Sentuhan Bakteri Ini Bisa Bikin Emas Murni

MEPNews.id – Dalam mitologi Yunani kuno, ada Raja Midas yang sakti mandraguna karena kemampuannya mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Dalam alkimia, transmutasi benda menjadi emas disebut chrysopoeia. Nah, dalam dunia sains empiris, yang punya kemampuan melakukan ini adalah bakteri tertentu.

Profesor Gordon Southam, dari Sekolah Ilmu Bumi dan Ilmu Lingkungan di University of Queensland di Australia, memimpin penelitian mendalami siklus biogeokimia emas. Menurutnya, dimuat situs University of Queensland di www.uq.edu.au edisi 28 April 2017, emas dapat ditemukan dan diekstraksi lebih cepat dan didaur ulang lebih efisien berkat bakteri ‘penghasil nugget’.

emas

Nugget emas kasar semacam ini terbentuk melalui proses belasan tahun di bawah permukaan Bumi. (image: courtesy of Instagram@goldrushnuggets)

“Di permukaan Bumi, emas bisa dilarutkan, dipisah dan disatukan kembali menjadi nugget,” kata Southam. “Rangkaian perjalanan epik ini disebut siklus biogeokimia emas. Kami sekarang memahami berapa lama siklus ini berlangsung. Sekarang, kami berharap bisa melakukannya lebih cepat di masa depan.”

Dia menjelaskan, emas diproduksi dalam tekanan dan suhu tinggi jauh di bawah permukaan Bumi, dan biasanya ditambang dari deposit utama yang besar.

“Di lingkungan alami, emas primer membuat jalan menembus tanah, sedimen dan saluran air melalui pelapukan biogeokimia dan berakhir di laut,” kata Southam. “Di sela jalan, bakteri bisa melarutkan dan merekonsentrasi ulang emas itu. Proses ini menghilangkan sebagian besar perak dan membentuk nugget emas. Hasil penelitian kami menunjukkan, transformasi ini terjadi dalam waktu beberapa tahun sampai puluhan tahun. Waktu yang lama untuk ukuran manusia, namun sekejap menurut waktu geologis.”

Southam mengatakan, hasil penelitian tersebut bisa menghasilkan banyak aplikasi menarik. Antara lain; mengoptimalkan proses ekstraksi emas dari bijih mentah dan pengolahan ulang tailing (bahan yang tertinggal setelah pemisahan fraksi) atau hasil daur ulang elektronik, yang saat ini tidak layak secara ekonomis.

Selain Southam, penelitian melibatkan Dr Frank Reith dan Dr Jeremiah Shuster dari Fakultas Biologi di University of Adelaide, John Parsons dan Johno Parsons dari Prophet Gold Mine di Queensland, dan Dr. Geert Cornelis yang pernah bekerja di CSIRO. Tim menganalisis sejumlah butir emas dari West Coast Creek, sebelah barat Gympie, dengan menggunakan mikroskop elektron resolusi tinggi.

Para periset menemukan lima ‘episode’ siklus biogeokimia emas terjadi pada setiap butir emas. Setiap episode diperkirakan memakan waktu antara 3,5 – 11,7 tahun –total episode bisa di bawah 18 tahun sampai hampir 60 tahun untuk membentuk emas sekunder.

“Memahami siklus biogeokimia emas ini bisa membantu eksplorasi mineral dengan menemukan endapan emas yang belum ditemukan atau mengembangkan teknik pengolahan yang inovatif,” kata Dr Shuster. “Jika bisa membuat proses ini lebih cepat, maka potensi pengolahan ulang tailing dan memperbaiki pengolahan bijih akan mengubah proses mendapatkan emas. Upaya awal untuk mempercepat reaksi ini tampak menjanjikan dengan bantuan bakteri tertentu. ”

Hasil penelitian mereka dipublikasikan di jurnal Chemical Geology.

Facebook Comments

POST A COMMENT.