Jangan Amputasi Cakar Kucing! Ini Efek Buruknya

MEPNews.id – Kucing memang lucu, tapi cakarnya kadang mengganggu. Selain untuk mencari makan, kucing menggunakan cakar untuk membela diri. Selain bisa melukai anak-anak, cakar yang runcing bisa merobek sofa, kayu pintu, hingga tembok. Cakar itu tumbuh terus sehingga kucing perlu memendekkannya dengan menggaruk-garuk kayu atau tembok.

Nah, kadang ada manusia yang tidak mau repot dengan cakar kucing rumahan peliharaannya. Orang-orang ini membawa kucingnya ke dokter hewan untuk onychectomy. Operasi ini untuk mengangkat cakar binatang dengan cara mengamputasi semua atau sebagian dari phalanx distal (ujung tulang) jari kaki binatang.

cakarNamun, sebagaimana dikabarkan Chuck Bednar di redorbit.com edisi 25 Mei 2017, buang cakar itu dapat meningkatkan risiko rasa sakit jangka panjang atau terus-menerus, membuat kucing lebih agresif, dan cenderung kurang mau buang kotoran di litter box.

Itu menurut penelitian yang baru dipublikasikan di Journal of Feline Medicine and Surgery yang ditulis Nicole Martin-Moran, praktisi veteriner di Feline Medical Center di Houston, Texas, dan rekan-rekannya. Mereka membandingkan 137 kucing yang belum menjalani prosedur onychectomy, dan 137 lainnya yang sudah (termasuk 33 yang cakar pada keempat kakinya sudah dibuang).

Masing-masing kucing diperiksa tanda-tanda ketidaknyamanan dan antara lain perilaku menjilat dan menggigiti bulu secara berlebihan, serta diperiksa riwayat medis mereka untuk perilaku negatif. Para peneliti menemukan, kucing yang cakarnya dibuang melakukan rata-rata tujuh kali lebih sering kencing atau eek di luar litter box, empat kali lebih sering menggigit, dan tiga kali lebih sering menjadi agresif, dibanding kucing yang cakarnya normal.

Lebih jauh, kucing yang cakarnya dibuang hampir tiga kali lebih mungkin didiagnosis menderita sakit punggung daripada kucing yang tidak mengalami onychectomy. Ini mungkin akibat pemendekan anggota badan yang dipotong, perobahan gaya berjalan, dan/atau sakit kronis di lokasi operasi.

“Kucing yang cakarnya dibuang lalu menunjukkan perilaku tidak baik mungkin bukan karena mereka memang ‘kucing jahat’. Bisa jadi mereka justru memerlukan penanganan khusus atas rasa nyeri yang mereka derita,” begitu penjelasan Martin-Moran. “Kami memiliki bukti ilmiah bahwa mengamputasi cakar itu merugikan kucing. Saya harap penelitian ini menjadi salah satu dari banyak pertimbangan saat dokter hewan melakukan onychectomy.”

Bahkan, teknik onychectomy yang sudah tepat masih bisa menimbulkan masalah bagi kucing. Dari kucing yang terlibat dalam penelitian ini, 176 dirawat di rumah oleh pemiliknya (separo sudah dibuang cakarnya dan 88 lainya tidak), dan 99 adalah kucing dari tempat penampungan (49 dibuang cakarnya, 49 sisanya tidak). Setelah dua tahun peninjauan rekaman sejarah medis, semua kucing yang cakarnya dipotong mengalami kelainan anggota tubuh.

Martin-Moran dan rekan-rekan menemukan ‘peningkatan signifikan’ risiko nyeri punggung, menggigit dan mencabuti bulunya sendiri bagi kucing-kucing yang cakarnya dibuang. Hampir dua pertiga (63 persen) kucing yang cakarnya dibuang menunjukkan bukti radiografis adanya fragmen tulang sisa di phalanx ketiga (P3) mereka. Kucing-kucing yang punya sisa P3 cenderung mengalami masalah nyeri punggung, dan lebih agresif, dibandingkan kucing yang fragmen P3 yang hilang sepenuhnya.

“Teknik bedah optimal, dengan mencabut P3 secara keseluruhan, dikaitkan dengan lebih sedikit hasil buruk dan lebih rendah kemungkinan keanehan ini. Namun, hewan yang sudah dioperasi dengan baik pun tetap mengalami peningkatan kebiasaan menggigit dan kebiasaan yang tidak diinginkan lainnya dibandingkan kucing yang dikontrol tanpa pembedahan. Penggunaan teknik bedah optimal juga tidak menghilangkan risiko perilaku buruk setelah onychectomy,” begitu yang dilaporkan peneliti.

Alasan untuk perilaku ini adalah pemotongan distal phalanx (P3) memaksa kucing menempatkan berat tambahan pada ujung phalanx tengah (P2) yang lebih lunak. Ketidaknyamanan pada dua phalanx tersebut menyebabkan kucing buang air kecil atau buang air besar pada permukaan lebih lembut, antara lain karpet, dan bukan di permukaan mirip kerikil di dalam litter box. Kucing yang dicabut cakarnya lebih cenderung menggigit karena kehilangan salah satu alat untuk membela diri. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.