Ayo Waspadai Sisi Negatif Antibiotik

MEPNews.id – Jangan asal pakai antibiotik. Bahkan, banyak dokter menghindari penggunaan antibiotik berlebihan. Tentu saja, itu karena ada sisi negatif dari antibiotik. Bahkan, penelitian menunjukkan, pengurangan berbagai mikroba di usus akibat kelebihan antibiotik bisa mengganggu kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit.

ScienceDaily edisi 17 Agustus 2017 mengabarkan penelitian dari School of Medicine di University of Virginia, Amerika Serikat. Penelitian berjudul Microbiome-mediated neutrophil recruitment via CXCR2 and protection from amebic colitis ini dimuat di jurnal PLOS Pathogens, 2017. Hasilnya menunjukkan, penggunaan antibiotik membuat neutrofil, sejenis sel kekebalan tubuh, menjadi kurang efektif dalam melawan infeksi. Ini melemahkan sistem penghalang di usus terhadap serangan penyakit.

“Neutrofil memainkan peran penting sebagai ‘respons imun bawaan’ lini terdepan ketika patogen asing mulai menyerang,” kata peneliti Koji Watanabe, PhD. “Kami menemukan, gangguan antibiotik terhadap mikroba alami dalam usus bisa mencegah hal ini terjadi dengan benar. Akibatnya, usus menjadi rentan terhadap infeksi parah.”

obatPara periset, yakni Koji Watanabe, Carol A. Gilchrist, Mohammad Jashim Uddin, Stacey L. Burgess, Mayuresh M. Abhyankar, Shannon N. Moonah, Zannatun Noor, Jeffrey R. Donowitz, Brittany N. Schneider, Tuhinur Arju, Emtiaz Ahmed, Mamun Kabir, Masud Alam, Rashidul Haque, Patcharin Pramoonjago, Borna Mehrad, William A. Petri, berusaha memahami peran microbiome (mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh kita) di daerah kolitis amebik. Ini infeksi parasit berpotensi mematikan yang umum terjadi di negara-negara berkembang.

Mereka menganalisis sampel tinja yang dikumpulkan dari anak-anak di daerah kumuh perkotaan di Dhaka, ibukota Bangladesh. Hasilnya, anak-anak yang terinfeksi lebih parah umumnya memiliki lebih sedikit keragaman microbiome di dalam usus mereka.

Para peneliti mencatat, berkurangnya microbiome di dalam usus itu akibat antibiotik. Padahal, penggunaan antibiotik tersebar begitu luas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Anak-anak bahkan sering mendapatkan belasan antibiotik bahkan saat masih berusia dua tahun.

Para periset kemudian menggunakan tikus percobaan untuk mencari tahu bagaimana penurunan keragaman microbiome alami dalam usus ini terjadi dan memperburuk kondisi penyakit. Mereka menemukan, antibiotik mengganggu microbiome usus tikus, mengurangi aktivitas neutrofil, dan menghalangi sel darah putih untuk merespons penyakit saat dibutuhkan. Ini membuat usus jadi kurang terlindungi. Intinya, sistem penjagaan di usus tidak bisa merespons saat dipanggil sehingga penyerang bisa masuk dengan tepat.

Selain itu, sistem penghalang di usus yang melindungi terhadap penyakit telah dilemahkan. Gangguan microbiome mengurangi produksi protein seluler penting yang vital bagi efektivitas sistem penghalang.

“Saya pikir, ini menjadi alasan penting lain untuk tidak menggunakan antibiotik kecuali jika benar-benar dibutuhkan,” kata Bill Petri, MD, PhD, kepala Divisi Penyakit Infeksi di University of Virginia. “Penggunaan antibiotik yang asal-asalan tidak hanya meningkatkan risiko bakteri menjadi resisten terhadap multi-obat dan meningkatkan risiko infeksi difisil C, tetapi juga mengganggu fungsi sel darah putih.”

Selain menyoroti peran microbiome dalam melindungi kesehatan, hasil penelitian ini penting dalam upaya pengembangan vaksin untuk kolitis amebik yang dikenal dengan ‘amebiasis’. Penemuan ini bisa memberi cara untuk meningkatkan keefektifan vaksin semacam itu. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.