Efek Placebo dalam Pembelajaran

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Adalah Rosenthal dan Jacobson, peneliti yang meneliti murid-murid SD untuk mengetahui tingkat ekspektasi guru kepada murid. Mereka ingin meneliti, “Apakah murid yang dipersepsikan cerdas akan lebih berhasil?”

Pertama-tama, mereka melakukan tes kecerdasan kepada murid-murid SD tersebut. Kemudian membagi hasil tes dengan mengkategorikan siswa ‘cerdas’ dan ‘kurang cerdas.’ Sebenarnya, hasil yang dibagikan bukan asli dari tes kecerdasan, melainkan nama-nama yang diambil secera acak. Namun, anak-anak tersebut dipersepsikan sebagai anak yang cerdas. Nah, saat anak-anak dipersepsikan cerdas, terjadi pengharapan yang lebih besar pada mereka dari murid-murid lainnya. Akibatnya, prestasi akademis anak-anak yang dipersepsikan cerdas ini jauh menonjol dibanding yang lainnya.

Pada 1734-1815, di Paris ada tabib bernama Franz Anton Mesmer. Ia mengaku memiliki kekuatan magnetik dan cairan universal yang mampu menjaga keseimbangan tubuh manusia. Di samping itu, ia juga mengaku mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan kekuatan magnetik dan cairan universal tersebut. Cara penyembuhan itu ternyata dalam waktu singkat dapat mengangkat namanya menjadi populer di Paris.

Para dokter pada masa itu curiga dengan cara penyembuhan yang dilakukan Mesmer.  Ya, karena cara penyembuhannya kontroversial dibanding dengan pengobatan ilmiah. Maka, Raja Louis XVI membantuk tim investigasi yang terdiri dari seorang ahli kimia, seorang dokter dan fisikawan dan seorang ahli astronomi yang dipimpin seorang duta besar bernama Benjamin Faranklin. Dalam investigasinya, tim menemukan ternyata Mesmer ‘berbohong’ karena tidak memiliki kekuatan magnetik dan air universal.

Mengapa para pasien Mesmer sembuh? Kayakinan melalui ekspektasi lah yang membuat para pasien sembuh. Hasil tersebut dibuktikan oleh tim investigasi dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mesmer. Namun, dalam eksperimen itu, pasien tidak mengetahui jika yang melakukan terapi penyembuhan adalah tim investigasi. Hasilnya ternyata sama dengan yang dilakukan Mesmer. Pasien sembuh karena ekspektasi (tingkat pengharapan) dan keyakinan untuk sembuh.

Dalam buku ‘Change Limiting Beliefs’ karya Syahril Syam, dikatakan ada ahli anestesi bernama Henry K. Beecher yang menulis artikel jurnal tentang pengalamannya ketika menolong tentara Jerman yang terluka akibat Perang Dunia 1. Pada waktu itu, rumah sakit penuh dengan pasien dan kebetulan rumah sakit sedang kehabisan morfin dan zat kimia untuk menghilangkan rasa sakit. Dalam kondisi tersebut, Beecher memutar otak untuk membantu para korban. Akhirnya, ia menyuntikkan cairan garam—yang tidak memiliki efek/khasiat sama sekali—kepada tentara sambil memberikan sugesti, “Sebentar lagi rasa sakit Anda akan hilang.” Karena dokter adalah orang yang dipercayai oleh pasien, maka pasien tersebut akhirnya mengalami efek placebo; suatu pengharapan yang besar bahwa apa yang telah diberikan dokter akan bisa meredakan rasa sakitnya. Akhirnya rasa sakit tersebut benar-benar reda.

Tiga kasus di atas memiliki kemiripan. Ketiganya sama-sama melibatkan harapan dan keyakinan dalam mengatasi masalah. Ketiganya mengalami efek placebo. Efek placebo adalah suatu keadaan yang sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa, namun bisa membuat orang merasa lebih baik. Tentunya ini berbeda dengan nocebo, ‘sepupu’ jahat yang memiliki arti sebaliknya.

Syam mengartikan placebo adalah doa. Dalam bahasa latin placebo berarti ‘saya akan menyenangkan.’ Dalam bahasa medis, placebo dianggap sebagai cara untuk menyenangkan atau menenangkan pasien yang sulit diatur. Placebo seringkali berbentuk pil gula atau suntikan garam yang tak memiliki khasiat sama sekali. Pasien, yang tidak mengetahui bahwa itu adalah pil atau suntikan bohongan, justru seringkali mengalami kesembuhan yang tidak terduga.

Efek placebo, jika ditarik ke dalam konteks belajar, maka kita bisa meletakkannya pada posisi sebagai keyakinan terhadap menghadapi kesulitan, kebosanan dan bahkan kegagalan. Kayakinan bahwa semua itu hanyalah tantangan dan rintangan bagi seorang pembelajar. Semua itu pasti akan bisa ditundukkan dan diatasi. Keyakinan dan harapan adalah kekuatan kita dalam belajar. Keyakinan dan harapan itu yang harus menjadi obat di kala kita sedang dilanda penyakit malas dan bosan belajar.

Bagaimana kita bisa memunculkan keyakinan dan harapan? Keyakinan dan harapan itu akan muncul manakala kita sudah menentukan target tujuan belajar kita secera realistis. Dalam kondisi terpuruk ketika belajar, kita bisa kembali berefleksi tentang tujuan kita. Kemudian yakini dan selalu munculkan harapan-harapan itu. Dengan itu, kita akan kembali bersemangat untuk menepaki jejak-jejak belajar.

Untuk meraih apa yang menjadi cita-cita, kita sama sekali tidak boleh keluar dari track yang ada. Keluar dari track berarti kita tidak yakin dan tidak memiliki harapan terhadap cita-cita. Padahal yang nanti akan kita dapatkan itu tergantung keyakinan dan harapan kita. Jika kita yakin harapan itu ada, maka kita pun berupaya sekuat tenaga untuk meraihnya. Efek placebo untuk meraih cita-cita itu harus kita munculkan dalam diri kita sendiri. Dengan itulah kita akan kuat bertahan hingga cita-cita benar-benar bisa kita raih.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.