Ini Nasihat Pakar Mikrobiologi Soal Cuci Sprei

MEPNews.id – Sebagian besar kita menghabiskan sepertiga kehidupan di tempat tidur. Padahal, tempat kita tidur itu juga dapat dengan cepat berkembang menjadi ‘taman botani’ bagi bakteri, jamur, dan jasad renik lainnya. Jika dibiarkan terlalu lama, kehidupan mikroskopis di dalam kasur, bantal, hingga di kerut dan lipatan sprei bisa membuat kita sakit.

Philip Tierno, ahli mikrobiologi Universitas New York, dalam wawancara untuk Business Insider yang dikutip Erin Brodwin di iflscience.com edisi 4 Juli 2017, mengatakan, “Untuk membendung perkembangan jasad tak kasat mata itu, sprei dan sarung bantal dicuci seminggu sekali. Bantal dan kasur harus dijemur atau dikeringkan.”

Manusia secara alami menghasilkan kira-kira 26 galon keringat di tempat tidur setiap tahun. Saat cuaca panas, kelembapan dari keringat ini menjadi media kultur pembiakan ideal bagi parasit. Ada studi baru-baru ini yang meneliti tingkat kontaminasi jamur di tempat tidur. Dalam sampel uji bantal bulu dan sintetis yang berumur 1½  sampai 20 tahun, terkandung 16 spesies jamur.

mikroba

Wujud mikroba ini mengerikan. Namun, karena sangat kecil, Anda tidak menyadari mereka hidup di sprei dan kasur.

Padahal, Anda bergelibat tidak hanya dengan kehidupan mikroba dari tubuh Anda sendiri. Selain jamur dan bakteri dari keringat, liur, sel kulit, serta ekskresi vagina dan dubur, Anda juga berbagi tempat tidur dengan mikroba dari luar tubuh. Antara lain; bulu binatang, serbuk sari, tanah, serat, debu dan kotoran, hingga serbuk bahan sprei. Bahkan ada kemungkinan virus.

Tierno mengatakan, akumulasi semua mikroba itu menjadi “signifikan” dalam waktu sepekan. Tempat tidur yang tidak bersih memberi cukup bahan yang bisa memicu Anda bersin. Posisi mikroba sangat dekat dengan mulut dan hidung sehingga Anda mau tak mau harus menghirupnya. “Bahkan, meski Anda tidak memiliki alergi, Anda bisa saja mendapat respons alergi,” kata Tierno.

Selain perilaku atau pola keringat Anda, penyebab lain bagi sprei dan sarung bantal cepat kotor adalah gravitasi. “Seperti kota Roma yang dahulu dari waktu ke waktu terkubur oleh puing-puing yang jatuh akibat gravitasi. Nah, gravitasi pula yang membawa semua materi itu ke kasur,” kata Tierno.

Dalam tempo satu sampai dua minggu, penumpukan materi di kasur ini sudah cukup untuk membuat orang menjadi gatal tenggorokan. Apa lagi jika orang itu yang memiliki alergi atau asma yang signifikan.

“Jika menyentuh kotoran hewan di jalan, Anda tentu ingin cuci tangan, bukan?” kata Tierno. “Maka, analogikan itu dengan tempat tidur Anda. Jika Anda tahu apa saja yang ada di tempat tidur, sayangnya mata Anda tidak bisa melihatnya, maka Anda pasti akan bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah saya mau tidur di atasnya?’ Maka, sering-sering cucilah perangkat tidur agar bersih dari kotoran.” (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.