Orang Pintar Cenderung Gagal Ujian Mengemudi

MEPNews.id – Semakin cemerlang otak seseorang, semakin kecil kemungkinan untuk langsung lulus tes mengemudi pertama kali. Sebaliknya, pengendara dengan kualifikasi akademis atau profesi lebih rendah lebih mungkin lulus ujian dan memenuhi syarat untuk mendapatkan SIM penuh. Untuk urusan mengemudi, pikiran kreatif dalam seni tampaknya lebih baik daripada pemikiran rasional dalam matematika dan sains.

Ray Massey, editor motor untuk The Daily Mail, pada 21 Juli 2017, menurunkan berita tentang hasil penelitian baru oleh Privilege DriveXpert. Penelitian ini didasarkan pada analisis atas 1.564 orang yang sudah mengapat lisensi SIM penuh di Inggris Raya. Penelitian ini menunjukkan hubungan antara kualifikasi, IQ, dan posisi profesional, dengan kesempatan untuk lulus ujian mengemudi pada kesempatan pertama.

Tampaknya penelitian bisa menunjukkan hubungan itu. Semakin baik tingkat sekolah dan perguruan tinggi, semakin kecil peluang untuk lulus tes mengemudi dalam kesempatan pertama. Sepertinya, pengendara yang punya otak lebih cemerlang terlalu besar memikirkan tantangan yang mereka hadapi. Sebaliknya, pengendara yang tidak terlalu berfikir besar lebih mudah lulus ujian karena mengambil pendekatan praktis terhadap masalah.

Studi tersebut menemukan, 59 % pengemudi tanpa kualifikasi bisa lulus Tes-L mereka untuk pertama kalinya dengan rata-rata 1,7 upaya untuk mendapatkan SIM penuh mereka. Lalu, 50 % dari pengemudi GCSE (setara sekolah menengah) lulus ujian pertama kali dengan rata-rata 1,8 upaya. Itu naik sedikit bagi pemegang kualifikasi pendidikan Level-A (sekolah tinggi) yakni sampai 51% lulus.

Tapi, tingkat kelulusan merosot sampai 48% bagi mereka-mereka yang memiliki gelar sarjana, dan bahkan 47% untuk pengemudi dengan kualifikasi pasca sarjana atau manajer perusahaan. Lebih jauh, hanya 39% bagi pemilik perusahaan. Para pemiliki bisnis bahkan tiga kali lebih mungkin mengulang tes hingga empat kali atau lebih (22 %) dibandingkan mereka yang berada di tingkat bawah di tangga profesional (7%).

Laporan Privilege DriveXpert mencatat, “Gagal tes dalam upaya pertama itu bisa serasa mengalami kemunduran besar bagi pengemudi. Penelitian kami menunjukkan hubungan antara kualifikasi dan posisi profesional dengan berapa kali seseorang harus mencoba untuk bisa lulus ujian praktik mengemudi. Mereka yang kualifikasi lebih bawah lebih mungkin untuk lulus tes dalam upaya pertama.”

Di jagad akademis, juga ada perbedaan. Mereka yang kuliah di bidang seni di Level-A atau di atasnya ternyata menjalani lebih sedikit waktu untuk lulus ujian mengemudi. Mereka mencatat 1,9 kali upaya, dibandingkan dengan 2,3 kali upaya oleh mereka kuliah di bidang sains dan matematika.

Dr Lee Hadlington, dosen senior Psikologi di De Montfort University, mengatakan, “Mereka yang tidak memiliki kualifikasi akademik formal dapat lebih bergantung pada keterampilan prosedural antara lain kontrol motorik dan koordinasi mata-tangan. Ini membuat mereka mungkin lebih cocok untuk kegiatan semacam tes mengemudi.”

Charlotte Fielding, pimpinan Privilege DriveXpert, mengatakan, “Lulus ujian dalam upaya pertama memang bukan yang paling utama. Ketrampilan mengemudi itu kita dipelajari selama bertahun-tahun sebagai pengalaman. Penelitian ini hanya untuk menunjukkan hubungan antara kesuksesan akademis dan profesional dengan kelulusan dalam tes mengemudi.”

Hampir setengah (46%) dari mereka yang mengambil Tes-L praktis pada 2016-2017 berusia antara 17 hingga 20, dengan sepertiga lainnya (34%) berusia 21 sampai 40 tahun. Pada 2015-2016, 731.925 orang mengikuti tes mengemudi pertama mereka dan lebih dari 8.000 lulus tanpa kesalahan. Dalam tiga bulan pertama tahun 2017, ada 521.420 peserta tes praktik dengan tingkat kelulusan 48,3%. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.