Gerak Teratur Bisa Membalik Tanda Penuaan di Otak

MEPNews.id – Banyak bergerak secara teratur sangat bermanfaat saat usia menua. Mau bukti? Hasil penelitian terbaru menemukan, kaum senior yang rutin berolahraga dapat membalikkan tanda-tanda penuaan di otak mereka. Aktivitas fisik yang memiliki salah satu efek paling dalam adalah menari.

Traci Pedersen, menulis di PsychCentral, edisi 26 Agustus 2017, mengabarkan temuan ini sudah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Human Neuroscience.

“Gerak badan memberi efek menguntungkan untuk memperlambat atau bahkan menangkal penurunan kapasitas mental dan fisik terkait usia,” kata Dr. Kathrin Rehfeld, peneliti di Pusat Penyakit Neurodegeneratif Jerman di Magdeburg, yang jadi penulis utama penelitian ini.

“Dalam penelitian ini, kami menunjukkan dua jenis gerak badan yakni menari dan olahraga ketahanan sama-sama meningkatkan area otak yang mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Menari mengarah pada perubahan perilaku yang nyata dalam hal keseimbangan lebih baik.”

Untuk penelitian ini, peserta lansia rata-rata 68 tahun diminta mengikuti rutinitas belajar menari setiap minggu selama delapan belas bulan, atau olahraga ketahanan dan kelenturan. Hasilnya, kedua kelompok sama-sama menunjukkan adanya peningkatan di daerah hippocampus otak.

Hal ini penting karena hippocampus cenderung mengalami penurunan fungsi dan fisik terkait bertambahnya usia. Penurunan ini dapat dipengaruhi penyakit antara lain Alzheimer. Hippocampus juga memainkan peran kunci dalam memori dan pembelajaran, sekaligus menjaga keseimbangan seseorang.

Beberap penelitian sebelumnya menunjukkan, gerak badan rutin dapat mengatasi penurunan fungsi otak terkait usia. Namun, masih belum diketahui mana bentuk gerak badan yang lebih baik daripada yang lain.

Untuk menilai, rutinitas gerak badan yang diberikan kepada peserta studi dibedakan. Program pelatihan kebugaran tradisional, terutama yang melibatkan gerak badan berulang-ulang seperti bersepeda atau berjalan Nordik, memang baik namun tidak cukup optimal karena itu-itu saja. Sementara, kelompok menari selalu tertantang dengan sesuatu yang baru setiap minggu.

“Untuk para senior dalam kelompok tari, kami mencoba beri mereka rutinitas tarian yang terus berubah dari genre berbeda,” kata Rehfeld, sambil merinci bentuk-bentuk tarian jazz, tarian square, tarian Latin dan lini.

“Langkah kaki, pola lengan, formasi, kecepatan, dan iramanya selalu berubah setiap minggu kedua untuk menjaga mereka dalam proses belajar konstan. Aspek paling menantang bagi mereka adalah mengingat rutinitas di bawah tekanan waktu dan tanpa petunjuk dari instruktur.”

Para periset percaya, tantangan ekstra ini menjelaskan adanya perbedaan dalam keseimbangan yang diperlihatkan oleh peserta dalam kelompok menari. Maka, tim peneliti sekarang membangun temuan ini untuk mencoba program kebugaran baru yang berpotensi memaksimalkan efek anti-penuaan di otak.

“Saat ini, kami mengevaluasi sistem baru yang disebut Jymmin (jamming dan senam). Ini adalah sistem berbasis sensor yang menghasilkan suara (melodi, ritme) berdasarkan aktivitas fisik. Kita tahu pasien demensia bereaksi kuat saat mendengarkan musik. Kami ingin menggabungkan aspek-aspek menjanjikan dari aktivitas fisik dan musik aktif saat membuat studi kelayakan pasien demensia,” kata Rehfeld.

“Saya percaya semua orang ingin menjalani kehidupan yang mandiri dan sehat selama mungkin. Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor gaya hidup yang berkontribusi terhadap hal ini. Aktivitas ini menangkal beberapa faktor risiko dan memperlambat penurunan otak terkait usia. Saya pikir, menari itu alat ampuh untuk menetapkan tantangan baru bagi tubuh dan pikiran, terutama di usia lebih tua.” (*)

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.