Kalau “Jodoh” Takkan Kemana

Hari Raya Idul Adha yang sedang kita jalani bersama ini, yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Ibrahim alaihissalam disuruh Allah menyembelih putranya sendiri, yakni Nabi Ismail alaihissalam, bagi warga embongan yang suka berkelakar, seakan ringan saja menanggapi: “Begitulah Pak, yang namanya masih rejeki atau masih jodoh. Meskipun sudah jelas mau disembilih yang secara nalar akal sehat membikin kehilangan untuk selamanya, tapi ya yang namanya masih ada jodoh, ya ada saja jalaran atau lantaran yang membikin Ismail tetap hidup dan meneruskan kehidupan bapak anak dengan Nabi Ibrahim…”

“Hidup ini gelap Pak,” katanya lagi, “kita ini benar-benar Si Buta dari Gua Hantu yang justru sakti karena buta, karena gelap, karena nggak pernah tahu apa yang terjadi secara tepat dan persis dalam setiap detik kehidupan kita ini…”

“Ini bukan filsafat tingkat tinggi atau apa Pak. Ini bodoh-bodohan saja sudah. Atau anggaplah ini kebodohan Pak. Bahwa kita mengerti sedikit dan sangat bermili-mili sedikit saja sudah yakin dan sangat-sangat-sangat-sangat merasa tidak buta. Merasa tidak gelap dan berilmu cahaya. Ini kebodohan yang nyata Pak,” lanjutnya.

“Kita tidak merasa bahwa yang tidak kita ketahui itu sangat-sangat-sangat-sangat banyak sekali. Firman Tuhan: yu’minuna bil ghoibi. Kita disuruh percaya kepada sedemikian banyak hal yang ghaib oleh Tuhan karena jelas-jelas kita buta. Apa lantas kita merasa tidak buta? Kita ini sangat buta secara terang-terangan Pak, jadinya ya kita disuruh saja percaya karena mana mungkin kita sebagai Si Buta bisa mengetahui. Mengetahui saja tidak Pak, apalagi merasa paling benar dan pintar. Sungguh sangat aneh dan nggak masuk akal jika saya ini melihat orang yang sok paling benar dan paling pintar Pak…” lanjutnya lagi.

“Ibrahim itu sangat islam: menyerah dan pasrah totol kepada kehendak Tuhan, sehingga tatkala bermimpi disuruh Allah menyembelih Ismail, dia tak punya daya lagi kecuali dia berserah diri pasrah kepada perintah Allah,” ia mengurai kalem.

“Tapi ya itu tadi Pak. Namanya saja masih jodoh, ya takkan kemana. Tuhan masih menjodohkan Ibrahim dan Ismail. Semua para nabi itu islam. Hanya saja penyebutan resmi formal Islam dikehendaki Tuhan di zaman nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam…” gaya mengurainya kayak ustadz.

“Saya sendiri takut Pak ngomong seperti ini. Takutnya langsung ‘dipenggal’ dan ‘disembelih’ jika omongan saya ini salah. Sedangkan terhadap perilaku goyangan artis yang nyata-nyata seronok penuh sensualitas birahi Pak, masih saja ada pembelaan karena ini karena itu. Tapi kalau salah beda pendapat Pak, resikonya sangat tinggi dan berbahaya Pak. Andai diingatkan pun, terkadang caranya mengingatkan disertai kutukan dan caci maki Pak. Pusing dan sumpeg pokoknya Pak kalau soal urusan beda pendapat ini. Apalagi jika beda pendapatan, hahahaha…” rupanya ada juga yang dicemaskan meskipun sambil guyon ngakak.

“Ya semoga saja kita semua selalu terus menerus berjodoh dengan penjagaan dan penyelamatan Tuhan Pak. Meskipun kita percaya bahwa segala apa saja, kalau masih jodoh ya takkan kemana. Tentunya disertai ikhtiar, sebagaimana Ibrahim berikhtiar hati-hati tentang mimpi menyembelih putranya itu, sehingga dimimpi ketiga Ibrahim baru yakin dan kemudian berserah diri kepada Allah sepenuhnya dalam menjalani kepatuhan terhadap perintah Allah itu…” dia mempungkasi, dan entahlah, sebenarnya dia sedang ngomong-ngomong sendiri atau bagaimana, kok sepertinya sedari tadi manggil Pak dan Pak terus tanpa ada yang merespon dan no comment. (Rogojampi, 2 September 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.