Merawat Hubungan Sosial dalam Bingkai Sedekah

astatikOleh: Astatik

MEPNews.id – Ramadhan itu ibarat ‘mall pahala’ bagi yang memanfaatkan bulan mulia yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan ini.

Selain ibadah ritual, seperti sholat tarawih, i’itikaf dan tadarus, bulan Ramadhan juga dipenuhi oleh kegiatan sosial seperti pembagian takjil dikeluarkannya zakat fitrah dan lain lain.

Untuk kegiatan berbagi ini ada tradisi di daerah di Jombang saya namanya ‘weweh‘ yaitu berbagi makanan yang biasa dibagikan kepada tetangga, sanak saudara dan handai taulan pada sepuluh ramadhan terakhir. Biasanya,kalau yang mengantarkan ini masih usia belia, tuan rumah yang diberi ‘wewehan‘ ini memberi sangu uang kepada anak yang mengantarkan ‘weweh‘ ini.

Bagaimana saya tidak menyebut mall pahala? Karena, kita ingin berbuat baik apa saja, Ramadhan seolah jadi semangat untuk membelanjakan harta kita untuk membaiki kwalitas kesholehan pribadi kita.

Ada komunitas, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan dan lain sebagainya yang dengan ringan hati mengajak anggotanya untuk berbagi kepada anak yatim, dengan para lansia dan bahkan kepada para pengatur jalan di perempatan, di palang kereta api tak berpintu juga berbagi kepada para pengurus masjid, ustadz dan ustadzah TPQ. Untuk kegiatan yang saya sebutkan ini, saya menyaksikan digerakkan dan dikoordinir oleh Lazisnu Jombang, salah satu badan yang ada di organisasi NU .

Selain dari internal agama Islam, kelompok pemuda gereja rupanya tergerak untuk ikut menjaga hubungan sosial dengan sesamanya pada bulan Ramadhan ini. Pada beberapa hari yang lalu, di Jombang ada kelompok pemuda gereja yang berbagi takjil di salah jalan di kota Jombang dan ini saya menyaksikan sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Selain berbagi, ada pula acara buka bersama. Inipun saya pahami sebagai upaya menjaga hubungan sosial karena serupa dengan menjaga terjalinnya silaturrahim antar sesamanya.

Saya juga melihat kegiatan kegiatan soaial ini di daerah lain di seluruh Indonesia, contohnya, nampak pada sepuluh hari terakhir ada bisnis penukaran uang receh baru di sepanjang jalan tertentu (bisnis ini oleh banyak kajian agama dianggap riba). Uang uang baru ini disiapkan untuk diberikan kepada sanak saudara dan handai taulan baik saat ‘weweh‘ atau saat hari raya idul fitri.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.