembunyi dari HIV. Temuan ini dapat menyebabkan penyembuhan sepenuhnya manusia dari HIV.

HIV saat ini bercokol di sekitar 36,7 juta orang, dan menginfeksi 2,1 juta orang baru setiap tahunnya. Infeksi HIV menyasar sekelompok sel kekebalan yang disebut sel CD4+ T. Sel-sel kekebalan ini bertugas mengenali dan menyerang bakteri atau virus berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Maka, bila sebagian besar sel ini dihancurkan HIV, tubuh tidak dapat lagi bertahan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Tahap ini disebut acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), dan sering berakibat pada kematian dini karena infeksi oportunistik dan kanker.

Pengobatan HIV saat ini abtara lain; reverse transcriptase inhibitors dan protease inhibitors. Obat-obat jenis ini bekerja dengan membidik enzim yang mengubah RNA virus menjadi DNA dan menghasilkan partikel virus dewasa. Obat ini sangat efektif dan meningkatkan secara drastis harapan hidup pasien.

Namun, pengobatan sepenuhnya terhadap HIV tetap sulit didapatkan. Itu karena kemampuan virus untuk tetap tinggal dan bertahan hidup di tempat-tempat yang disebut ‘reservoir’ di dalam tubuh. Jika pasien berhenti menjalani pengobatan, virus dapat kembali aktif.

Maka, para peneliti dari beberapa universitas, yang dipimpin Daniel Kauffman dari Universitas Montreal, menemukan cara untuk mengidentifikasi dan menghancurkan waduk-waduk tempat persembunyian HIV ini. Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Cell Host dan Microbe.

Pertama, para peneliti mencari cara baru untuk mengidentifikasi sel-sel CD4+ T yang terinfeksi dengan menggunakan metode ‘aliran-FISH’ yang menggabungkan dua teknik mengidentifikasi protein dan nukleotida dalam sel. Flow cytometry ini menggunakan mesin untuk menyortir dan mengidentifikasi sub-populasi sel berdasarkan penanda protein di permukaan, namun tidak sensitif atau cukup spesifik untuk mengidentifikasi sel yang terinfeksi HIV. Lalu, Fluorescence in situ hybridization (FISH), menggunakan probe fluoresen yang diarahkan pada urutan nukleotida spesifik untuk mengidentifikasi DNA atau RNA dalam sel dengan spesifisitas lokal dan temporal. Aliran-FISH ini digunakan untuk mendeteksi mRNA dari dua gen HIV spesifik pada sel CD4+ T, gag dan pol.

Dengan menggunakan metode ini, para periset dapat mendeteksi sel-sel yang mengandung virus pada konsentrasi serendah 0,5 – 1 per juta sel CD4+ T. Pengujian ini dikombinasikan dengan polychromatic flow cytometry, yang menganalisis beberapa penanda permukaan sel secara bersamaan. Bersama-sama, dua teknik ini memungkinkan peneliti mengukur dan mengidentifikasi karakteristik sel terinfeksi HIV pada sampel darah pasien. Sel-sel CD4+ T yang terinfeksi HIV menunjukkan peningkatan dalam penanda ‘kelelahan kekebalan’ (PD-1, CTLA-4, dan TIGIT), yang terjadi ketika sel-sel T telah terlalu aktif sehingga tidak lagi responsif. Mereka juga dapat memperkirakan ukuran waduk kediaman virus, yang rata-rata 3,56 sel per juta sel CD4+ T, namun sangat bervariasi sebagaimana telah diamati pada pasien dengan terapi anti-virus.

Pada bagian selanjutnya dari penelitian ini, dua agen pembalikan latensi (latency-reversal agents/LRA) diujikan pada sel-sel pasien terinfeksi HIV. LRA digunakan dalam teknik ‘shock and kill’ yang mengaktifkan partikel virus dormant dalam tubuh sehingga memungkinkan mereka diberantas oleh agen anti-retroviral.

Bryostatin memodulasi protein kinase C yakni enzim yang terlibat dalam jalur pensinyalan sel, dan sedang diuji untuk digunakan sebagai agen anti kanker, anti-HIV, dan pendorong memori. Ingenol adalah obat dari tanaman dengan beberapa mekanisme tindakan antara lain aktivasi protein kinase C, yang menyebabkan pengaktifan sel kekebalan tubuh.

Para peneliti menentukan, bryostatin dan ingenol berbeda dalam kemampuan untuk mengaktifkan dua sub-populasi sel-sel CD4+ T. Ingenol mengaktifkan sel-sel memori sentral, yang bertahan beberapa tahun pada pasien, sedangkan bryostatin tidak efektif melawan sub-populasi sel T ini.

Temuan ini menunjukkan, ingenol mungkin merupakan pengobatan lebih efektif untuk HIV laten. Meski kedua obat tersebut mampu membunuh virus HIV secara in vitro, efektivitasnya dalam tubuh tetap tidak jelas. Para periset menyarankan, metode pendeteksian virus mereka akan berguna untuk menilai keefektifan LRA dalam uji klinis.

Metode mengaktifkan kembali HIV laten ini memberi harapan bagi pemberantasan virus suatu hari nanti. Namun, ini bukan tanpa efek samping. Peneliti di Universitas Johns Hopkins menguji efek reaktivasi virus oleh LRA pada monyet yang kena simian immunodeficiency virus (SIV) –seperti HIV namun pada monyet. Mereka menemukan bahwa obat tersebut menyebabkan peradangan otak berbahaya. Para peneliti menduga efek samping ini disebabkan adanya waduk HIV di dalam otak.

Monyet-monyet yang terinfeksi SIV ini diobati antiretroviral (tenofovir, darunavir, ritonavir, dan integrase inhibitor L-870812). Setelah 400 hari menjalani pengobatan, terjadi penekanan julah virus lewat pengukuran SIV dalam plasma. Kemudian, dua monyet tersebut diobati sepuluh hari dengan zat pembalik laten ingenol-B dan vorinostat.

Vorinostat adalah penghambat deasetotelase histone yang bekerja dengan mengubah ekspresi gen yang terlibat dalam diferensiasi sel. Hewan-hewan tersebut terus memakai paduan obat antiretroviral selama pengobatan dengan LRA.

Salah satu monyet yang diobati jadi sehat lagi dengan rejimen pengobatan ini. Namun, monyet kedua mengalam gejala radang otak, antara lain lesu dan kurang nafsu makan. SIV aktif dan penanda peradangan terdeteksi pada cairan serebrospinal (CSF), yakni cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Setelah hewan itu ditiadakan karena penyakitnya, peneliti mengambil otaknya untuk diperiksa. Mereka terlebih dahulu berhati-hati membuang darah monyet untuk memastikan jaringan otak tidak terkontaminasi sel darah terinfeksi. Akhirnya mereka menemukan, SIV hadir di bagian otak yang disebut korteks occipital.

Penemuan bahwa reaktivasi virus dapat menyebabkan peradangan otak, kemungkinan dengan cara mengaktifkan kembali reservoir virus di otak, merupakan kelemahan potensial bagi penggunaan LRA untuk mengobati HIV laten pada manusia. Tapi, jangan terlalu cemas; efek samping ini hanya terjadi pada salah satu dari dua hewan tersebut. Jadi, temuan ini masih pada tahap awal.

Selanjutnya, karena ada perbedaan bawaan antara SIV dan HIV, uji klinis LRA pada manusia HIV harus dilakukan dengan hati-hati. Pemantauan CSF untuk mendaptkan bukti reaktivasi virus di otak tentu menyertai pengobatan LRA untuk mencegah efek samping tersebut. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.