Mengapa Lelaki Lebih Mungkin Kena Autis?

MEPNews.id – Terkait autis, anak laki-laki memang lebih banyak mengalami daripada anak perempuan. Lho, koq diskriminatif? Bukannya pilih kasih. Alasan bagi perbedaan kondisi ini diduga ada di perbedaan struktur otak. Diketahui, perempuan dengan gangguan spektrum autisme (ASD) memiliki anatomi otak mirip otak laki-laki.

Ada studi baru oleh C. Ecker C, D. S. Andrews, C. M. Gudbrandsen dan kawan-kawan yang dimuat jurnal JAMA Psychiatry. Penelitian berjudul ‘Association between the Probability of Autism Spectrum Disorder and Normative Sex-Related Phenotypic Diversity in Brain Structure’ ini dipublikasikan online di JAMA Psychiatry, 9 Februari 2017, kemudian diulas Dana Dovey dari medicaldaily.com.

Ecker menemukan, perempuan tiga kali lebih mungkin mengalami ASD jika anatomi otak mereka lebih tebal daripada area kortikal yang normal. Sifat struktur otak semacam ini lebih biasa terlihat pada laki-laki. Meski para peneliti menekankan temuan itu belum konklusif, mereka menduga bagaimana otak terstruktur membuat pria lebih mungkin kena ASD. Setidaknya, temuan ini dapat membuka pintu untuk diagnosis lebih baik dan membantu memahami penyebab autis.

“Temuan ini memberikan kredibilitas lebih bahwa biologi otak memainkan peran besar dalam pengembangan ASD,” kata Dr Matthew Lorber, direktur kedokteran anak dan psikiatri remaja di Lenox Hill Hospital, New York City, Amerika Serikat, yang tidak terlibat penelitian. “Ini juga menunjukkan, ketika mencoba mendiagnosa gangguan ASD maka masuk akal jika kita memeriksa daerah kortikal di otak.”

Untuk penelitian ini, tim peneliti memeriksa hasil scan otak atas 98 orang dewasa non-kidal yang kena ASD dengan 98 orang yang secara neurologis sehat sebagai pembanding. Scan itu khususnya memeriksa ketebalan korteks serebral, yakni lapisan luar berwarna abu-abu dari jaringan saraf di otak. Sifat menebal ini sebelumnya sering dikaitkan dengan peningkatan risiko autis.

Hasil penelitian menunjukkan, struktur otak lelaki tanpa ASD tidak berbeda daripada otak lelaki dengan gangguan tersebut. Namun, struktur otak perempuan autis lebih cenderung menebal menyerupai otak lelaki. Maka, sangat penting untuk memahami makna dari temuan ini.

Sebagai contoh, korelasi antara struktur otak dan autisme tidak bisa menjelaskan akar penyebab ASD atau memberikan pendalaman terhadap pilihan pengobatan baru. Namun, penemuan ini bisa memberi para ilmuwan tempat pijakan awal untuk penelitian lebih lanjut ke akar autisme.

“Bisa memahami perbedaan prevalensi pada laki-laki dibandingkan perempuan untuk autisme merupakan topik penelitian penting. Pemahaman ini dapat memberi informasi tentang penyebab autism dan kondisi biologi autisme,” kata Mathew Pletcher, wakil presiden dan kepala bidang penemuan genomik di lembaga Autism Speaks, yang juga tidak terlibat dalam penelitian.

Bukan pertama kalinya peneliti melihat perbedaan gender individu yang kena ASD. Sebagai contoh, penelitian yang diterbitkan pada 2015 menunjukkan perempuan autis mungkin hanya menampilkan gangguan kurang parah daripada laki-laki dengan kondisi yang sama. Para peneliti kemudian mengajukan dugaan bahwa perempuan dengan perilaku autis berulang yang kurang menonjol mungkin salah diuji atau salah diklasifikasi sebagai orang yang kena gangguan komunikasi sosial. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.