Bahaya! Otak Mulai Memakan Dirinya Sendiri Jika Tubuh Kurang Tidur Kronis

MEPNews.id – Hayo, jangan melek terus-terusan. Kurang tidur sering dihubungkan dengan berkurangnya kesehatan tubuh. Bahkan, hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di Journal of Neuroscience menunjukkan, kekurangan tidur kronis bisa membuat sel otak makan sel otak.

Menyalakan lampu hingga larut malam mungkin bisa menyalakan otak Anda. Saat dipakai beraktivitas hingga larut malam, sel-sel sehat di otak bisa menghancurkan dan mencerna sel-sel usang. Jika dilakukan sesekali dan dalam jangka pendek, kondisi ini mungkin bermanfaat; yakni membersihkan puing yang berpotensi berbahaya dan membangun kembali sirkuit untuk dapat melindungi koneksi otak yang sehat.

Namun, jika begadang terus-menerus dalam jangka panjang, sel-sel itu jadi terlalu giat dan memakan diri sendiri atau sel sebelah yang sama-sama masih sehat. Terjadi overdrive saat kekurangan tidur secara kronis. Temuan ini dapat menjelaskan mengapa kurang tidur kronis membuat orang berisiko terkena penyakit Alzheimer dan gangguan neurologis lainnya, kata Michele Bellesi dari Universitas Politeknik Marche di Italia yang dikutip Andy Coghlan untuk newscientist.com edisi 23 Mei 2017.

Bellesi sampai pada kesimpulan ini setelah mempelajari efek kurang tidur pada tikus eksperimen. Timnya membandingkan otak tikus-tikus yang diizinkan tidur selama yang mereka inginkan, dengan yang terjaga selama delapan jam berikutnya, dan dengan sekelompok tikus lain yang terus terjaga selama lima hari berturut-turut (untuk mendapatkan efek dari kurang tidur kronis).

Tim peneliti secara khusus mengamati sel-sel glial yang mengelola sistem pemeliharaan otak. Dalam beberapa penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa gen yang mengatur aktivitas sel-sel ini lebih aktif setelah masa kurang tidur.

Salah satu jenis sel glial, yang disebut astrosit, bertugas memangkas sinapsis yang sudah tidak diperlukan di otak untuk menata kembali jejaringnya. Tipe sel lain, yang disebut mikroglial, memicu otak membuang sel-sel mati dan puing yang rusak.

Tim peneliti pimpinan Bellisi menemukan, setelah tikus-tikus tidur tanpa terganggu, astrosit mereka tampak aktif di sekitar 6 persen sinapsis di otak. Tapi, astrosit tampak lebih aktif pada tikus yang kekurangan tidur. Tikus yang telah kehilangan delapan jam tidur menunjukkan aktivitas astrosit sekitar 8 persen pada sinapsis mereka. Sementara sel-sel tersebut aktif pada 13,5 persen sinapsis dari tikus-tikus yang tidak dibiarkan tidur lima hari.

Ini menunjukkan, kekurangan tidur bisa memicu astrosit mulai menghancurkan lebih banyak koneksi otak dan puing-puingnya. “Kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa sebagian sinapsis benar-benar dimakan sendiri oleh astrosit saat tikus kekurangan tidur,” kata Bellesi.

Dalam beberapa hal, ini mungkin baik. Sebagian besar aksi memakan sel usang itu terjadi di sinapsis terbesar yang lebih dewasa dan lebih intensif digunakan. Menghancurkan sel-sel usang itu berarti penataan-ulang dengan sel-sel yang baru dan segar. “Seperti furnitur lama, yang mungkin perlu untuk lebih banyak perhatian dan pembersihan,” kata Bellesi.

Tetapi tim peneliti juga menemukan bahwa sel-sel mikroglial menjadi lebih aktif setelah tikus-tikus eksperimen mengalami kekurangan tidur kronis. Sel-sel ini tidak hanya memakan sel-sel yang sudah usang, tapi juga yang masih sehat. Yang mengkhawatirkan, aktivitas berlebihan mikroglial sering dikaitkan dengan berbagai gangguan otak. “Kita tahu bahwa aktivasi mikroglial berlebihan telah diamati pada kasus-kasus Alzheimer dan bentuk neurodegenerasi lainnya,” kata Bellesi.

Temuan ini bisa menjelaskan mengapa kurang tidur membuat orang lebih rentan terkena gangguan demensia dan semacamnya, kata Agnès Nadjar dari University of Bordeaux di Prancis.

Meski demikian, belum jelas apakah tidur lebih banyak bisa melindungi otak atau menyelamatkannya dari efek beberapa malam kurang tidur. Para peneliti berencana menyelidiki berapa lama efek kurang tidur bisa bertahan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.