Gigih, Dari OB Jadi Sarjana Lulusan UI

MEPNews.id- Gigih Prastowo, salah satu wisudawan yang lulus dari UI pada wisuda semester ini, mempunyai kisah yang panjang sampai ia bisa lulus sebagai sarjana.

Lulus dari sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Yogya dari keluarga pengrajin kerajinan tangan, usaha Gigih untuk menembus UI tidaklah mudah.

Ia pernah mencoba jalur undangan, Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) untuk masuk UI pada tahun 2012, namun semua usahanya tersebut tidak membuahkan hasil.

Menurutnya, materi pelajaran yang ia terima pada saat SMK terlalu berbeda dengan materi pelajaran yang diujikan pada saat ujian.

Namun, Gigih tidak menyerah dengan hidup. Ia tertarik untuk masuk ke dunia perhotelan, karena disanalah ia merasa karir seseorang tidak bergantung dari tingkat pendidikan.

“Banyak sekelas manajer/supervisor di hotel-hotel besar memulai perjalanan karirnya dari cleaning service ataupun front office,” jelasnya.

Memulai sebagai cleaning service/ office boy (OB) di hotel bintang lima di Yogya, Gigih membuktikan kerja kerasnya dengan mengakhiri karirnya di dunia perhotelan di bagian service center agent.

Berbeda ketika ia menjadi cleaning service, profesinya di bagian service center memungkinkannya meluangkan waktu minimal 3 jam per hari untuk belajar materi soal-soal ujian.

Ia membeli buku-buku soal ujian di Taman Pintar, tempat membeli buku-buku bekas di Yogya. Selain itu, ia juga banyak mendapatkan lungsuran buku dari teman-temannya yang telah lulus di perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada Juli 2013, Gigih diumumkan diterima di Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan ilmu manajemen melalui jalur SIMAK.

Namun, perjuangan Gigih tidak berakhir disitu. Ia masih harus memikirkan biaya kuliah dan beradaptasi dengan lingkungan sosial UI.

Untuk permasalahan biaya kuliah, Gigih sangat berterima kasih dengan sistem Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOPB) yang dimiliki UI, sehingga ia hanya perlu membayar uang perkuliahan sebesar Rp 650.000/semester.

Selain itu, ia juga menambahkan, bahwa cerita temannya yang mengatakan bahwa di UI beasiswa itu melimpah, bukanlah isapan jempol.

Bahkan ia berhasil mendapatkan Beasiswa Maybank yang mengatasi semua permasalahan finansialnya terkait perkuliahan dan biaya hidup di Depok.

Permasalahan berikutnya yang ia harus hadapi adalah masalah adaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar berbeda dengan yang ia jalani selama ini.

“Indeks Pretasi Kumulatif (IPK) saya terjelek adalah semester 1. Setelah itu terus menanjak naik. Itu karena di awal-awal perkuliahan saya masih beradaptasi,” tambahnya.

Menurutnya, ia belajar untuk menjadi lebih santai, luwes, dan terbuka dalam bergaul. Ia juga belajar untuk berani mengungkapkan pendapat apa adanya.

Ia dulu beranggapan bahwa anak-anak kota itu pasti sombong-sombong, namun ternyata anggapan itu tidak benar.

Ia merasa teman-temannya lebih apa adanya dan tidak melihat seseorang dari latar belakang  ataupun kekayaan keluarga, namun dari kemampuan dan sikap.

Kini, ia berstatus sebagai anak magang di Unilever dan punya keinginan besar untuk bekerja di Badan Usaha Milik Negara sebagai manajer ataupun direktur.

Menurutnya, kelulusannya sebagai sarjana di UI adalah berkat ridha dari Tuhan dan kerja keras.

“Bila kamu berani bermimpi, berarti kamu juga harus berani bekerja keras demi mimpi kamu itu,” tutupnya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.