Gunakan Uang untuk Beli Waktu, Bukan Barang

MEPNews.id – Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, kan? Ah, belum tentu. Beberapa peneliti memberikan jawaban berbeda. Tergantung bagaimana membelanjakannya. Allison Aubrey, menulis di npr.org pada 28 Agustus 2017, mengabarkan ada penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences tentang uang dan kebahagiaan.

Penelitian di Kanada itu menunjukkan, ketika orang membelanjakan uang untuk sesuatu yang menghemat waktu, misalnya; untuk pembersihan rumah, perawatan kebun atau pengiriman makanan, itu bisa membuat mereka merasa lebih bahagia. Namun, saat uang dibelanjakan untuk beli barang-barang, itu tidak meningkatkan emosi positif seperti yang diharapkan. Jadi, uang akan membuat orang lebih bahagia jika digunakan untuk membeli ‘waktu luang’ yang semakin langka.

Dalam budaya di mana orang dengan cepat bisa membeli ponsel model terbaru, TV tercanggih atau sepatu mewah, ada kecenderungan orang juga enggan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bisa menghemat waktu sehingga memberi mereka waktu lebih luang.

“Membayar orang lain untuk melakukan sesuatu yang Anda benar-benar mampu lakukan sendiri dapat memicu perasaan bersalah. Namun, jika untuk menghemat waktu, itu memberi kelegaan,” kata Elizabeth Dunn, profesor psikologi di University of British Columbia yang jadi penulis penelitian tersebut.

Dunn dan rekan-rekannya menemukan, jika orang membayar orang lain untuk mengerjakan beberapa tugas yang tidak diinginkan, ia mungkin merasa lebih puas dengan kualitas hidupnya. “Kami berhipotesis, orang lebih bahagia jika membelanjakan uang untuk sesuatu yang ia tidak suka kerjakan.”

Dunn dan rekan-rekan merancang eksperimen. Mereka merekrut 60 orang dewasa di bawah usia 70 tahun dari Vancouver, British Columbia. Para peneliti ini memberi relawan penelitian itu sedikit uang dan meminta mereka membelanjakannya dengan dua cara berbeda dalam dua akhir pekan berturut-turut.

“Pada satu akhir pekan, kami memberikan $40 dan meminta mereka membelanjakannya dengan cara apa pun yang memberi mereka lebih banyak waktu luang,” Dunn menjelaskan. Peserta dalam penelitian ini memilih berbagai layanan; mulai dari pengiriman makanan hingga layanan pembersihan untuk membantu tugas-tugas di rumah.

Kemudian, di akhir pekan berikutnya, para peserta mendapat lagi $ 40 untuk membeli barang. Mereka boleh memilih apa pun sesuai anggaran itu. “Ada yang membeli kaos polo. Ada yang beli anggur yang dia gambarkan sebagai barang mewah.”

Setelah setiap pembelian akhir pekan itu, para peneliti menelpon relawan penelitian dan bertanya bagaimana perasaan mereka. Para relawan penelitian melaporkan seberapa banyak emosi positif yang mereka alami dan seberapa banyak emosi negatif yang mereka alami.

Ketika relawan penelitian membelanjakan uang untuk layanan yang menghemat waktu, mereka melaporkan lebih banyak emosi positif. “Mengeluarkan uang untuk mendapatkan waktu agar diri lepas dari tugas-tugas seperti memotong rumput atau membersihkan kamar mandi, adalah pengeluaran kecil dan biasa. Namun, kami melihat perbedaan yakni mereka jadi lebih bahagia,” kata Dunn.

Tapi seberapa bahagia? Bagian terpisah dari penelitian ini membantu menjawabnya.

Peneliti yang sama mensurvei sekelompok 6.000 orang berbagai pendapatan di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Pendapatan rata-rata rumah tangga untuk penduduk Amerika Serikat dalam survei tersebut $75.000. Namun penelitian juga melibatkan orang dewasa bekerja yang menghasilkan sekitar $30.000 per tahun dan beberapa jutawan Eropa.

Responden mengisi pertanyaan survei tentang apakah mereka membelanjakan uang setiap bulan untuk menambah waktu luang dengan cara membayar orang lain untuk menyelesaikan tugas mereka yang tidak menyenangkan? Jika memang begitu, berapa banyak yang mereka habiskan? Lalu, responden diminta menilai tingkat kebahagiaan mereka sendiri pada skala kepuasan hidup 1 – 10 poin.

“Yang kami temukan adalah orang-orang yang membelanjakan uang untuk membeli waktu melaporkan hampir satu poin lebih tinggi dalam tangga 10 poin kami, jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menggunakan uang untuk membeli waktu,” kata Dunn. “Orang-orang dari seluruh spektrum pendapatan merasa mendapat manfaat dari membeli waktu.”

Memindahkan level kebahagiaan hanya satu poin mungkin kedengarannya tidak banyak. Namun, para peneliti mengatakan sangat puas dengan hasil itu. “Menaikkan orang ke tangga kepuasan hidup bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan,” kata Dunn. “Jadi, jika sedikit mengubah bagaimana orang membelanjakan uang bisa mengangkat kebahagiaan mereka, itu adalah sesuatu yang benar-benar kami ingin pahami dan mungkin mendorong orang lain untuk melakukannya.”

Emanuel Maidenberg, profesor klinis ilmu psikiatri dan perilaku di University of California, Los Angles, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, mengatakan kepada NPR bahwa dia sedikit terkejut dengan hasil itu.

Adalah kemungkinan yang menarik untuk memikirkan ‘pelayanan yang menghemat waktu’ sebagai ‘alat manajemen stres’. Tapi, masih ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Misalnya, apakah dorongan emosi positif itu berkelanjutan? Atau, apakah ini hanya respon langsung dan jangka pendek?

Kata Maidenberg, “Penulis penelitian menyajikan cukup data untuk membenarkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap hal ini. Sungguh, ini mengagumkan.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.