Mengajarkan Anak Bersosialisasi Sejak Usia Dini

MEPNews.id- Memiliki teman atau sahabat adalah salah satu pondasi penting dalam kehidupan seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang memiliki masalah dalam berinteraksi dengan teman sebayanya, cenderung mengalami guncangan emosi yang lebih besar dibandingkan anak yang memiliki banyak teman.

Dalam kondisi ekstrim, saat mereka dewasa, guncangan emosi yang tidak dapat diatasi ini dapat menyebabkan tindakan vandalisme, kriminal, bahkan bunuh diri. Apabila kita memiliki seorang anak yang pemalu, maka tidak ada salahnya jika anda mengajarkan cara bersosialisasi sejak dini. Kemampuan bersosialisasi ini sangat penting dalam masa tumbuh kembang anak, karena dengan bersosialisasi, anak akan lebih mudah untuk mengembangkan karakternya.

Mungkin hal ini bukan masalah bagi sebagian anak yang terlahir dengan bakat pandai bersosialisasi. Tetapi bagi anak yang kesulitan bersosialisasi, hal ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri dan susah bergaul dengan teman sebayanya. Keterampilan bersosialisasi mesti diasah lewat contoh orang tua yang pandai bergaul.

Tipe seperti apa pun anak usia 3 – 5 tahun, ada baiknya orang tua memberikan cara terbaik anak untuk bisa bersosialisasi. Apalagi jika anak mulai memasuki usia taman kanak-kanak. Interaksi sosial akan selalu terjadi pada anak. Karena itu, perlu mengajarkan anak bersosialisasi sejak usia dini dengan cara berikut.

Pertama, hangat dan penuh kasih sayang. Cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya menghindari sikap suka mengkritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya.

Kedua, petunjuk praktis. Sebagai pemula, anak-anak membutuhkan  arahan orang tua tentang cara memulai pertemanan. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain, memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Cara termudah, tentu saja, dengan memberikan contoh secara langsung kepada anak.

Di usia berapa pun, ada baiknya orang tua memberi tahu tentang etika atau tatakrama yang mendukung saat bersosialisasi dengan orang lain. S

alah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah, misal dengan bernegosiasi, dan berkompromi.

Ketiga, biasakan bergaul. Semenjak anak masih usia di bawah tiga tahun,  ajaklah anak untuk bersosialisasi dengan tetangga atau saudara. Di usia balita [3-5 tahun], anak mulai diajak rutin bermain bersama masyarakat yang lebih luas, seperti ke taman bermain, taman kanak-kanak, pasar, dan tempat-tempat yang ramai. Biarkan anak merancang bermain bersama pada hari berikutnya. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak untuk mudah berinteraksi sosial. Dengan demikian, bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak.

Keempat, mengundang teman baru. Saat anak sudah mulai akrab dan mempunyai teman baru, ajak dia untuk bermain di rumah. Maksimalkan interaksi positif anak dan teman-temannya saat bermain bersama di rumah, antara lain dengan menyediakan berbagai fasilitas yang anak-anak sukai, seperti permainan puzzle, lego, dan berbagai permainan yang membutuhkan kerja sama. Dengan cara ini anak akan mudah melakukan interaksi dengan bermain yang menyenangkan.

Dengan mengajarkan anak untuk bersosialisasi, perkembangan emosi anak akan lebih baik. Sifat egois dan malu akan terhindarkan. Anak akan dengan mudah berinteraksi dengan setiap orang yang ditemui. (Titi Anisatul Laely, pustakawan di Taman Baca Masyarakat Wadas Kelir, Purwokerto)

Sumber: Sahabat Keluarga

Facebook Comments

POST A COMMENT.