2018, Uji Coba Vaksin Diabetes Tipe-1 pada Manusia

MEPNews.id – Ada terobosan besar. Kabar lumayan baik untuk pencegahan potensi kena diabetes. Dalam waktu dekat, bakal diluncurkan vaksin untuk mencegah penyakit berjuluk ‘the silent killer’. Prototipe vaksin yang dibuat beberapa dekade lalu sudah siap untuk uji klinis pada manusia pada 2018. Jika sukses, tak lama lagi vaksin ini dapat mencegah diabetes tipe-1 pada anak-anak.

Mike McRae, menulis di ScienceAlert edisi 24 Juli 2017, mengingatkan ini bukan obat dan sama sekali tidak menghilangkan diabetes tipe-1. Namun, vaksin ini diharapkan memberi kekebalan terhadap virus yang bisa memicu sistem pertahanan tubuh menyerang diri sendiri. Jika sukses, ini berpotensi mengurangi jumlah kasus diabetes baru setiap tahunnya.

Ada penelitian lebih dari dua dekade yang dilakukan Universitas Tampere di Finlandia. Laporan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Vaccine memberi bukti kuat hubungan antara jenis virus coxsackievirus B1 dengan reaksi autoimun yang menyebabkan tubuh menghancurkan sel-sel pankreasnya sendiri. Rusaknya pankreas ini menjadi penyebab utama diabetes.

Diabetes tipe-1 (bukannya tipe-2 yang lebih umum menyerang individu usia lebih lanjut) dicirikan dengan menurunnya kemampuan produksi insulin yang digunakan sel tubuh untuk menyerap glukosa dari darah. Hilangnya insulin ini akibat salah satu jaringan pankreas yang disebut sel-sel beta sudah dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Proses penghancuran sel-sel beta ini bisa terjadi dalam beberapa tahun pertama kehidupan.

Memang, masih misteri mengapa tubuh mengidentifikasi sel-sel beta sebagai sel asing yang harus dihancurkan. Ada dugaan, itu terkait masalah genetika yang menghasilkan variasi penanda leukosit manusia yang bertindak sebagai ‘tag ID’ bagi sel-sel itu. Tidak diragukan lagi, ini proses rumit. Ada banyak cara proses ini bisa dipicu.

Salah satu pemicu yang ditemukan ahli virologi Heikki Hyöty dari Universitas Tampere adalah infeksi enterovirus. Jenis virus ini sangat mengerikan, karena terkait dengan polio, juga menyebabkan penyakit tangan, kaki dan mulut, serta penyakit meningitis dan miokarditis. Ada kecurigaan hubungan antara kelompok patogen ini dengan diabetes; namun butuh penelitian dan waktu untuk memastikannya.

Pada 2014, Hyöty dan timnya menggunakan sepasang studi terhadap anak-anak Finlandia yang kena diabetes tipe-1. Studi ini menunjukkan setidaknya satu dari enam virus pada kelompok-B dari coxsackievirus dikaitkan dengan kondisi diabetes tipe-1 pada anak-anak.

Enterovirus secara umum diketahui sudah ada pada bayi yang baru lahir. Centers for Disease Control and Prevention menemukan, sekitar seperempat dari 444 infeksi enterovirus yang diketahui di Amerika Serikat pada tahun 2007 disebabkan oleh coxsackievirus B1 (CVB1). Bagi beberapa anak-anak, itu bisa menjadi awal dari kondisi diabetes seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan.

“Diperkirakan dari data yang dihasilkan, 5 persen anak yang terinfeksi CVB1 bisa berkembang menjadi kena diabetes tipe 1,” begitu laporan penelitian mereka pada 2014.

Angka itu mungkin tidak tampak banyak. Tapi, itu sudah cukup untuk mengisyaratkan bahwa setiap tahun ada ratusan bayi di seluruh dunia yang mengalami potensi diabetes tipe-1. Jika anggota lain dari kelompok CVB juga berkontribusi pada autoimunitas terhadap sel-sel beta, yang sangat mungkin terjadi, maka angkanya bisa jadi lebih tinggi.

Jika uji coba 2018 berjalan lancar, dan semua urusan administratif beres, maka vaksin yang baru dikembangkan ini bisa menghentikan serangan berbagai jenis enterovirus itu. “Sekarang, sudah diketahui vaksin ini efektif dan aman pada tikus,” kata Hyöty. “Proses pengembangan telah mengambil lompatan signifikan ke depan karena tahap berikutnya mempelajari vaksin ini pada manusia.”

Uji coba pra-klinis tentu saja merupakan langkah awal. Tahap selanjutnya akan melibatkan pengujian pada manusia dewasa yang sehat untuk memetakan kemungkinan komplikasi dalam bentuk apa pun.

Sebagai bonus, vaksin ini bisa membantu mengurangi infeksi enterovirus lainnya. “Vaksin ini bisa melindungi kita dari infeksi yang disebabkan enterovirus. Antara lain flu biasa, miokarditis, meningitis dan infeksi telinga,” kata Hyöty.

Untuk melihat apakah vaksin itu bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dibutuhkan waktu sekitar delapan tahun lagi. Jadi, diingatkan McRae, jangan mengharapkan sesuatu yang revolusioner dan terlalu cepat.

Sementara itu, lembaga semacam Juvenile Diabetes Research Foundation (JDRF) terus mendanai penelitian untuk menemukan cara lebih baik mencegah dan mengobati diabetes tipe-1. Yang didorong antara lain memperbaiki teknologi yang meniru fungsi pankreas atau dengan mengidentifikasi cara meregenerasi sel penghasil insulin.

Awal tahun ini, para peneliti telah mengidentifikasi sel-sel yang belum matang di pankreas yang berpotensi bisa didorong untuk menjalankan pekerjaan sel-sel beta matang yang sudah terlanjur hilang.

Tidak akan ada penyembuhan, pengobatan, atau pencegahan tunggal yang akan memberi kita jagad bebas-diabetes. Antara 20 juta hingga 40 juta orang di seluruh dunia sudah hidup dengan menderita diabetes tipe-1. Vaksin seperti ini mungkin tidak menumpas penyakit, tapi bisa menjadi langkah maju besar untuk pencegahan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.