Tidak Mengkritik Ustadz Marketing Haji

MEPNews.id — Mengkritik seseorang secara gamblang terang-terangan adalah sesuatu yang sering sebisa mungkin saya hindari. Saya tidak enak. Mending mengkritik diri sendiri. Mending belajar terus mencari dan menemukan kekurangan diri sendiri. Secara pribadi justru saya takut dan menghindari kritik. Sebisa mungkin saya harus mampu mengira-ngira bahwa orang akan mengkritik saya, kemudian sebisa mungkin, mumpung belum, saya selalu menghindari untuk jangan sampai bertemu dan dikritik orang. Pokoknya saya ngeri kalau soal kritik.

Ada saat-saat dimana kita sensitif dengan hawa dingin terutama jika sedang tidak punya jaket tebal. Ada baiknya juga kita diam di kamar, menghindari “kritik” hawa dingin dari luar, agar tubuh kita tidak gampang terkena “marah-marah dan luka” nggreges masuk angin, yang mungkin karena sedang tidak punya jaket “uang saku” yang tebal. Jika jaket sedang tebal biasanya, sekali lagi biasanya, hawa dingin tak gampang bikin masuk angin.

Terkadang saya juga “iri” melihat orang sabar tapi berkehidup mewah dan berkecukupan dikompetisikan dengan orang mlarat yang makan saja susah, kemudian jika si mlarat ndak kuat dan marah-marah suatu ketika, lantas dikuliahi: “Gitu saja kok sensitif dan marah-marah? Lihatlah itu Si Anu, dia orang yang sangat sabar…” Si Anu yang dimaksud adalah orang kaya yang sudah mapan, berpekerjaan dan berpenghasilan jelas.

Kritik itu tidak enak. Apalagi jika mengkritisi atasan (bukan hanya dalam arti jabatan struktural, melainkan juga senioritas dalam pergaulan sosial), sehingga para atasan sering merasa benar terus hanya karena tidak pernah mendapatkan masukan. Meskipun terkadang orang mlarat juga bisa aman dari kritik, angkuh merasa benar, karena banyak yang tidak tega mengkritiknya. Tetapi tetap saja sasaran kritik yang paling lancar dan sering itu mengalirnya ke bawahan, dan yang paling bawah adalah orang mlarat. Jadinya orang mlarat selalu bingung: “Kok saya disalahkan terus sih? Padahal yang salah sama persis dengan saya ini banyak….”

Orang mlarat jaman sekarang ini sangat sulit dimaafkan jika ia kurang tepat dan keliru. Akan tetapi jika orang kaya yang jelas-jelas keliru dan salah masih saja tetap disabari, dirangkul, disapa, serta didoakan siapa tahu kelak ia dapat hidayah Tuhan. Sedangkan yang mlarat segera cepat diklaim sak karepe dhewe, memang pantas turunan iblis, dan cocoknya memang dibuang, dikutuk, jangan sampai muncul lagi agar tak buat ulah lagi.

Itu adalah realita hari-hari ini yang justru jika kita mengerti, sangatlah mampu membuat kita tak gampang sakit hati. Ngopi pun terasa makin nikmat dan tidur pun makin lelap. Nggak usahlah kita terlalu membantah pagar kekuasaan kulturalisme masyarakat yang acuannya adalah opini mayoritas.

Maka, tatkala suatu ketika saya bertemu dan berbincang panjang lebar sambil ngopi mengenai haji bersama seorang ustadz yang ternyata adalah biro marketing haji tertentu demi kejar target, saya dipojokkan bahwa haji itu sebenarnya wajib. Nabi Ibrahim memanggil kita sejak dulu. Pun Nabi Muhammad juga memanggil. Sekarang naik haji mudah dan ada solusi kriditnya. Jika tak mau haji, ya silahkan pilih mati Nasrani atau Yajusi.

Saya yang aslinya bersikeras haji itu wajib hanya bagi yang mampu. Manistatho’a ilaihi sabila. Dan Tuhan sudah punya hitungan dan pertimbangan kenapa bab haji ini terdapat perkecualian hanya bagi yang mampu belaka. Bahkan sampai Nabi bilang Jumatan rutin selama 40 hari saja sudah bagai naik haji. Juga sangat tidak sopan jika Nabi menikmati haji sendirian tanpa memanggil berharap semua kekasih-kekasihnya yakni seluruh umat Islam sedunia hingga kapan pun agar bisa datang sowan ke Baitullah Makkah Al-Mukarromah.

Akhirnya saya urungkan niat membantahnya, mengkritiknya. Bahwa jangan menjadi ustadz marketing yang demi kejar target kuota haji segala sesuatunya bisa dibiaskan secara serius, dalil-dalil diartikan sesuai kepentingan, dan seterusnya. Tak jadi saya membantah seperti itu. Tak jadi saya mengkritik.

Saya cuma bilang bahwa saya sepertinya belum waktunya naik haji. Saya mengelak baik-baik. Tidak berani tegas. Daripada bertengkar lantas ruwet. Kopi saya tidak dibayari. Dan mohon jangan pernah lupa fatwa populer tukang sulap: adegan argumen pengecut saya ini, mohon dengan sangat agar jangan pernah ditiru.

Berkunjung ke Baitullah adalah sebuah kerinduan sekaligus keindahan rahasia yang begitu suci dan agung. Labbaik Allahumma labbaik. Sungguh berbahagialah bagi yang sudah dan akan berkunjung bertamu ke Rumah Allah saat ini. Doakan kami semua yang belum bisa kesana, kelak segara akan bisa menyusul. Amin, amin, amin, ya Rabbal alamin. (Rogojampi, 5 Agustus 2017)

Catatan: Muh Husen

Facebook Comments

POST A COMMENT.