Waspadai Asma dan Polusi Asap; Korbannya 4 Juta Tiap Tahun

MEPNews.id – Dua penyakit paru kronis utama, yakni asma dan COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease), meminta korban hampir 4 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Yang mengerikan, di negara-negara miskin penyakit pernafasan ini sering tidak terdiagnosis dan tidak terobati.

HealthDay News edisi 16 Agustus 2017 mengabarkan, angka itu didapat dari laporan studi di jurnal The Lancet Respiratory Medicine. Menurut studi itu, 3,2 juta orang meninggal pada 2015 akibat COPD (sekelompok kondisi gangguan paru yang mencakup emphysema dan bronkitis kronis, yang sering dikaitkan dengan merokok). Asma sendiri menyebabkan 400.000 kematian lainnya.

Dari dua penyakit paru itu, asma lebih sering terjadi namun COPD jauh lebih mematikan. Kedua kondisi tersebut sebenarnya dapat diobati, namun banyak orang tidak terdiagnosis atau salah diagnosis. Selain itu, di banyak negara miskin, pengobatan –jika ada– mungkin dalam tingkat yang tidak mencukupi.

paru“Meskipun sebagian besar beban dari penyakit ini bisa dicegah atau diobati dengan intervensi yang terjangkau, penyakit ini kurang mendapat perhatian dibandingkan penyakit lainnya yang menonjol, seperti penyakit kardiovaskular, kanker atau diabetes,” kata penulis utama laporan penelitian, Theo Vos profesor di University of Washington, di Seattle.

Merokok dan polusi udara menjadi penyebab utama COPD. Penyebab asma kurang pasti, namun diperkirakan itu termasuk alergi dan merokok.

Pakar kesehatan pernafasan sepakat kedua penyakit tersebut sangat menganggu kesehatan namun dapat diobati. “Asma cukup mudah dikontrol dan bahkan bisa dipulihkan dengan obat-obatan,” catat Dr. Len Horovitz, spesialis paru di Lenox Hill Hospital di New York City. “COPD juga dapat diobati, namun kerusakan paru-paru bersifat permanen. Itu melibatkan proses penuaan alami paru yakni hilangnya alveoli progresif atau dipercepat. Jadi penurunan fungsi paru-paru berlangsung seumur hidup.”

Vos dan timnya mengatakan, secara umum penyakit itu menjadi kurang umum dan kurang mematikan sejak tahun 1990. Tapi, jumlah kasus mutlak penyakit itu di seluruh dunia justru meningkat. Itu karena ada lebih banyak manusia di dunia; dan lebih banyak lagi orang lanjut usia.

Para peneliti menemukan, serangan COPD terdahsyat terjadi di negara-negara India, Lesotho, Nepal dan Papua Nugini. Asma menjadi beban sangat tinggi di negara-negara Afghanistan, Republik Afrika Tengah, Fiji, Kiribati, Lesotho, Papua Nugini, dan Swaziland.

Dalam sebuah komentar jurnal, Onno van Schayck, dari Universitas Maastricht di Belanda, menambahkan, bahan bakar dapur dalam ruangan, yakni bahan ‘biomassa’ semacam  kayu dan batu bara, tetap menjadi sumber utama penyakit pernafasan di negara-negara miskin.

Penggunaan bahan bakar memasak di dapur ini  salah satu penyebab besar polusi udara. “Saat ini, lebih dari separuh populasi dunia masih menggunakan bahan bakar biomassa di dapur. Ini mengakibatkan tingginya beban morbiditas dan mortalitas. Untuk mengurangi polusi udara rumah tangga, beralihlah ke bahan bakar bersih. Namun, perubahan ini tidak selalu dimungkinkan karena kendala keuangan atau logistik. Ini terutama di daerah kumuh perkotaan.”

Intervensi yang ditujukan untuk mengganti tungku masak banyak asap dengan alat pembakar yang bersih dan murah akan berjalan jauh untuk mengurangi beban asma dan COPD di seluruh dunia, kata van Schayck. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.