Label Pintar Ini Bisa Mengenali Makanan Tak Layak Makan

MEPNews.id – Di permukaan Bumi ini, masih banyak manusia yang tidak punya makanan untuk dimakan. Sementara, ada sebagian kecil manusia yang menyimpan begitu banyak makanan. Ironisnya, sebagian dari makanan itu disimpan saja sampai membusuk dan tak bisa dimakan.

Nah, hari-hari membiarkan makanan sampai busuk ini bisa diakhiri. Jika ada niat baik, teknologi bisa mengingatkan manusia tentang kapan berakhirnya masa terbaik makanan untuk dimakan. Rhiannon Williams, untuk i-News edisi 21 Agustus 2017, mengabarkan sejumlah perintis metode baru yang disajikan ilmuwan ke masyarakat ilmiah dunia yakni 254th National Meeting & Exposition of the American Chemical Society.

Ia mengabarkan, para peneliti dari Clarkson University, New York, menciptakan label pintar. Label itu berupa sensor kertas kecil yang mampu mendeteksi kapan makanan tidak lagi aman dikonsumsi karena tingkat pencemaran, antioksidan dan radikal bebas, yang mengindikasikan pembusukan.

Kertas itu bisa berubah warna begitu terjadi kontak dengan makanan yang rusak. Intensitas perubahan warnanya menunjukkan tingkat keparahan pembusukan. Jika riset dikembangkan lebih lanjut, menurut pemimpin tim Profesor Silvana Andreescu, label pintar itu juga bisa mengidentifikasi bakteri yang berpotensi berbahaya, termasuk Salmonella dan E. coli.

Sensor itu juga bisa digunakan di industri kosmetik untuk memperingatkan konsumen saat produk tidak lagi aman digunakan. Banyak produk make-up dapat disimpan tanpa dibuka selama sekitar tiga tahun. Namun, maskara dan eyeliner cair harus diganti setiap tiga sampai enam bulan untuk meminimalkan risiko infeksi mata. Nah, sensor ini bisa mendeteksi kapan produk kosmetik itu harus disingkirkan.

Indikator semacam itu bisa menjadi cara signifikan memerangi pemborosan makanan terutama di negara-negara kaya. Di Inggris, misalnya, rata-rata keluarga membuang makanan senilai £ 700 setiap tahun atau sekitar 350.000 ton setiap tahun di seluruh negeri, menurut organisasi Program Aksi Pembuangan Limbah (Waste). Organisasi ini memperkirakan, sekitar setengah dari makanan di tempat sampah sebenarnya masih aman dikonsumsi namun dibuang karena label kadaluwarsa yang kadang menyesatkan.

Rhiannon Williams juga mengabarkan, Hayriye Ünal dari Universitas Sabanci di Turki juga mempresentasikan bentuk kemasan film untuk makanan. Kemasan film ini dirancang untuk memperpanjang masa simpannya dengan mencegah pembusukan yang berlebihan.

Tim yang dipimpin Ünal membuat kemasan film yang dilapisi nanotube tanah liat mengandung minyak esensial antibakteri alami yang ditemukan di thyme dan oregano. Tabung itu menyerap etilen, senyawa yang dilepaskan buah dan sayuran saat mereka matang. Pada saat yang sama, tabung itu menahan uap air dan gas lainnya dan mencegah oksigen memasuki membran. Minyak membunuh mikroba, menghentikan pertumbuhan bakteri.

Setelah 10 hari penyimpanan, tomat membusuk dalam kemasan standar (kiri) dan tetap segar dalam kemasan film.

Setelah 10 hari penyimpanan, tomat membusuk dalam kemasan standar (kiri) dan tetap segar dalam kemasan film.        Foto: Unal

Untuk menguji kemasan film itu, para peneliti menggunakan daging ayam, tomat dan pisang untuk percobaan. Satu bagian bahan makanan itu dibungkus dalam kemasan film khusus dan bagian lain dibungkus dengan kemasan polietilen standar. Setelah 10 hari, tomat dan pisang dalam kemasan film tampak lebih kencang dan lebih awet daripada lainnya yang kurang terlindungi. Daging ayam yang dikemas film menunjukkan pertumbuhan bakteri yang jauh kurang signifikan dibandingkan dengan daging ayam dalam polietilena biasa setelah didinginkan 24 jam.

“Kemasan yang mampu berinteraksi dengan makanan bisa berkontribusi terhadap keselamatan manusia dan mencegah kerugian ekonomi akibat pembusukan,” kata Ünal. “Kemasan film khusus ini dapat mempertahankan beragam makanan.”

Tim sekarang berencana menguji kemasan film untuk memastikan tidak beracun dan aman bagi manusia untuk memakan makanan yang telah dibungkusnya.

Kemasan pintar saat ini menjadi area pengembangan ilmiah yang menarik dan semakin banyak mendapat perhatian. Para ilmuwan berusaha mengurangi limbah dan membuat makan menjadi aktivitas yang lebih efisien.

Ooho, perusahaan berbasis di London, mengemas air dalam membran rumput laut yang dapat dimakan dan bisa terurai secara biologis. Membram ini bisa dimakan atau dibuang begiru saja karena tidak membahayakan lingkungan. Membram rumput laut ini lebih menguntungkan daripada plastik. Harganya lebih murah, produksinya menggunakan lima kali lebih sedikit karbon dioksida, dan umur simpannya lebih efisien. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.