Haji Cinta

Ketika silaturahmi ke seorang teman yang sudah naik haji dan ada lukisan kaligrafi QS Ali Imran ayat 97 di ruang tamunya, saya guyon ke kawan saya: “Kaligrafi ini kok menyulitkan pembacanya saja ya, hahahaha….” Kawan saya tertawa juga.

Kemudian ada yang berbisik: “Kaligrafi itu memang sangat perlu dibikin sulit bagi orang awam dan goblok seperti kamu, supaya orang awam mengerti dan sadar diri bahwa dia awam, selalu ada langit diatas langit, lantas si awam ini mau belajar kepada orang yang mengerti. Sedangkan sekarang ini kebanyakan orang angkuhnya luar biasa seakan hanya dia yang paling mengerti segalanya…”

Kami sudah lama nggak jumpa. Tapi keakraban batin dan keindahan berteman senantiasa memberikan kesan seakan-akan tak pernah ada kata “lama” dalam kamus kehidupan ini. Kami ngobrol, guyon, ngomong ini itu, menikmati rujak cingur, dan lain sebagainya. Lantas pulang dengan kawan saya sembari bersabar hati melewati gang demi gang demi menghindari karnaval di beberapa jalan.

Sampai di rumah dan kawan saya pamit pulang, fikiran kotor saya menjadi ingat ke sebuah kisah seseorang yang nggak mau kuliah, tapi uang jatah kuliah mending dipakai buat naik haji, lantas sepulang dari Mekkah menjadilah ia “Sarjana Haji” yang kemudian membuka “kios dagang” biro marketing haji dan umrah.

Kemana-mana ia gembar-gembor selalu bilang: “Naik haji itu wajib, naik haji itu wajib bagi yang beriman. Ayo ikut tabungan haji dan umrah….” Seakan-akan yang menolaknya adalah tak beriman serta disembunyikannya pemahaman haji bagi yang mampu. Toh Tuhan bisa saja menguji hamba-Nya yang beriman dengan ketidakmampuan, sakit berkepanjangan, dan lain sebagainya.

Saya tidak tega untuk berkelakar: “Apa kamu tidak pernah sekolah TK dan diajari Rukun Islam ada lima, yang kelima itu pergi haji bagi yang mampu dan bukan bagi yang beriman….” karena saya juga tidak pernah bisa berjumpa langsung untuk berkelakar seperti itu.

Tapi suatu hari, ada kisah seorang Kiai Haji kharismatik yang sangat begitu dicintai siapa saja di seantero negerinya. Pak Kiai Haji sedang tidur, namun lamat-lamat terdengar obrolan kecil antara khadam atau pembantunya dengan seorang tamu miskin dari jauh yang Pak Kiai Haji ini sudah mengenalnya.

“Sudahlah Pak, Sampeyan bawa pulang saja hasil kebun ini buat Bapak sendiri sekeluarga. Pak Haji percaya akan cinta tulus Sampeyan terhadap kebaikan-kebaikan Pak Haji,” kata si khadam mencoba menolak halus pemberian orang dusun tersebut. Akan tetapi tetap saja ngotot ingin memberi, sampai agak berisik sedikit. Lantas keluarlah Pak Kiai Haji ini.

Dirangkullah Si Dusun ini dengan senang dan bercucuran linangan air mata kebahagiaan yang mengharukan.

“Ini cinta, bukan hasil kebun,” kata Pak Haji ke khadamnya. Si Dusun dengan senang hati hadiahnya diterima oleh Pak Kiai Haji.

“Dan bawa pulang kambing-kambing ini sebagai perwujudan cintaku kepadamu wahai sahabatku,” Pak Kiai Haji berucap sambil berlinang air mata memeluk Sang Dusun terkasih itu.

Sang Dusun lalu pulang dengan hati yang sangat penuh riang gembira. Sang Dusun pulang dengan tak mampu berucap apa-apa. Sang Dusun pulang dengan hati yang membawa cinta.

Demikianlah kisah Haji Cinta ini. Sebuah kisah cinta perkecualian. Bukan parameter ukuran keharusan, karena toh sudah selayaknya yang kaya itu memberi kepada yang miskin. Bukan sebaliknya.

So, meskipun saya punya beberapa teman akrab yang sudah naik haji, saya akan dibentak, diusir, dicaci maki, dilaknat jika saya yang “ngalor-ngidul gelandangan” ini berani-beraninya sok sombong mentraktir mereka semua untuk sekedar ngopi. Alhamdulillah masih ada mereka haji-haji yang baik. (Rogojampi, 30 Agustus 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.