Ulat Ini Bisa Menguraikan Plastik Bandel

MEPNews.id – Kalau ada yang menganggap plastik tebal rasanya nikmat, salah satunya tentu hewan lembek ini. Para ilmuwan menemukan larva dari ngengat tertentu bisa dengan mudah mengunyah plastik polietilena lalu mengubahnya menjadi senyawa bermanfaat untuk semua jenis produk konsumen. Temuan itu diterbitkan dalam jurnal Current Biology dan dikutip Amina Khan untuk Los Angeles Times edisi 24 April 2017.

Larva berbentuk ulat ini bisa membantu mengurangi dan menggunakan kembali sejumlah besar sampah plastik yang dihasilkan manusia setiap tahunnya. Plastik adalah produk sampingan bahan bakar fosil. Kira-kira 92% plastik terbagi menjadi dua kategori utama: polietilena dan polipropilena. Polietilen banyak digunakan untuk kemasan sehingga menghasilkan 40% dari permintaan produk plastik. Total, ada lebih dari satu triliun kantong plastik digunakan setiap tahunnya. Plastik itu memang didaur ulang, namun tidak banyak. Menurut Environmental Protection Agency, dari 33,25 juta ton plastik yang dihasilkan di Amerika Serikat pada 2014 hanya 9,5% yang didaur ulang. Sebagai tambahan, 15% dibakar untuk energi namun bukan proses bersih, dan 75,5% sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah. Maka, solusi baru untuk degradasi plastik sangat dibutuhkan.

“Masalahnya, plastik semacam itu sulit dipecah,” tulis salah seorang peneliti, Christopher J. Howe, ahli biokimia dari Universitas Cambridge.

Molekul polietilena memiliki inti rangkaian lurus atom-atom karbon yang ikatannya sangat stabil. Berarti plastik semacam ini tidak bisa terurai dengan mudah di tempat pembuangan sampah, dan justru bisa membentuk sampah lembaran di laut yang memberi ancaman mematikan bagi satwa.

Ada beberapa biodegradasi sederhana polietilen, namun itu sangat lambat. Misalnya, kultur cair jamur Penicillium simplicissimum bisa memecah beberapa polietilena; namun ini butuh waktu tiga bulan. Biodegradasi dengan bakteri Nocardia asteroids bahkan memakan waktu empat sampai tujuh bulan. Yang menarik, keduanya menghasilkan glikol etilen yakni senyawa yang digunakan pada banyak jenis produk antara lain minyak rem, cat, plastik dan bahkan kosmetik.

Nah, studi baru ini menggunakan larva/ulat dari ngengat yang biasa hidup di lilin/malam sarang lebah madu. Tampaknya tak ada hubungan serangga ini dengan sampah plastik. Tapi ternyata ada. Howe pun mengakui, “Temuan itu semacam kecelakaan yang menyenangkan.”

Penulis utama penelitian ini adalah Federica Bertocchini, ahli biologi perkembangan di Institute of Biomedicine and Biotechnology of Cantabria di Spanyol, yang juga peternak lebah. Bertocchini lah yang mengamati saat bahan sarang lebah yang mengandung larva ngengat dibungkus kantong plastik maka larva tersebut mengunyah plastik keras itu hingga berlubang.

Mungkinkah ulat kecil ini benar-benar memakan plastik keras yang susah didaur-ulang? Untuk mengetahui, para peneliti melepas ulat ke plastik polietilena tebal. Setelah 40 menit, ada sejumlah lubang dengan perkiraan 2,2 lubang per ulat per jam. Ketika para peneliti memasukkan kira-kira 100 ulat ke tas plastik belanjaan, 92 miligram termakan dalam waktu sekitar 12 jam. Lumayan cepat.

Tapi, apakah ulat itu hanya mengunyah plastik atau benar-benar mencernanya menjadi produk lebih sederhana? Para ilmuwan menghancurkan beberapa ulat dan menemukan 13% dari massa polietilen itu telah hilang. Tingkat degradasi 0,23 miligram per sentimeter persegi. Mereka juga menemukan adanya senyawa glikol etilen. Ini tanda bahwa sel-sel dalam tubuh ulat itu benar-benar mencerna plastiknya.

Bagaimana ulat lilin melakukannya dengan kecepatan luar biasa? Jawabannya, kata para ilmuwan, berkat diet alami ulat yang membuat rumah di sarang lebah. “Mungkin karena lilin/malam dalam sarang lebah mirip secara kimia dengan plastik,” kata Howe. “Larva itu telah berevolusi untuk bisa memecah lilin dari sarang lebah, dan juga bisa memecah plastik, mengingat kesamaan kimianya.”

Lilin sarang lebah terbuat dari berbagai macam senyawa, termasuk alkana, alkena, asam lemak dan ester. Banyak dari senyawa tersebut memiliki ikatan karbon-karbon. Ini bisa berarti larva dari ngengat di sarang lebah sudah terbiasa menghancurkannya.

Sejauh ini, para ilmuwan belum bisa memastikan apakah kemampuan ini disebabkan larva itu sendiri atau mikroba di dalam ususnya. Sebuah studi sebelumnya yang dilakukan kelompok berbeda menemukan, dua jenis bakteri yang diambil dari usus ngengat India dapat menghancurkan plastik dalam beberapa minggu (meskipun para peneliti tidak melaporkan adanya produksi glikol etilen).

Kata Howe, mengetahui makhluk mana yang benar-benar menghancurkan plastik bakal menjadi salah satu langkah selanjutnya dalam penelitian ini. “Dalam jangka panjang, kami ingin menggunakan ini sebagai dasar untuk menghancurkan limbah polietilen. Tapi, ada banyak rintangan yang harus diatasi dalam meningkatkan prosesnya. Kami coba menemukan gen untuk enzim yang bisa melakukan itu, dan menggunakan gen tersebut untuk membuat lebih banyak enzim dalam proses bioteknologi, daripada repot-repot memelihara sejumlah besar ulat.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.