Bangun Pagi

11037704_1012093745487005_284538736867897970_n

Oleh: Aditya Akbar Hakim

MEMBIASAKAN  anak-anak untuk dapat bangun pagi, sungguh bukanlah pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar anak-anak, sejak usia sedini mungkin telah terbiasa untuk dapat serta mau bangun pagi, dan untuk mencapai itu memang harus dipaksa agar anak-anak dapat bangun lebih pagi, kalau ternyata dengan cara yang lembut, malah timbul keengganan–pembangkangan dari anak-anak untuk dibangunkan di pagi buta.

Jangankan anak, bagi orang yang telah mengaku dewasa saja, kebiasaan untuk mau bangun pagi masih dianggap momok, tidak mesti mereka sanggup melakukannya dengan konsisten. Ingin bukti. Simak saja di masjid-masjid, musallah, atau langgar di kampung kita selama ini. Bagaimana saat jamaah Subuh kondisi dan keadaannya di sana? Dari kapasitas masjid yang sekian puluh, sekian ratus, dan bahkan sekian puluh ribu itu, pasti kebanyakan shaf yang terisi penuh paling notok tiga baris, sisanya kosong. Inikan jawaban telak sekaligus bukti atas susahnya kita membiaskan diri untuk bangun pagi.

Apalagi untuk seorang anak, atau ABG lah istilahnya, anak baru gede itu, malah yang terjadi bahkan jauh lebih parah. Jamaah salat Subuh itu jamaahnya yang banyak adalah para sesepuh, orang-orang yang telah lanjut usia, dan telah bau tanah, sedangkan yang masih anak-anak, ABG, dan remaja tadi, paling banter satu dua saja yang mampu meramaikan masjid pada waktu salat Subuh tersebut.

Demikian fakta yang terjadi di masjid kita. Hal itu karena bangun pagi sangat sulit dilakukan oleh orang yang masih terbersit sifat munafik dalam dirinya. Hal ini oleh Nabi Saw yang memberikan peringatan, salat yang paling berat untuk orang-orang munafik yaitu salat Isya dan Subuh. Padahal kalau merujuk pada pahala yang dijanjikan-Nya. Sungguh jika kita semua mengetahuinya, pasti akan mendatangi jamaah salat Subuh meskipun dengan cara merangkak. Demikian uraian yang pernah disabdakan Nabi Saw melalui hadisnya, yang saya jabarkan dengan bahasa sederhana.

Sekarang kembali kepada pola pembiasaan anak-anak supaya dapat bangun pagi. Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Bagaimana cara terampuh agar anak segera dapat menjadi terbiasa untuk bangun pagi?

Kalau anak telah mencapai akil baligh, sejatinya memang harus dipaksa, jika anak sampai membangkang, maka perlu tambahan dicambuk dengan pecutan cambuk yang tidak meyakitkan, tapi sebagai bentuk kasih sayang kepada anak. Setiap hari anak perlu dipaksa untuk bangun pagi, ajak anak jamaah salat Subuh ke masjid. Pilihan itu pasti tidak gampang, berat pun sudah pasti, kalau orang tua tidak sabar, dan lebih mendahulukan rasa belas kasihannya, melihat anak yang tertidur pulas begitu, pasti tidak tega jika harus membangunkannya. Buang jauh perasaan itu, karena untuk urusan mendidik anak, kadang kala perlu ada sedikit ketegaan dari orang tua, toh semua itu bakal kembali dan untuk kebaikan anak sendiri.

Apalagi melalui bangun pagi merupakan tolok indikasi seorang anak, yang nantinya bakal gampang untuk diarahkan–diajak untuk melakukan ke hal-hal lain yang lebih besar dan kompleks, apalagi bangun lebih awal–dan pagi itu diikuti pula dengan kebiasaan menjaga jamaah salat Subuh. Oh, sungguh akan terasa agak simpel jika kemudian anak-anak diarahkan ke perkara lain, yang juga menuntut kedisiplinan.

Pembetukkan karakter perilaku disiplin sendiri bagi seorang anak, salah satu cara paling ampuh adalah dengan pembiasaan yang ketat ketika mendirikan salat berjamaah lima waktu sehari. Jika jamaah salat ini baik, terjaga dengan tertib, selamanya ada komitmen untuk konsisten tidak sekadar rok-rok asem semangatnya, maka anak itu adalah calon anak yang segera cepat menjemput kesuksesannya. Anda kurang yakin? Silakan buktikan sendiri.***

Penulis adalah GTT SMA Negeri 2 Lamongan. Kadiv Penulisan Sahabat Pena Nusantara, beralamat diadityaakbarhakim@gmail.com

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.