Space Kosong

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya mulai suka mencari buku tulis bekas. Bukan untuk dijual, tapi saya mencari lembar yang kosong kalau mungkin bisa digunakan lagi. Lembar kosong buku tulis yang tidak habis penggunaanya. Buku bekas yang saya cari tidak saja dari yang saya miliki, tapi juga buku milik tetangga yang diperbolehkan untuk saya ambil lembar kosongnya.

Kegiatan itu mulai saya lakukan ketika menginjak kelas enam, dan masih sering saya lakukan hingga SMA. Hal tersebut saya lakukan bukan karena sama sekali tidak mampu membeli buku. Tapi, atas dasar rasa eman atau sayang jika lembar kosong yang masih bisa digunakan itu ‘nganggur’ atau bahkan dibuang begitu saja. Juga, atas dasar keinginan saya memiliki buku tebal yang melebihi tebalnya buku pada umumnya.

Kala itu, buku paling tebal yang pernah saya jumpai hanya 72 lembar. Bagi saya, itu kurang. Saya ingin membeli yang lebih tebal, tapi tidak diperbolehkan orang tua. Alasannya, karena belum dibutuhkan. Maka, saya mencoba mengumpulkan lembar-lembar kosong tersebut untuk saya jilidkan menjadi buku tulis yang sangat tebal.

Setiap menjelang tahun pelajaran, setidaknya saya bisa mendapatkan tiga sampai empat buku yang tebalnya 100-120 lembar. Cukup tebal. Bahkan, sering satu buku saya gunakan untuk menulis materi beberapa pelajaran. Saya jadi lebih berhemat jumlah buku yang saya bawa ketika sekolah. Untuk sebagian maple, buku tulisnya sudah saya gabung menjadi satu.

Hingga sekarang, beberapa buku ekstra tebal tesebut masih ada. Namun, sebagian besar sudah hilang karena kekhilafan saya waktu itu. Lembar-lembar buku itu hilang karena saya gunakan untuk membuat mercon. Sekarang saya jadi menyesal karena tidak lagi memiliki kenangan yang banyak. Hiks…hiks…

Sekarang, mungkin sudah jarang ada anak melakukan kegiatan seperti yang saya pernah lakukan tersebut. Mungkin anak-anak zaman sekarang sudah tidak sempat melakukannya karena sudah sibuk dengan gadget. Mungkin juga mereka malu kalau memiliki buku bekas, apalagi di dalamnya berisi berbagai macam motif dan merek buku tulis. Pasti akan diejek oleh teman-temannya. Juga mungkin, karena para orang tua sudah mampu membelikan buku tulis baru dengan gambar sampul lucu-lucu. Buku baru dengan sampul lucu itu bahkan kekinian banget bagi anak sekolah zaman sekarang. Itu semua membuat mengumpulkan lembar kosong buku tulis bekas menjadi kegiatan yang membuang-buang tenaga.

Saya menuliskan ini karena teringat ketika Mr. Kalend sang Direktur BEC Pare menjelaskan tentang penggunaan buku panduan yang setiap lembar diberi space kosong untuk menuliskan keterangan. Pendiri sekaligus pengelola lembaga kursus Bahasa Inggris di kampung Inggris di Pare itu bermaksud agar lembar kosong tersebut tidak mubadzir dan agar mudah mencari penjelasan atau keterangan tentang teks yang ada di sebelahnya.

Meski sekarang banyak yang mengatakan bukan zamannya lagi menulis dengan tangan, tapi saya tetap menikmatinya. Ya, walau yang saya tulis hanya materi pelajaran, tapi setidaknya agar saya tidak melupakan keterampilan menulis dengan tangan.

Dulu, ketika mash duduk di bangku SMP, saya sering membuat tulisan tangan dengan berbagai model. Model tulisan tersebut adalah model tulisan teman-teman satu angkatan, dari adik kelas hingga kakak kelas. Mengapa saya bisa tahu tulisan mereka? Karena waktu itu masih ada acara tukar menukar diary yang berisikan indentitas teman serta kesan pesan mareka. Dari situ, saya mencontek model tulisan mereka. Beberapa waktu lalu, setelah saya bongkar-bongkar lagi buku-buku saya zaman dulu, saya hampir pangling dengan berbagai gaya tulisan saya sendiri. Hemmmm…indahnya.

Kesempatan saat ini saya gunakan untuk bernostagia. Saya merasakan sensasinya menulis dengan tangan. Meski tidak seperti ketika SMP saat saya menulis dengan berbagai gaya, setidaknya itu sudah cukup bagi saya untuk mengencangan kembali otot tangan untuk menulis dengan tulisan yang sangat banyak.

Karena lama tidak menulis dengan tangan dalam jumlah banyak, saya merasa tertinggal ketika menulis materi. Teman sebelah saya, yang kelihatan baru menulis setelah saya menulis, ternyata selesai lebih dulu daripada saya.

Juga, moment ini saya gunakan untuk kembali melatih diri, menggunakan buku tulis semaksimal mungkin, dan tidak membiarkan lembar kosong sia-sia tanpa guna.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.